
MENCINTAI OM ASISTEN 69
Bab 69 Tak menepati janji?
Beberapa hari setelah kondsi Pak Yanto semakin membaik dan dokter mengatakan sudah bisa di lakukan pengobatan rawat jalan, membuat rona bahagia terus menghiasi wajah tua orang tua Brenda.
“Pa, akhirnya Papa sudah bisa pulang lagi. Nanti Papa harus banyak istirahat, aku janji akan membantu Papa di perusahaan supaya Papa tidak kelelahan sendirian, Papa tidak stress sendirian, dan paling penting Papa tidak akan segila aku menghadapi meeting setiap hari di kantor.” Ucap Brenda berupaya mengajak Papa nya keluar dari zona stress.
“Makasih ya sayang. Maaf Papa sudah membuat kamu jadi cuti kuliah. Maaf Papa sudah merusak hubungan kamu dengan Han. Maaf Papa sudah membuat kamu banyak menanggung luka dan masalah masalah yang tidak seharusnya kamu hadapi.” Papa Brenda kembali melow.
“Pa, aku bersyukur punya Papa dan Mama. Aku bahkan menyesal tidak sejak dulu membantu papa di perusahaan. Papa yang terbaik buat aku. Aku yang egois selama ini tidak peduli dengan papa. Mengenai hubungan ku dengan Om asisten, Papa tenang saja, hubungan kami baik baik saja Pa, walau kami nanti belum berjodoh sampai ke pernikahan. Setidaknya aku belum membuka lowongan untuk asisten baru. Om asisten akan tetap menjadi asisten kesayangan ku Pa, bukan karena aku tak bisa kehilangannya. Tapi perusahaan papa membutuhkan Om untuk mengabdi selamanya.”
“Saya berharap masih di berikan umur seratus tahun lagi.” Han tergelak dengan pernyataan Brenda.
__ADS_1
Han datang khusus untuk menjemput atasannya yang baru sembuh. Bahkan Han sudah mengurus surat surat penunjang untuk kepulangan Pak Yanto.
“Han, apa semua sudah beres? Saya sudah bisa pulang?”
“Sudah Pak, semua sudah beres. Bapak sudah bisa pulang ke rumah, mari saya antar. Karena setelah ini saya harus menemani Ibu pimpinan untuk meeting bertemu beberapa calon investor.” Han berbicara sambil melirik ke arah Brenda.
Sesampainya di rumah, Mama Brenda langsung membantu suami nya untuk beristirahat di kamar.
“Nak Han, terima kasih banyak atas bantuannya selama ini terutama untuk suami dan anak saya. Saya tahu anak saya begitu mencintai kamu. Tapi jika memang kalian tak berjodoh saya harap kamu tak meninggalkan luka untuk nya. Dia putri kesayangan kami.” Ujar mama Brenda.
Mama Brenda hanya mengangguk sambil tersenyum. Wajah yang mulai menunjukkan kerutan di beberapa sudut itu sangat teduh. Berbeda dengan dulu awal waktu perjodohan putri nya baru di mulai, Mama Brenda seperti kurang menyetujui keberadaan Han sebagai calon menantu pilihan suami nya. Namun seiring waktu, Mama Brenda memilih untuk membebaskan pilihan pada putri nya.
Dari rumah sakit, Brenda lebih dulu pergi ke kantor, sementara Han mengantar Pak Yanto dan istrinya sampai ke rumah setelah itu baru ke kantor menemani Brenda meeting dan menemui client seperti biasa.
__ADS_1
Brenda memilih lebih dulu ke kantor karena dirinya perlu mempersiapkan untuk presentasi agar para calon investor tertarik untuk bergabung.
Beberapa menit memperhatikan deretan huruf dan angka angka sebagai materi presentasi, Brenda di kejutkan dengan kedatangan Bela.
“Siang Bu Brenda, maaf ada tamu Bu. Saya sudah katakan Ibu sedang tak menerima tamu, tetapi Ibu Bela memaksa minta bertemu.”
“Brenda, saya tidak akan lama menyita waktu kamu. Saya hanya ingin menegaskan jika seorang pemimpin layaknya menepati janjinya sendiri. Mengingkari sama saja dengan berbohong dan bersiaplah untuk hancur. Karena seorang pecundang pun tak pernah siap dengan kehancuran.”
Bela pergi setelah menyelesaikan apa yang ingin disampaikan. Raut kemarahan Bela yang sebelumnya kini hilang. Wanita itu kembali menjelma bak malaikat, anggun dan cantik.
“Hai Han, jangan lupa nanti sore untuk tidak terlambat menjemputku di kantor, aku sudah menyiapkan hadia untuk Cyntia. Anak itu pasti menunggu ku.” Bela mengedip manja dan mencium sekilas ujung bibir Han.
__ADS_1
Sementara Han hanya diam tak merespon perlakuan yang Ia dapat siang ini.