
MENCINTAI OM ASISTEN 80
Bab 80 Kembali bertemu
Seperti semua mahasiswa lainnya, tiga dara cantik ya terdiri dari Brenda, Daniah, Melia bersorak gembira. Rencananya siang ini mereka bertiga akan melepas rindu karena lama tidak bertemu dengan nongkrong di mall.
Brenda merasakan hari harinya kembali lagi seperti dulu. Sebelum mengenal cinta itu apa, seberapa sakit dan rumitnya.
“Brenda.”
Han menyambangi Brenda ke kampus, melepas kacamata hitamnya dan menjadi pusat perhatian para gadis.
“Brend, elu bilang kalian udah end kan? Jadi boleh dong kalau gue …” Daniah menggantungkan kalimatnya, seraya melempar kerlingan mata genit pada Han.
“Om, ada perlu apa sampai datang ke kampus?” tanya Brenda. Gadis manis yang terakhir di temuinya berlinang air mata sudah taka da lagi. Kini Brenda sudah membuktikan bahwa dirinya berusaha kuat menghadapi fase kehidupan. Tidak ada pilihan lain selain menjalani hidup ini.
“Brenda, boleh saya minta waktunya sebentar?”
Brenda menatapnya herna, entah apalagi yang harus dibicarakan, sejujurnya kalau boleh memilih Brenda tak ingin lagi bertemu dengan Om asisten kesayangannya, setelah perjodohan mereka batal dilanjutkan.
Ya, Brenda butuh membenahi hatinya, yang terlajur kacau balau tak karuan karena jatuh dalam cinta yang salah.
“Om, aku rasa … tak ada lagi yang perlu dibicarakan, semua sudah jelas dan berakhir.”
“Brenda, ini tentang Bela.”
“Om …”
__ADS_1
“Hemm, roman romannya gagal maning nih ke mall.” Celetuk Melia.
“Iya nih Mel, daripada kita jadi obat nyamuk, kita pergi dulu yuk.” Ajak Daniah.
“Terima kasih atas pengertiannya, nanti saya akan mengganti kerugian kalian.” Kata Han. Sontak dua gadis itu merengut dan tak berani bertanya lebih lanjut.
“Om, disini saja, aku harus menyusul temanku.” Suasana hati Brenda yang tadinya sudah tenang harus kembali terusik. Ya, walau raga saling menjauh, hati tak bisa ditebak dan diatur sekalipun oleh pemiliknya. Sampai saat ini cinta Brenda pada Han masih sama, begitu menyakitkan.
“Brenda, ikutlah, saya janji tidak akan lama.” Seperti biasanya Han langsung menggandeng jemari Brenda. Ada desiran hangat kala tangan Han kembali menyentuh jemarinya yang sudah berhari hari dibiarkan kosong seperti hatinya.
“Om, maaf nanti gak enak diliat teman temanku. Aku ikutin Om dari belakang.”
Nyatanya bukan hanya Brenda yang merasakan sakit karena cinta yang mereka hadapi, Han juga. Saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan dulu urusannya dengan Bela. Mungkin setelah itu, Tuhan akan berbaik hati memberikan kesempatan kedua mengejar cinta Brenda.
Sepanjang perjalanan Brenda hanya diam menatap jendela. Gadis manis itu kembali cemberut, dirundung rindu menggebu tapi tak bisa melampiaskan. Brenda membiarkan matanya menutup sejenak.
“Hemm, Om ini dimana?” tanya Brenda sembari membetulkan posisi duduknya, mencari tahu keberadaan mereka saat ini.
“Ayo kita turun, saya ingin membawa kamu menemui seseorang.”
Seperti biasa Han membukakan pintu untuk Brenda kemudian menggandeng tangan Brenda menyurusi koridor rumah sakit yang siang itu tampak ramai pengunjung.
Sambil menerima telepon dari seseorang, Han terus mengarahkan Brenda menuju salah satu ruangan dilorong rumah sakit.
Brukk
__ADS_1
“Aww, sakit.” Saking serius berbincang dengan sang penelpon di seberang sana, Han tidak memperhatikan langkah Brenda yang harus mengimbangi langkah dirinya.
“Brenda, ka-kamu tidak apa apa? Maaf, maafkan saya.” Han hendak membantu Brenda berdiri. Namun Han harus menelan kecewa ketika Brenda menyambut uluran tangan pria berjas yang tadi menabraknya.
“Kamu lagi? Maaf, saya tidak sengaja. Mari saya bantu.”
“Om?”
“Om? Apa saya setua itu?”
“Ma-maksud saya Mas.”
“Nah begitu lebih baik.”
“Ehem.” Han berdehem menyuarakan hatinya yang sudah ingin menjerit tak rela. Baru beberapa hari Ia dan Brenda menjauh, tapi Brenda sudah ada yang mendekati.
Berjalan kembali menyusuri lorong, Han yng tak bisa menahan rasa penasarannya, hendak mencari tahu perihal laki laki tadi yang bertabrakan dengan Brenda.
“Brenda, kamu kenal laki laki tadi?”
“Gak sih Om, aku hanya pernah ketemu waktu itu satu kali, ketika papa sakit.”
“Kalian saling ngobrol?”
“Gak juga, hanya menyapa biasa, bahkan kami belum berkenalan.”
“Jadi kamu mau kenalan sama cowo tadi?”
__ADS_1
“Ya kalau ada kesempatan boleh.” Brenda menjawab santai.
Han melepaskan genggamannya lalu meninggalkan Brenda dengan hati yansg sudah dilanda emosi. Ya, cemburu bisa dikatakan begitu.