MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 14


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 14


Bab 14 Gaji pertama



Memasuki dua bulan Ia bekerja menjadi model majalah pria dewasa, tak disangka Brenda berhasil mengalahkan model model seniornya. Tekad nya menjadi seorang model professional di buktikan. Brenda terlihat semakin luwes dan memikat dari hari ke hari. Tidak ada lagi gadis malu malu seperti lalu.


Pose menggodanya jelas paling diminati oleh kaum adam. Pasar jual naik tinggi, Brenda menjadi model kesayangan Mas Tio. Bonus keduanya akan cair hari ini, berbeda dengan bonus pertama dulu di pakai untuk membeli pakaian dan sepatu. Sementara bonus kedua ini dipersembahkan ke pada sang mama, sesuai janjinya.


“Ma, Ma, aku pulang.”


“Iya sayang, kamu kok tumben masih terang udah pulang?”


“Ih Mama, emang mau nya aku pulang malam terus diomelin habis diomelin Papa gitu?”


“Ya gak dong sayang, Mama heran aja, biasanya kamu kan pulang kerja harus kuliah dulu.”


“Iya hari ini gak ada kelas Ma, bisa pulang cepet. Tapi entar malem aku diajakin Kak Wety ke klub nih Ma.”


“Diskotik maksud kamu?”

__ADS_1


“Ssstt…” sembari menempelman jari telunjuk di depan bibirnya sendiri, Brenda mencari sosok Papa nya.


“Tenang aja, Papa kamu belum pulang kok.”


“Huhh untung aja Papa belum pulang. Kalau ketauan Papa bisa habis aku Ma.”


“Kamu cepetan mandi terus bantuin Mama masak yu, kan hari ini Papa ulang tahun. Kita kasih kejutan buat Papa. Perayaan kecilan aja. Tadi Mama bikin ue tart loh. Nanti kamu yang hias ya.”


“Oh iya Papa ulang tahun, aku belum beli kado lagi. Gimana ya?”


“Sayang, kamu itu harus hemat, gaji kamu di kumpulin buat bayar kuliah aja, gak usah pikirin orang tua dulu, nanti jadi beban.”


“Mama tuh ngomong apa sih, orang tua tuh gak akan jadi beban buat aku. Kalian sudah merawat dan membesarkan aku aja, aku udah bersyukur Ma, sekarang waktunya aku bales semua yang udah Mama dan Papa lakuin buat aku. Kalian akan jadi tanggung jawab aku. Kalau ada orang tua tidak bahagia, itu adalah salah anaknya, sudah sewajarnya anak anak harus bisa membalas budi baik orangtuanya.”


Membantu sang Mama menyiapkan kejutan untuk ulang tahun papa nya membuat Brenda dan sang mama larut dalam kebahagiaan tiada tara.


Setelah selesai, semua makanan di letakkan di atas meja makan kemudian mereka sepakat mematikan lampu ruangan.


Papa Brenda tiba di rumah nya begitu heran, melihat suasana rumah yang sepi dan gelap. Melirik jam di pergelangan tangannya, pria yang masih gagah di usianya yang memasuki lima puluh tahun itu mengernyitkan dahi nya.


‘Tak mungkin sudah tidur kan?’

__ADS_1


“Brenda, Mama, ini Papa pulang bawa kejutan loh.”


Tak ada suara menyahut, membuat Papa menyalakan lampu ruangan.


“Happy Birthday To You…Happy Birthday To You, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday To You….”


Pak Yatno tak kuasa menahan air mata haru nya mendapat kejutan di hari ulang tahunnya.


Gadis kecil yang selalu bermanja manja padanya bahkan sudah menghamburkan pelukan erat.


“Papa selamat ulang tahun ya, semoga Papa sehat dan bahagia selalu.”


“Brenda, anak kesayangan Papa, makasih ya sayang. Papa sayang banget sama kamu.”


“Aku juga sayang banget sama Papa.” Belum rela melepaskan pelukannya, gadis itu menyiratkan kata I Love You pada sang papa tanpa suara.


“Ih, gentian donk, Mama kan juga mau peluk Papa.” Berganti ibu Desi di dekap erat dan penuh cinta oleh sang suami.


“Pa, selamat bertambah usia ya, semoga Papa semakin sukses, sehat terus dan bahagia ya.”


“Makasih Mama, doanya. Papa sayang sama Mama.”

__ADS_1


Meniup lilin ulang tahun, memotong kue dan pada akhirnya menyantap makan malam yang sudah di siapkan oleh dua wanita beda generasi.


Malam itu Brenda menghadiahkan pada sang Papa, sebuah amplop cokelat yang berisi gaji pertama nya. Papa dan Mama nya menangis haru karena terlalu bahagia, anak yang di asuh sejak bayi itu kini sudah dewasa sudah bisa bekerja. Glenca memberikan gaji pertama nya untuk sang Papa di hari ulang tahunnya.


__ADS_2