
MENCINTAI OM ASISTEN 20
Bab 20 Papa tega
Bangun pagi di jemput oleh sang surya tak lantas membuat perasan Brenda bermekaran seperti pagi pagi biasanya. Pagi ini semua berbeda. Ia sendirian di rumah. Ini pertama kali nya. Sejak kecil Papa nya tak pernah ambil proyek luar kota. Tak pernah ada perjalanan dinas seperti cerita kali ini.
Tokk
Tokk
Mendengar dua kali ketukan di pintu kamar membuat Brenda yang baru setengah sadar pun merinding.
‘Siapa yang ketok ketok ya, kan Papa Mama pergi.’
Tokk
Tokk
Ketukan selanjutnya lebih keras dan jelas.
“Brenda, Brenda.” Suara tak asing itu lantas menyadarkan gadis itu dari lamunan horror nya.
Beranjak dari ranjang empuknya, Brenda yang mengenakan pakaian tidur minim dan tipis menerawang itu spontan melompat kaget ke balik pintu kamarnya sendiri saat melihat, pria tampan rupawan yang mengetuk pintu nya.
“Om, Om mau apa ke kamar aku? Om jangan coba macem macem ya, aku bisa aduin Om ke Papa.”
“Heh siapa yang mau macem macem? Saya cuma mau bangunin kamu, ini sudah jam berapa? Apa pantas peraih beasiswa terbaik datang terlambat di kelas nya?”
“Kelas? Oh iya bener, aku ada kuliah pagi Om. Ya udah aku siap siap dulu Om.”
“Saya tunggu di bawah, tolong agak cepat karena saya harus meeting juga.”
“Ya Om.”
Secepat kilat Brenda bersiap dengan polesan tipis natural pada wajah imutnya.
__ADS_1
Brenda turun dengan memakai pakaian agak ketat, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang sintal. Membuat beberapa tonjolan di tubuhnya terlihat sangat kentara. Han menelan saliva, bagaimana pun Ia seorang laki laki normal dan tulen. Kuning mana yang tidak lapar pagi pagi mendapatkan suguhan seindah ini.
“Om, mana sarapannya? Biasa nya mama kan buatin sarapan dulu.”
“Terus? Saya juga yang harus buatin?”
Gadis itu tengah cemberut menyesap air putih di gelas nya.
Ini tadi saya sekalian beli bubur ayam di depan gang. Kamu makan cepetan saya tunggu di mobil.
Binar bahagia tiba tiba muncul ke permukaan gadis manis yang hari ini merasa Ia akan bebas dari pengawasan Papa nya setidak nya untuk beberapa hari ke depan.
“Ya Om.”
Dengan cekatan dan mengingat seluruh wejangan sang Mama semalam sebelum tidur, bahwa selama tinggal sendirian di rumah, Brenda harus teliti mengunci pintu jangan sampai lengah.
Baru saja Ia menekan kunci mobil nya, tiba tiba Han merebutnya.
“Eh Om, apa apaan sih, sini kunci mobil aku.”
“Mulai hari ini saya yang antar dan jemput kemana pun kamu pergi. Saya yang bertanggung jawab atas kamu sampai orang tua kamu pulang.”
“Masuk!” Han menggenggam tangan Brenda kemudian memaksa gadis itu masuk ke pajero sport putih miliknya.
Baru saja Brenda akan protes pada Om asisten itu, namun ponsel nya berbunyi.
Dret
Dret
“Halo Pa, Papa udah sampe? Gimana Bali Pa? Aku mau ikut Papa, bolos seminggu kan boleh Pa. Aku belum pernah ke Bali.”
“Iya Pa. Aku belajar yang rajin. Iya, aku gak bawa mobil kok, ini dianterin sama Om Asisten. Papa cepet pulang ya Pa.”
“Katanya mau aduin saya ke papa nya? Gak jadi?”
“Papa suruh aku dianter jemput sama Om. Kalau gak aku harus resign dari kerjaan aku.” Cemberut dan memandang jendela membuat gadis itu lebih tenang.
__ADS_1
“Jam berapa mau di jemput?”
“Emm.. jam duaan deh Om..” baru saja Brenda menyelesaikan kalimatnya, namun Han sudah menyelak nya.
“Saya ada rapat jam satu, mungkin jam tigaan baru bisa sampai di kampus gimana?”
“Gak bisa gitu dong Om, mending aku bawa mobil kan tadi, jadi ribet, aku kan mau ke kantor agency.”
Tepat setelah Ia keceplosan, Brenda menutup mulutnya dengan kedua tangannya kemudian matanya membulat seperti bola.
“Gak perlu di tutupin, saya tahu kamu itu model majalah pria dewasa kan?”
“Om tahu? Berarti Papa juga tahu dong? Aduh gimana nih?” Mata nya langsung berkabut.
Seharian dengan jadwal padat pasangan beda usia ini akhirnya tiba di rumah Brenda.
Baru saja mau merebahkan diri di sofa, tiba tiba Han menyadari ada suara aneh dari jarak agak dekat.
“Itu suara perut kamu?”
“Eh Iya Om..Hehehehe..laper nih Om, bisa tolong pesenin makanan?”
Sesuai permintaan dari anak atasannya, Han kemudian memesan makanan di aplikasi online.
Han memesankan makanan di restoran yang terdekat dari rumah Brenda, agar makanan itu cepat datangnya.
“Om, aku mau makan steak dong Om.” Baru beberapa menit berlalu, Brenda sudah keluar lagi dari kamar nya dan masih menggunakan handuk di kepala.
Wangi sampo dan sabun vanilla membuat Han sedikit mabuk kepayang, apalagi kini Ia di suguhkan pemandangan aduhai lagi.
Brenda hanya mengenakan kaos santai diatas pusar, memperlihatkan perut ratanya. Lengan Sabrina membuat pundak mulus putihnya tereksplor sempurna. Pun dengan hot pants, entah sengaja memamerkan paha jenjangnya atau memang sudah terbiasa berpenampilan seperti itu.
Beberapa jam bersama Han, membuat Brenda sudah mulai mengikis jarak sungkan dengan sang asisten papa.
Brenda menjatuhkan tubuhnya persis di sebelah Han. Han reflek menggeser duduknya. Agar tak terlalu menempel pada Brenda yang baru saja mandi. Selain dirinya sungkan karena belum mandi, Ia juga khawatir gadis di sebelahnya bisa mendengarkan degup jantungnya yang tak tahu diri berteriak.
Ketika makanannya datang, Brenda dan Han langsung menyantap makanannya selagi hangat. Namun tak lama kemudian, Brenda merasa ada yang salah pada perutnya. Perutnya terasa melilit tak karuan. Gadis itu harus bolak balik ke toilet menikmati kesakitan luar biasa pada perutnya.
__ADS_1
‘Ya Tuhan, perut aku sakit banget, biasa makan masakan Mama. Papa tega amat sih, kenapa pergi keluar kota segala, kenapa juga Mama harus ikut.’