MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 77


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 77


Bab 76 Mimpi buruk atau mimpi indah


Semburat cahaya matahari menyilaukan penghuni kamar hotel sepasang ayah dan anak itu.


 


“Pagi Pa.”


 


“Pagi Brenda anak kesayangan papa, gimana tidur kamu semalam, seperti nya nyenyak dan mimpi indah ya?”


“Kok Papa tahu?”


“Yah kan habis di cium pangeran? Uhukk Uhukk.”


“Papa, jangan ngeledek aku, nanti keselek beneran loh.” Ujar Brenda dengan rona merah di pipi menyembul ke permukaan.

__ADS_1


“Brenda, papa mau bicara dengan kamu. Mengenai hubungan kamu dengan Han, papa sudah putuskan.”


Pak Yanto memberi jeda sejenak sembari menunggu reaksi dari sang putri.


“Maksud Papa? Tapi aku memutuskan datang kesini justru untuk ….”


“Brenda…”


“Pa, aku cinta sama Om asisten.”


“Brenda, dengarkan papa.”


“Pa, kami saling mencintai.” Gadis manis yang baru saja mereguk indahnya kejujuran hati nya bersama sang pangeran semalam, pagi ini harus kembali menelan kecewa.


“Maaf Brenda, kalau bisa papa pasti akan selalu mengabulkan permintaanmu. Seandainya kali ini boleh pun, akan ada Ibu Bela sebagai bayang bayang masa lalu Han diantara hubungan kalian. Kalau saja papa tahu sejak awal, papa tidak akan menjodohkan kamu dengan Han. Kamu itu putri kesayangan papa satu satu nya. Kamu terbiasa dengan kisah manis dalam hidupmu. Kamu tidak akan sanggup Nak.”


“Tapi Pa….semalam kami ….”


“Brenda, papa sudah putuskan untuk membatalkan saja perjodohan kalian. Ini yang terbaik untuk kita semua.”

__ADS_1


“Papa, Brenda datang kesini untuk memperjelas semua nya Pa. Tapi mendengar kata kata papa barusan, itu artinya benar semua sudah jelas. Tak mendapatkan dukungan dari papa, akan membuat semua nya jauh lebih sulit Pa. Tadi nya aku pikir, jika aku mendapat dukungan dari papa aku akan kuat untuk memperjangkan hubungan ini bersama sama.”


Brenda menangis dalam diam. Semakin di peluk semakin sedih terasa menggigit hati nya.


“Jangan menangis Nak. Papa minta maaf, papa tahu papa sudah melukai mu. Papa yang salah.”


“Tidak Pa. Aku menangis karena akhirnya setelah aku memantapkan hati untuk memperjuangkan cintaku, kini cinta itu sudah tak bisa di perjuangkan.”


“Brenda…” Pak Yanto, menggantungkan kata kata nya dan menekuk lututnya susah payah.


“Papa sakit dan harus mengoborbankan mu, papa benar benar minta maaf. Papa minta maaf Nak.”


“Papa jangan begini, ayo bangun.” Brenda membangunkan papa nya yang berlutut berjongkok di hadapan putri kesayangannya dan mohon ampun. Pak Yanto merasa hubungan putri nya dengan Han memang terkena imbas dari permasalahan yang terjadi dari perusahaannya.


“Papa jangan menyalahkan diri papa sendiri. Aku bisa seperti sekarang pun itu berkat papa dan mama yang selalu sayang padaku. Maaf Pa, kalau tadi permintaan aku begitu egois.”


“Nak, ketahuilah, selain dirimu, Ibu Bela sudah berjasa untuk kita, untuk perusahaan kita, hidup kita, dan ratusan nyawa yang menggantungkan hidupnya di perusahaan kita.”


“Ya Pa, aku tahu. Aku hanya sedikit menyesal karena tak memperjuangkan cinta ini sejak awal. Aku terlalu cepat menyerah pada keadaan.”

__ADS_1


“Nak, Papa sudah bicarakan ini semalam dengan Han. Papa sudah minta dia untuk ikhlas membatalkan perjodohan kalian. Papa minta Han bisa menyelesaikan masa lalu nya dulu dengan Bela. Jika setelah itu Han ingin mengejar cintanya, itu urusan dia.”


“Maksud Papa?” Brenda seperti terjerat dalam mimpi yang taka da habisnya. Entah mimpi buruk atau mimpi indah pada akhirnya.


__ADS_2