MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 25


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 25


Bab 25 Di tolak Om Om


Pagi yang cerah mengantarkan tiga orang anggota keluarga dalam perbincangan saat sarapan pagi.


“Pa, hari ini ke kantor? Apa tidak istirahat dulu di rumah hari ini, Papa nanti kecapean loh.” Kata Mama Brenda.


“Brenda, hari ini kamu mau kemana?"


 


“Aku, hari ini jadwal kosong Pa, gak ada kelas dan di restoran juga lagi sepi, aku ambil jatah off ku.”


“Kalau begitu siap siap nanti siang kita mau makan di café Tante Rita.”


“Jeng Rita, Tante nya Han Pa?” kata Mama Brenda.


“Iya rencana nya Papa mau membicarakan niat baik kita menjodohkan putra dan putri kita. Walau bagaimana pun Han sudah papa anggap seperti keluarga sendiri Ma, ada baiknya Rita sebagai perwakilan orang tuanya harus tahu mengenai hal ini.”


“Maksud Papa, aku mau di nikahin sama Om asisten?”



“Bukan gitu sayang, setidaknya kalian harus tunangan dulu, jadi Papa tenang kalau kalian pergi malam malam begitu kemarin. Kalau terjadi sesuatu antara kalian kan, Han bisa melindungi dan menjaga kamu.”


“Pa, apa tidak terlalu cepat Pa? Brenda kan masih muda banget. Lagian Papa ini, kenapa nikahin anak kita sama Han sih, laki laki diluar yang sudah mapan banyak loh Pa.” kata Mama Brenda mulai menujukkan ketidak sukaan nya.


“Loh, apa kurangnya Han, toh nanti ny kalau dia jadi menantu kita, dia akan melanjutkan perusahaan kita Ma. Han itu baik, santun, dan cekatan dalam bekerja. Totalitasnya tingi dalam bekerja. Itu yang Papa paling suka dari Han, tanggung jawabnya besar.”


“Tapi Pa, Han itu kan yatim piatu, keuangannya juga pas pasan, kalau bukan jadi asisten Papa, anak itu juga belum seperti sekarang kali Pa. Cari aja yang sudah mapan Pa, kalau mau nikahin anak, biar masa depannya juga cerah.”

__ADS_1


“Ma, kita tidak bisa menjadikan keuangan menjadi tolak ukur kemapanan seseorang. Tapi dilihat juga dari sisi baiknya yang lain. Han sanggup menjaga anak kita utuh selama kita tinggal kemarin loh Ma. Han juga detail melaporkan semua yang dilakukan Brenda tanpa terkecuali. Han itu seperti nya penyayang.”


“Pa, pernikahan itu tidak cukup dengan sayang dan cinta Pa. Tapi butuh uang juga. Mau dikasih makan apa anak kita nanti, makan cinta?”


“Makanya itu Ma, Papa lagi bantu Han untuk memantapkan karirnya di perusahaan kita. Han itu usianya sudah cukup untuk menikah. Papa yakin Han bisa membimbing Brenda. Gimana menurut kamu sayang?” kini pertanyaan Papa nya tertuju pada putri kesayangannya.


Uhukk


Uhukk


“Tapi Pa, bener juga kata Mama, Om asisten itu rada ketuaan deh buat Brenda. Terus dia itu apartemen nya kecil banget Pa. Kayanya dia orang biasa biasa aja deh Pa.”


“Huss, anak gadis tidak boleh begitu bicaranya. Nanti kamu kualat loh. Han itu pekerja keras, anak nya rajin dan ulet. Papa yakin dia akan sukses suatu saat. Jujur dua kali kamu keluar malam tanpa izin Papa. Papa khawatir, kamu harus ada yang dampingin.”


“Apa Papa bahagia kalau aku menikah sama om asisten?”



Tiba di café sederhana milik Rita, tante dari Han, keluarga Brenda di sambut baik oleh pemilik tempat.


“Apa kabar mas Yanto, Mbak Desi, Brenda?”


“Baik.” Jawab ketiganya bersamaan. Namun hanya Papa Brenda dan Brenda yang melempar senyum.


“Kamu sendiri apa kabar Rita? Makin ramai ya café nya.”


“Iya berkat Mas Yanto juga yang membantu membuatkan tempat usaha buat aku mas.” Jawab Rita menunduk malu malu.


Rita kemudian mengajak duduk ketiga tamu nya. Tak lama kemudian Han tiba, dengan setelan kerja, laki laki dewasa itu terlihat tampan dan menarik. Han melepas dasi dan kancing pertama di bawah kerah kemeja nya.


Berbincang basa basi, akhirnya Pak Yanto mulai masuk ke topic perjodohannya.

__ADS_1


“Jadi begini Rita, maksud kedatangan kami bertiga kesini, untuk membicarakan niat baik kami menjodohkan Han dengan Brenda.


Uhukk


Uhukk


Kini Han yang tersedak. Brenda hanya diam menyimak.


“Bagaimana Rita, menurut kamu? Yang saya tahu Han juga belum punya kekasih, mungkin terlalu fokus memikirkan karirnya.”


“Ya sih Mas, anak ini memang terlalu mikirin kerjaan. Kalau menurut saya sih terserah baiknya saja. Kalau memang Han dan Brenda setuju, saya juga pasti mendukung.”


“Maaf pak, saya belum siap. Apa bisa saya minta waktu untuk memantapkan hati saya Pak?”


Brakk


Brenda menggebrak meja, jujur saja hati nya terluka begitu mendengar penuturan dari Han, laki laki dewasa itu seperti menolak di jodohkan dengan dirinya. Berbeda dengan beberapa waktu lalu, seperti menuruti apapun permintaan dari atasannya itu.


Brenda lari sembari menangis. Hati nya sakit. Malu, sedih, kesal semua jadi satu. Tercampur rata dan begitu menggores di hati.


'Sial, baru kali ini aku di tolak Om Om. kelewatan Om asisten nolak aku di depan semua orang.'


Sementara Papa Brenta merasa tak enak atas kelakuan putri nya.


"Maaf, maafin sikap anak saya. Anak itu memang agak manja. Saya akan bicara sama Brenda." baru saja Pak Yanto berdiri hendak menyambangi Brenda ke halaman belakang cafe, namun Han mencegahnya.


"Pak, biar saya saja yang bicara sama Brenda."


"Silahkan." kemudian Pak Yanto, Istrinya dan Rita akhirnya kembali mengobrol dan membahas masa lalu.


Sementara Brenda yang melihat Han datang ke arahnya, hanya melirik sinis dan beranjak pergi. Merasa Han sudah mempermalukan dirinya, Ia merasa tak perlu lagi membahas kisah perjodohannya yang bahkan belum dimulai sudah ditolak mentah mentah.

__ADS_1



__ADS_2