MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 10


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 10


Bab 10 Hari pertama bekerja


Hari pertama melakukan sesi foto bersama para photographer membuat Brenda salah tingkah.


“Brenda, kamu tuh kaku banget sih. Santai please.” Hardik Mas Tio yang sejak awal ikut hadir disana menyaksikan anak didik baru nya.


“Ya mas.”


“Pagi Mas Tio.” Wety yang baru datang pun menyapa sang manager.


“Wet, tolong kamu ajarin temen kamu nih biar bisa luwes dikit. Kacau kaku banget.”


“Oh oke mas, kamu mending ngopi dulu deh sana, nanti Brenda biar aku yang urus. Lagian anak itu baru hari pertama loh mas, kamu jangan buru buruin juga donk.”

__ADS_1


“Iya gue juga tau Wet, tapi jangan begini juga kali. Lu tau kan dia tu gantiin Marissa Claire. Dunia udah nunggu.” Tio kemudian keluar dari ruang pemoretan dan menyerahkan Brenda agar bisa di berikan arahan oleh Wety.


Akhirnya Brenda mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.


“Brenda, kamu gak usah pikirin kata kata Mas Tio barusan ya, jadikan itu sebagai cambuk untuk diri kita. Biar kita lebih semangat lagi belajar ke depannya.”


“Iya Kak.” Brenda hanya menunduk dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.


Jujur Ia merasa tak nyaman dengan pakaian nya saat ini. Bukan kurang bahan lagi, bisa di katakan Ia dipaksa hanya memakai pakaian dalam saja. Ya hampir seperti itu megerikannya. Raut wajah dan gerak gerik pun di tuntut menikmati.


Ingin rasanya gadis itu membatalkan kontrak kerjasama nya dengan agency, namun Ia harus membayar denda seratus juta jika membatalkan secara sepihak. Karena semua sudah jelas di awal, Mas Tio sudah memberikan kesempatan pada diri nya untuk membaca dan mengerti seluruh isi kontrak.


“Ya, ada apa?”


“Tadi kata Mas Tio, aku harus gantiin Marissa Claire? Hemm, i-itu bukannya model sexi yang mati bunuh diri belum lama ini?”

__ADS_1


“Oh itu, iya, jadi sebenernya agency kita ini memang lagi mencari model pengganti yang memiliki bakat setara dengan Marissa Claire. Marissa itu sebenarnya bukan bunuh diri, dia itu over dosis obat penenang say. Ica adalah yang paling berbakat, dia model kesayangan Mas Tio. Marissa meraih suksesnya dalam waktu paling singkat diantara model model senior lainnya. Marissa itu hidupnya penuh tekanan. Persis seperti kamu, Marissa memiliki cita cita dan harapan sangat tinggi menjadi seorang model professional. Marissa memutuskan jadi seorang model majalah pria dewasa di usianya dua puluh tahun. Baru beberapa bulan saja, Marissa sudah membuat agency kita go internasional. Tapi orang tua Marissa selalu memaksakan kehendaknya agar Marissa selalu jadi nomor satu dalam hal apapun. Prestasi belajar di kampus maupun prestasi di dunia modeling. Marissa seorang pekerja keras yang aku tahu, tapi itu tak pernah menjadi tolak ukur kecukupan bagi oang tua Marissa. Orang tuanya selalu membanding bandingkan Marissa dengan adik nya yaitu Clarissa. Prestasi Clarissa dan Marissa tidak jauh beda. Terkadang Clarissa dan Marissa saling berebut posisi nomor satu.”


“Oh gitu ya, kalua Clarissa itu …apa dia juga…apa dia sudah ….”


“Clarissa masih hidup, tapi dia sangat terpukul dengan kematian Kakak nya Marissa, membuat Clarissa memutuskan pindah ke New York. Clarissa menganggap jika Marissa sudah tidak lagi ada, untuk apa dia melanjutkan karir modelingnya. Clarissa adalah seorang pejuang yang selalu tertantang untuk bersaing. Wanita penuh ambisi.”


Setelah bercerta panjang lebar, Brenda harus mulai take foto lagi. Sampai akhirnya am keranya untuk hari ini sudah selesai. Glenca buru buru mengganti kostum nya dan tak sengaja mendengr percakapan antara Kak Wety dan Mas Tio.


“Bukan gitu Wet maksud gue, gue pengen agency kita kaya dulu lagi. Majalah kita bisa go internasional lagi. Punya nama, punya sesuatu yang bisa di banggain. Jujur gue gak pernah ngerasa pilih kasih kok. Marissa dan Clarissa itu sama dengan kalian.”


“Beda Mas, kamu itu cuma ngeliat Marissa dan Clarissa, kita kita tuh nothing. Mas, kita itu kerja siang malam, sama sama berusaha untuk agency ini supaya bisa go internasional lagi kaya dulu, saat anak emas kamu masih ada disini. Jadi aku harap kamu bisa bersikap adil terhadap semua anak didik kamu disini mas.”


“Wet, elu sekarang kenapa jadi banyak protes sih. Mendingan elu ajarin deh tuh anak baru. Kesel gue liatnya kaku banget.”


“Maklum lah Mas, aku kan udah pernah cerita, dia itu anak manja banget. Ini aja daftar jadi model ngumpet dari papa nya. Kamu sabar aja, aku janji akan ajarin dia biar bisa professional ya.”

__ADS_1


 Setelah itu mendadak ruangan menjadi senyap, membuat Brenda penasaran apa yang terjadi selanjutnya di dalam. Dua insan saling memeluk, menyentuh, mengecup, meraba. Ciuman panas yang seharusnya tak pantas terlihat di tempat umum. Bagi Glenca pemandangan seperti ini adalah hal tabuh.


Dengan hati hati Brenda memundurkan langkahnya menuju toilet, melanjutkan aktivitas berganti pakaian. Napas nya memburu, entah karena tontonan vulgar barusan, gadis muda itu jadi malu sendiri.


__ADS_2