
MENCINTAI OM ASISTEN 34
Bab 34 Harus tunangan
Setiba nya di rumah, Brenda bergegas ke kamarnya. Membersihkan diri dan beristirahat sesuai perintah Mama nya. Ia tak berani membantah ataupun menawar nawar. Toh sementara ini kantor agency nya juga tutup dan jadwal kuliah baru ada lagi minggu depan.
“Brenda, papa kasih waktu kamu istirahat, jangan coba coba kabur lagi dan sore nanti kita akan bicarakan pertunangan kamu dengan Han segera.”
“Iya Pak.” Jawab Brenda pelan nyaris tak terdengar bahkan tak berani menatap wajah sang papa.
Gadis itu kemudian masuk ke kamar dan menenggelamkan diri di dalamnya tanpa suara.
Menghabisakan waktu sepanjang siang di ruang kerja, Papa Brenda memilih bekerja dari rumah dan tak mau kecolongan lagi.
Sementara Mama Brenda membuatkan air jahe dengan perasan jeruk lemon untuk menetralkan pengaruh alkohol di tubuh sang putri. Membiarkan nya terlelap sementara wanita paruh baya itu mengusap punggung putri nya. Tak terasa butiran bening itu lulus juga dari tempatnya.
Mama Brenda sedang mengurai kisah perjalanan kehidupan yang sudah bertahun tahun ini mereka lalui. Rencana sang Papa sudah tak bisa di tolak dan mungkin saja tak lama lagi, Ia akan melihat putri kesayangannya di atas pelaminan. Kisah yang mengharukan, Brenda, bayi mungil yang di temukan di bawah pohon tengah malam buta begitu mengundang perhatian warga sekampung. Sampai akhirnya Ia dan sang suami sepakat pindah ke kota, membawa bayi nya, hingga sampai sekarang mereka bertiga bertahan hidup dan bersama.
Sore pun tiba, Brenda memilih untuk menghabiskan waktu di dapur menempel dengan sang mama. Dari membantu membuat kue untuk sajian tamu nanti malam, sampai membuat masakan khas jawa untuk acara pertemuan dengan calon suami nya nanti.
“Ma, ini sudah saat nya Papa tahu yang sebenarnya. Nanti malam aku akan ceritakan semua nya sama Papa.”
__ADS_1
“Tapi Nak, nanti kalau papap tambah marah karena selama ini kamu bohong soal kerjaan kamu gimana?”
“Yah mau gimana lagi Ma, aku harus jujur kali ini sama Papa, aku gak mau Om asisten jadi sasaran papa lagi. Kasian Om Ma, Om asisten gak salah, dia nolongin aku berkali kali. Dan itu nunjukkin seberapa dia sosok yang pantas untuk di kagumi Ma. Om asisten itu menurut aku baik Ma, dia sosok pelindung dan penyayang.”
“Hemmm, ada yang udah ke sem sem nih kayanya sama om ganteng nya. Puji terus sampe orang nya dateng tuh.”
“Apaan sih Mama, bikin aku malu aja.”
Brenda mebelalakkan mata nya saat tahu bahwa om pujaan hati nya yang menjadi perbincangan tengah mendengarkan percakapannya dengan sang mama.
“Om, kapan datengnya? Om nguping pembicaraan aku sama mama ya?”
“Halo Brenda. Hari ini sesuai janji dengan Papa kamu, saya dateng tepat waktu, saya gak mau kecolongan lagi.”
“Karena Rita dan Han sudah datang, ayo kita makan dulu semua. Mama nya Brenda sudah masak banyak. Silahkan.” Semarah marahnya Pak Yanto, dia tetap menjamu tamu nya dengan sopan dan baik.
Setelah selesai, kini mereka semua berkumpul di halaman belakang. Semilir angin malam membawa Brenda pada kebimbangan akan keputusannya.
‘Mungkin setelah acara pertemuan malam ini, Papa akan mengumumkan tanggal pernikahan aku dan Om. Apalagi Papa sudah sangat marah sama aku. Aku bisa apa kalau Papa sudah memaksa.” Gadis itu menggigit bibir bawahnya sembari melempar beberapa makanan ikan ke kolam.
“Rita, begini. Mengenai kejadian kemarin malam. Saya rasa kamu juga sudah mengetahui kalau putri saya menginap di apartemen berdua dengan Han. Menurut saya hal ini tidak etis, sepasang anak muda berdua dalam satu atap tanpa pengawasan dan izin dari orang tuanya. Walau pun saya memang berniat menjodohkan putra putri kita, tapi alangkah baiknya semua berjalan sesuai proses.”
__ADS_1
“Mas Yanto, Mbak Desi, saya benar benar minta maaf atas kejadian semalam. Semua di luar kendali kami. Han sudah menceritakan semua secara rinci pada saya. Saya sebagai perwakilan dari orang tua Han, menyatakan secara tegas bahwa kami akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk Brenda. Tapi yang perlu Mas dan Mbak ketahui, bahwa malam itu Han sudah bersumpah bahwa tidak terjadi apa apa antara mereka berdua. Untuk alasan mengapa Brenda memakai kaos milik Han, karena kamar saya memang saya kunci. Malam itu saya terpaksa menginap di rumah sakit. Kondisi anak saya tidak stabil. Awalnya saya sudah menolak ketika Han menawarkan bantuan untuk mengantarkan saya dan putri saya ke rumah sakit. Karena saya tahu Han ada janji bertemu dengan Brenda. Tapi putri saya muntah terus dan sampai pingsan, jadi akhirnya Han tidak tega dan memaksa untuk mengantarkan kami dulu. Semua ini murni kesalah pahaman dan untuk itu saya mohon maafkan keponakan saya Mas, Mbak.” Air mata Rita luluh membasahi pipi.
“Apa benar begitu Han?”
“Benar Pak. Malam itu tidak terjadi apa apa antara saya dengan Brenda. Brenda memang memakai kaos saya karena pakaiannya sudah basah. Brenda tidur di kamar, sementara saya tidur di sofa.”
Brenda hanya bisa menunduk mendengarkan cerita demi cerita yang di bongkar perlahan oleh Han.
“Saya percaya kamu Han.” Rona kelegaan merayap perlahan di wajah Tante Rita dan Han.
“Tetapi Han dan Brenda harus tetap bertunangan segera. Saya butuh sosok pelindung untuk Brenda. Saya juga butuh seseorang yang bisa menjaga Brenda dan menuntun nya ke arah yang lebih baik. Dan untuk kamu Brenda, Papa begini bukan karena Papa marah sama kamu, tapi Papa tidak mau kamu kenapa napa. Papa takut terjadi hal buruk sama kamu. Kamu mengerti?”
“Mengerti Pa.”
“Jadi kamu setuju kan untuk bertunangan sama Han?”
“Setuju Pa.”
“Setuju Pak.”
Jawab Han dan Brenda bersamaan. Brenda mengangkat pandangannya mencari sosok yang tiba tiba mantap mengucapkan setuju untuk bertunangan dengan dirinya. Mata mereka saling beradu beberapa detik dan rona merah kembali menjalar di sekujur wajah gadis manis itu.
__ADS_1
“Baik, kalau begitu kita tinggal menentukan waktu yang tepat untuk kalian meresmikan hubungan.”