
MENCINTAI OM OM ASISTEN 18
Bab 18 Kak Wety hamil
Pajero sport putih itu akhirnya memasuki pelataran rumah mewah milik Pak Yanto. Bertemu langsung dengan sang papa dan mama membuat nyali Brenda ciut seketika. Sepanjang perjalanan tadi mulut gadis itu tak hentinya komat kamit berharap tak terjadi perang dunia setelah ini.
"Pa, Ma." Sapa Brenda saat turun dari mobil."
"Kamu lupa jalan pulang?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut sang papa sanggup membuat Brenda rasanya ingin terbang. Namun bukan melayang ke awan melainkan mengilang berharap bumi menelannya bulat bulat saat ini.
"Pa, kita bicarain di dalam saja, gak enak nanti di dengar tetangga. Ayo masuk Brenda, Han." Sanggah lembut Mama Brenda.
Tak berani menjawab, merespon atau melihat kedua orang tuanya, Brenda hanga sanggup menunduk ketakutan sembari meremas jemari yang sejak tadi berkeringat.
"Sejak kapan kamu berani kabur keluar malam? Mau jadi apa anak perempuan pergi malam?"
"Pa, maafin Brenda Pa. Brenda salah sudah pergi tanpa pamit sama Mama Papa."
"Kemana?"
"Party Pa."
"Party? Bagus! Party macam apa yang kamu datangi malam malam? Sampai harus kabur dari rumah?"
"Hanya perayaan ulang tahun Pa."
"Mana ada anak baik baik merayakan ulang tahunnya larut malam?"
"Maaf Pa."
"Brenda, Papa itu bener bener kecewa dan tidak menyangka kamu berani bohongin Papa, kamu berani kabur dari rumah padahal kamu tahu resiko nya Papa pasti akan marah sama kamu."
"Pa, sabar Pa, sabar." Ucap Mama Brenda sambil mengelus dada sang suami.
"Ma, maafin Brenda Ma, Brenda janji tidak akan mengulangi lagi. Brenda ...." gadis itu tidak tahan lagi untuk melarang air matanya tumpah. Toh sekuat apapun Ia melarang air mata itu tetap mengalir deras membasahi pipi nya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sebenarnya kemana dan kenapa kamu sampai gak pulang?" Tanya mama Brenda.
"Ma...." sorot matanya mengisyaratkan bantuan. Ia tengah membutuhkan bantuan sang mama untuk bebas dari omelan sang papa. Namun apa daya situasinya kali ini benar benar serba tidak mendukung.
"Han, kamu bilang bahwa kamu menemukan anak saya pingsan semalam."
"Ya Pak. Semalam saya tidak sengaja menemukan Brenda dalam keadaan pingsan."
"Kamu mabuk?" Tebak sang papa dengan tatapan rajam ke Brenda.
'Sial nih om om gak bisa diajak kerja sama banget sih. Awas aja aku akan bikin perhitungan sama dia.' Diam diam Brenda melirik sinis ke arah asisten papa nya.
"Maaf Pak, bisa kita bicara diluar?" Ajak Han pada atasannya.
Papa Brenda menurut. Ini kesempatan untuk Brenda agar bisa lolos setidaknya untuk beberapa saat ke depan Ia bisa masuk ke kamar dan membersihkan diri.
Beruntung Brenda sudah meminjam baju adik perempuan Han. Jadi papa nya tidak tahu kondisi asli saat Brenda ditenukan dalam keadaan pingsan semalam.
"Brenda, kamu itu kelewatan ya, kamu kenapa gak pulang segala sih. Mama jadi kena semprot juga sama Papa kamu tau."
"Ma maafin Brenda Ma, nanti Brenda ceritain. Sekarang Brenda ke kamar dulu mau mandi."
Papa Brenda juga mewanti wanti pada istrinya hanya boleh mengizinkan putrinya pergi ke kampus, setelah itu harus langsung pulang, itu pun harus di dampingi oleh sang Mama. Mau tak mau mama Brenda menuruti kemauan suaminya. Wanita berusia senja itu pasrah dnn tak berani membantah.
Berangkat mengendarai sedan merah miliknya, Brenda pun akhirnya menceritakan runutan kejadian secara detail pada sang Mama.
Siang itu lagi lagi Brenda memohon pada mama nya untuk mengizinkan ke agency karena ada sesi pemotretan selama satu jam. Brenda terus mendesak sang mama agar membantunya kali ini, karena kalau bukan bantuan sang mama, walau hanya satu jam bisa jadi mala petaka lagi untuk dirinya.
Sesampainya di kantor agency, Brenda langsung menuju toilet berganti pakaian, mencuci muka dan memoles make up. Kemudian Ia pun menuju ruang pemotretan dimana Mas Yudi sang photographer sudah menunggunya.
"Hai Mas Yudi, sorry telat aku abis dari kampus." Sapa Brenda.
Beberapa kali melakukan take foto, Brenda menyadari ada dua orang tengah bersitegang tak jauh dari tempatnya kini.
"Mas, kamu dengerin aku dulu dong, kamu jangan menghindar terus."
__ADS_1
"Bukan nya elo yang hindarin gue terus."
"Ya mas gak bisa gitu donk mas, kemarin aku kan emang gak fit, aku juga perlu istirahat mas."
"Udah pinter elu sekarang. Sekarang elu mau apa Wet, kalau elu gak mau having fun lagi sama gue, fine! Gue cari ke tempat lain."
"Mas aku udah telat dua bulan mas."
"Ya udah minum obat pelancar dateng bulan aja."
"Mas, kamu gila ya, mas Tio tunggu."
Merasa canggung, ketika Mas Tio lewat, Brenda melempar senyum nya.
"Hai mas." Sapa Brenda.
"Hai Brend, keren, udah luwes. Tingkatin lagi ya."
Tidak biasanya Mas Tio berbicara lembut padanya. Biasanya Mas Tio selalu memperlihatkan sisi tegasnya. Entah apa yang terjadi, tapi kini Kak Wety terlihat menangis sendiri di pojok ruangan.
Brenda yang merasa iba, karena terlanjur menyaksikan perdebatan Kak Wety dan Mas Tio, menyambangi seniornya itu.
"Hai Kak Wety, minum?" Sembari menyodorkan botol air mineral.
"Thanks Brend."
"Kak Wety kenapa? Lagi ada masalah sama Mas Tio ya?"
"Its okey. Gak ada yang penting kok. Aku cabut dulu ya Brend."
"Oh oke Kak."
Kini pikiran Brenda terbang melayang mengurai peristiwa demi peristiwa terakhir yang di alami Kak Wety seniornya.
Dari mulai berciuman, berpelukan, muntah muntah, lalu sekarang Wety protes karena Mas Tio menghindar dan sempat mengatakan telat datang bulan.
__ADS_1
'Kak Wety hamil?'
Gadis muda itu berkelana dalam pemikirannya sendiri.