
MENCINTAI OM ASISTEN 37
Bab 37 Pilih aku atau Tante Bela
Sejak hari itu, Han semakin membatasi ruang gerak Brenda. Walau Brenda belum bisa jadi hak nya 100%, namun hati tak bisa berbohong. Ketika hati sudah mengumumkan siapa pemilik rasanya, maka saat itu juga, taka da yang boleh mendekat selain pemiliknya.
Brenda pun semakin sering menceritakan kisah bahagianya bersama Om asisten kesayangannya pada sang papa.
Mama Brenda pun sudah lebih menerima calon menantu nya. Tak jarang Mama Brenda mengundang Han untuk makan bersama di rumah sepulang bekerja.
Seperti janji janji di malam sebelumnya, Brenda berharap mala mini Han datang tepat waktu sesuai keinginannya. Sama dengan pasangan lain yang sedang kasmaran, Brenda selalu excited jika Han bersedia memenuhi undangan makan malam bersama orang tuanya.
“Ma, kok Om belum datang sih, ini kan udah mau jam tujuh.” Brenda yang sudah memoles tipis wajahnya, mulai masang wajah cemberut menunggu pujaan hati yang tak kunjung datang.
“Tunggu dong sayang, Mama tahu deh yang lagi kasmaran, kangen terus.”
“Ah Mama kayak gak pernah muda aja deh.”
“Iya deh tahu, yang sudah gak sabar mau ketemu kekasih.” Ledek sang Papa.
“Papa jangan ledekin aku terus dong, aku kan malu.”
“Ya sudah coba kamu telepon saja Om kesayangan kamu itu. Lagian kamu nih kenapa gak di rubah sih panggilannya. Nanti dikira pacaran sama Om Om loh.” Kata Mama Brenda menyarankan.
“Habis mau panggil apalagi Ma, kan lidah aku udah terbiasa aja manggil Om asisten. Nanti kalau panggilannya di rubah rasanya jadi beda lagi dong Ma.”
__ADS_1
Bosan menunggu, akhirnya Brenda menyerah dan memutuskan untuk menelpon laki laki dewasa yang tak kunjung batang hidungnya sejak tadi.
“Halo Om, Om udah dimana? Mama sama Papa udah nungguin nih dari tadi. Om gak lupa mau makan disini kan?” Begitu panggilan terhubung Brenda langsung menyemburkan ragam pertanyaan.
“Sebentar, sebentar lagi saya jalan ya, kamu makan saja dulu, titip salam buat Papa dan Mama kamu ya.”
Han mematikan sambungan telepon takut Brenda salah paham jika mendengar suara Bela di ujung sana.
“Aneh deh Om, main matiin aja telepon nya. Ma, Pa, kita disuruh makan duluan, kayaknya Om ada urusan yang gak bisa di tunda jadi mungkin telat dateng kesini.” Walau menelan kecewanya, Brenda tetap mengajak orang tuanya makan.
Tepat setelah Brenda menghabiskan makannya, muncul notifikasi pesan suara dari nomor Om asisten kesayangan.
“Aduh, pelan pelan dong Love, kamu nih, kan sakit. Ahh, sakit gak sayang? Tahan ya, sebentar lagi. Sebentar lagi selesai, tahan ya sayang.”pesan suara itu memperjelas alasan Han tidak bisa langsung datang saat ini, karena sedang sibuk menghabiskan waktu bersama seseorang.
Brenda kemudian melakukan panggilan lagi ke nomor Han, begitu mendengar suara maskulin di seberang sana, segera gadis itu menyemburkan ragam pertanyaan.
“Om, sibuk apa sih sampai gak bisa dateng kesini. Om lagi ngapain sama siapa dan dimana sebenernya? Om jujur sama aku sekarang, coba aku mau lihat, sekarang tolong ubah panggilan nya jadi video.”
“Iya iya Brenda, sabar ya sebentar lagi.”
“Om apa sih yang Om sembunyiin dari aku, sekarang ubah jadi video, kalau tidak..”
“Iya ini sudah, saya sedang obatin luka anaknya tante Rita. Tadi Cyntia jatuh di taman belakang.”
“Tapi tadi ada suara Tante Bela kayaknya.”
__ADS_1
“Suara Bela?”
“Halo Brenda sayang, ih kamu tau aja ada aku disini. Aku lagi temenin Han dan Cyntia nih dari tadi siang aku main sama Cyntia. Tadi Cyntia dan aku melepas rindu terus kami main sampai puas, makanya sekarang aku mau sama Han mau temenin Cyntia dulu, gak papa kan?” dengan tak tahu diri tanpa malu, Bela mengucapkan itu semua.
Karena tak kuasa menahan geram, Brenda yang merasa kecolongan kali ini memutuskan panggilannya duluan. Untuk ke sekian kali nya Brenda merasa di bakar hidup hidup oleh rasa cemburunya. Entah sejak kapan Ia menjadi sosok pencemburu untuk Om asisten nya.
Walau Han sudah menjelaskan perasaan nya kini terhadap Brenda berbeda dengan Bela yang hanya masa lalu, namun tidak ada kucing yang menolak di suguhi ikan goreng. Walau sekedar ikan goreng sisa kemarin.
Beberapa kali panggilan dari Han tidak di gubrisnya, sampai akhirnya Han memilih untuk mengirimkan pesan singkat pada Brenda.
“Brenda, kamu marah sama saya? Ini Cyntia lagi manja banget gak mau di tinggal, sorry yah.”
“Brenda, kamu jangan marah terus dong. Iya saya salah tadi gak cerita kalau bela main disini sejak siang bersama Cyntia. Maklum Cyntia dulu dekat sekali dengan Bela. Pelan pelan saya akan jelaskan ke Cyntia soal Bela.”
“Gak perlu Om. Aku jujur cuma kecewa aja sama Om yang gak kasih tahu bahwa lagi sibuk sama Cyntia dan Tante Bela disana.”
“Sudah jangan cemberut lagi, besok aku janji akan berikan ganti rugi ya. Smile.”
Brenda kini merasa kecolongan lagi, walau bagaimanapun Bela memang menang satu langkah di depan di banding dirinya. Bela lebih dulu mengenal Han, memiliki tempat khusus di hati Han dan di hati Cyntia, maupun Tante Rita.
‘Sebenarnya Om pilih aku atau Tante Bela sih?’
Lelah dengan pemikirannya, Brenda tertidur.
__ADS_1