
MENCINTAI OM ASISTEN 42
Bab 42 Tante Bela hamil
Bermuram durja itulah yang bisa dilakukan Brenda saat ini. Walau Mama nya tak ikut kali ini dalam perjalanan bisnis ke Bali, namun Om asisten kesayangan harus ikut menemani sang papa. Sang papa terpaksa tak memberikan izin untuk Brenda ikut serta ke Bali, hal ini semata mata dilakukan Papa Brenda demi menjaga nilai nilai pelajaran agar Brenda tetap fokus dan bisa memanfaatkan beasiswa dengan baik.
Papa Brenda sengaja memilih penerbangan terakhir demi menghibur putrinya yang bersedih karena tak bisa ikut ke Bali.
"Papa, yakin tega nih ninggalin aku sama mama dirumah."
"Papa sih gak tega sebenernya, tapi kamu harus sekolah. Ingat absensi juga mempengaruhi nilai akhir Nak, nanti beasiswa kamu bisa dicabut kalau kamu bolos."
"Om, ingat jangan macam macam. Jangan sembarangan melirik kanan kiri."
Brenda bergantian memeluk Papa nya dan Om asisten. Dengan segala bujuk rayu, gadis itu tetap merengut manja.
"Sudah jangan cemberut, nanti timbul keriput cinta saya berkurang." Candaan Han sukses membuat gadis muda yang tengah cemberut semakin cemberut.
Akhirnya tiba waktu Han dan Pak Yanto harus meninggalkan kebersamaan mereka bersama wanita nya masing masing. Dua laki laki beda generasi itu pergi dengan lambaian tangan. Baru saja Brenda melangkahkan kakinya ke dalam rumah, terdengar bunyi klakson lagi di luar.
"Ma, jangan jangan Papa dan Om berubah pikiran dan mau mengajak kita." Dengan langkah girang Brenda menyambut ke depan. Namun bukan Han yang didapat melainkan Bela.
Petang itu Bela datang dengan senyuman sejuta arti dan satu keranjang buah di tangan.
"Selamat sore Brenda. Apakah saya mengganggu jika bertamu?"
"Tante mau apalagi?"
"Saya hanya ingin silahturahmi sekalian minta maaf atas pertemuan kita beberapa waktu lalu. Saya tahu kamu pasti berpikir yang buruk tentang saya. Percayalah, saya wanita kamu juga wanita kita selalu mengedepankan hati untuk bicara."
"Brenda, siapa yang datang?" Teriak mama Brenda dari dalam rumah.
"Brenda, tamunya kok gak diajak masuk Nak?”
“Itu Mama kamu ya, sekalian ini saya mau memberikan buah buahan untuk Mama kamu. Anggap saja permintaan maafku sudah sempat membuat sedih anak gadisnya.” Bela tersenyum tulus mengulurkan tangannya menyentuh bahu Brenda.
__ADS_1
“Halo, silahkan masuk. Ayo mengobrol di dalam.”
Mama Brenda yang belum mengenal Bela sebagai mantan kekasih calon menantu nya, mempersilahkan wanita cantik itu masuk.
“Selamat malam Bu, maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Saya hanya ingin silahturahmi dan maksud kedatangan saya kesini untuk meminta maaf pada Brenda.”
“Minta maaf?” Mama Brenda semakin bingung.
“Iya Bu, beberapa waktu lalu, saya sempat terlibat sedikit cekcok dengan putri Ibu. Makanya mala mini saya rasa waktu yang tepat untuk menjelaskan apa tujuan saya mendekati Brenda. Saya hanya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Brenda, itu saja Bu. Ah ini saya juga bawa buah buahan. Silahkan Bu.”
“Oh iya, tidak perlu repot repot Nak….” Mama Brenda menggantungkan kalimatnya.
“Bela, saya Bela Aninditya.”
“Oh ya Nak Bela, seharusnya tidak perlu repot repot. Sebenarnya kalau boleh Ibu tahu, ada masalah apa antara Nak Bela dan Brenda putri Ibu?”
Sejak tadi Brenda sudah siap siaga menghadapi Bela. Rencana apa yang sedang ada dalam benak wanita licik di hadapannya kini tak terteba sama sekali. Selain raut ketulusan, jujur Brenda tak bisa menangkap maksud lain.
“Tante, sebenarnya maksud kedatangan Tante kesini tuh apa?”
“Ma, Tante Bela ini bukan temanku, dia itu masa lalu Om asisten, calon suami ku.” Brenda menatap sinis pada Bela.
“Mantan kekasih?” tanya Mama Brenda ke Bela.
“Kami pernah bertunangan dulu Bu. Maaf kalau saya akhirnya harus jujur kepada kalian semua soal ini.” Bela menyerahkan benda panjang sejari dan pipih. Alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua warna merah.
“Apa ini maksudnya Nak Bela?”
“Saya hamil Bu. Itu calon anak saya. Saya tidak ada maksud apa apa dengan menunjukkan ini, saya ingin membuka mata kalian sebelum bertindak lebih jauh.”
“Apa ini anak Nak Bela dan Nak Han begitu maksudnya?” tanya Mama Brenda yang mulai merenggut.
Mata Brenda membelalak, menghembuskan napas nya kasar. Berusaha berpikir jernih dan mencerna setiap penjelasan demi penjelasan yang keluar dari mulut Bela.
“Jawab Nak Bela, ini apakah anak dari Nak Bela dan Han?” desak Mama Brenda.
__ADS_1
“Ini anak saya Bu. Karena papa nya tidak mau mengakui nya. Masa lalu Han memang milik saya, tapi masa depannya milik Brenda. Saya akui saya pernah melakukan kesalahan terbesar dengan meninggalkan Han tujuh tahun lalu. Saya memilih menikah dengan laki laki lain. Demi harta dan pencapaian saya. Saya sadar, kesalahan saya di masa lalu tak pantas di maafkan. Maka dari itu saya pun akan merelakan Han mulai hari ini. Saya tidak akan mengganggu lagi hubungan Han dan Brenda. Saya benar benar minta maaf, jika kemarin di pertemuan kami, saya sempat terlena dengan kisah masa lalu. Anggap saja, saya wanita bodoh yang sempat berharap pada masa lalu yang nyatanya tak mungkin saya jadikan masa depan.”
“Kapan kalian melakukannya? Jawab Tante, kapan?” Brenda mulai berteriak dengan air mata yang sudah menganak sungai. Gadis itu masih berusaha tegar, berusaha kuat demi orang tuanya.
Dulu dengan tegas Ia menolak perjodohan nya dengan Han, namun sang papa terus mendesak. Sampai akhirnya Ia memilih berdamai dengan keadaan dimana kini rasa itu mulai datang. Rasa indah dan sakit yang datang bersamaan yang di namakan cinta.
“Tante hamil anak Om asisten?” Brenda masih tak percaya dan menangis menunduk berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
“Brenda maaf. Maaf. Maaf, saya hanya wanita. Saya pernah berada di posisi kamu saat ini. Sebagai wanita satu satu nya yang paling dicintai oleh Han. Saya begitu bodoh terbuai dengan segala kenangan manis yang masih begitu membekas diantara kami. Saya bahkan rela menyerahkan mahkota paling berharga. Selama memang pernah menikah dulu. Kalian tahu, saya menikah demi harta dan pencapaian yang mungkin terdengar tak masuk akal bagi kalian. Saya menderita kanker serviks. Suatu hari disaat saya dan Han bertunangan, saya merasa ada hal aneh yang terjadi pada perut saya. Belakangan saya memang berkli kali merasakan kesakitan di perut saya. Sampai saya memberanikan diri untuk periksa ke dokter kandungan. Saya menderita penyakit kanker serviks stadium dua.”
“Saat itu saya merasa harapan hidup saya sudah tidak ada. Hancur, pasti. Itu yang saya rasakan saat itu. Hingga suatu malam orang tua saya mengajak saya untuk periksa ke dokter kandungan terkenal di kota Surabaya. Kemudian disana saya di berikan penyuluhan mengenai penyakit kanker. Dari situ saya merasa hidup saya masih ada harapan walau sedikit. Saya ingin berjuang demi cinta saya pada Han. Karena biaya pengobatan sangat besar, maka orang tua saya berinisiatif untuk menjodohkan saya dengan seorang duda kaya raya. Beruntung demi alasan kesehatan saya bisa selalu menghindar dari hubungan suami istri dengan mantan suami saya.” Cerita Bela dengan berurai air mata membasahi pipi.
“Sampai mantan suami saya meninggal akibat kecelakaan pesawat, saya tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Dan….dan….ini yang pertama kali nya buat saya. Sekali lagi maafkan saya. Anggap saja saya wanita bodoh yang sempat mengharapkan masa lalu. Saya memang bodoh.”
“Cukup Tante. Kita sama sama wanita. Sejak tante datang kembali ke kehidupan Om asisten, jujur saya pun begitu takut. Saya sangat takut hati Om masih menyuarakn nama Tante. Beberapa hari lalu Om asisten memberikan cincin ada ku, Om juga menyatakan perasaannya pada ku. Aku merasa hari itu hari yang sungguh luar biasa. Aku jatuh cinta dan aku mantap melangkah ke jenjang pernikahan bersama Om asisten ku.” Brenda berjeda sejenak dan menangis sesenggukan. Begitu juga dengan sang Mama.
“Brenda sayang…..”
“Tapi aku wanita. Seperti yang tante pernah bilang ke aku, kita sebagai wanita selalu menggunakan hati untuk mengambil keputusan atau melangkah.”
“Brenda, saya tidak bermaksud untuk membuat hubungan kamu dan Han menjadi…..”
“Tidak Tante. Justru saya mau berterima kasih tante sudah membuka sebuah rahasia yang mungkin akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidup saya jika anak tante lahir tanpa memiliki papa nya.”
Menahan kesakitannya, kesedihannya yang entah dimulai sejak kapan, gadis itu berusaha tetap tegar.
“Aku memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini Ma. Om asisten ku memiliki kisah yang belum selesai dengan masa lalu nya. Bahkan Om membuat kisah nya tak akan pernah selesai. Maka dari itu, aku tak akan pernah memulai untuk kisah yang baru bersamanya.”
“Brenda….” Kata Mama berlinangan air mata.
“Aku menyerah Ma. Mungkin kali ini Papa salah.”
“Maaf Brenda, saya benar benar tidak bermaksud….”
“Tante, ini bukan salah tante. Aku rasa wanita mana pun akan melakukan hal yang sama dengan aku. Ak tidak bisa berbagi suami. Tidak aka nada wanita yang sanggup. Mengenai anak dalam kandungan tante. Dia lebih berhak atas papa nya.”
__ADS_1