
MENCINTAI OM ASISTEN 5
Bab 5 Rencana berantakan
Perkataan Mama Brenda membuat gadis muda itu berlayar ke ingatannya belasan tahun yang lalu. Untuk sekolah, Ia harus rela membantu orang tuanya bekerja. Berhemat makan, tidak bisa membeli seragam baru setiap tahun ajaran baru. Tetapi karena Ia salah seorang murid berprestasi, sekolah memberikan beasiswa berupa dana tunai yang bisa di gunakan untuk biaya pendidikan dirinya.
“Ma…Mama kok nangis?” Gadis muda itu pun ikut sedih karena mendapati Mama kesayangannya menitikkan air mata.
“Mama cuma gak siap kalau harus seperti dulu lagi sayang. Mama gak mau kamu merasakah kesusahan seperti dulu lagi. Semoga Papa bisa berjuang untuk perusahaan nya ya.”
“Iya Ma amin. Kita berjuang bersama ya Ma buat Papa. Mama bantu doa saja, supaya aku bisa lolos daftar jadi model Ma. Mama tenang saja, aku pasti bantu Papa. Aku gak akan biarin Mama sedih lagi.”
Terakhir Mama Brenda tersenyum bahagia memandang putri nya yang memberikan lampu hijau akan keinginannya untuk bisa bekerja jadi model. Seperti di luar sana, menjadi model tidak selalu memberikan kesan buruk untuk seorang wanita. Jaman sekarang wanita juga harus pintar mencari uang, tidak hanya berprestasi secara teori, namun bagi Ibu Desi, seorang anak yang sudah di besarkan sudah sewajarnya bekerja membantu perekonomian keluarga. Tidak peduli apapun pekerjaannya yang penting membuahkan hasil yang maksimal.
Pagi pagi sekali Ibu Desi sudah terlihat rapih. Semburat cahaya matahari pagi itu memperlihatkan bentuk siluet wanita berusia empat puluh lima tahun masih gemulai, karena Ibu Desi rajin merawat diri semenjak kehidupannya mulai berubah.
“Ma, tumben pagi pagi sudah cantik?”
“Iya donk Pak, masa Mama dasteran terus di rumah?”
__ADS_1
“Mama ada rencana keluar hari ini?”
“Gini Pa, semalam Brenda bilang dia sudah setuju dengan tawaran mama.”
“Tawaran apa Ma?” tanya Pak Yanto sembari memandangi wajah cantik istrinya yang semakin hari semakin terawat.
“Itu loh Pa, Mama mau kenalin Brenda sama anak temen Mama yang punya agency model.” Mama Brenda memberitahukan soal rencananya sembari menyelesaikan simpul dasi di kemeja sang suami.
“Astaga, Mama masih maksain Brenda Ma?”
“Ih Papa, pagi pagi jangan mulai deh mau marah marah ingat darah tinggi.”
“Pa, Mama gak maksa kok. Menjadi model adalah impian anak kita Pak. Mama tidak mau mengecewakan dan membuang waktu, di masa muda nya Glenca yang berprestasi harus juga bisa menyalurkan bakatnya. Mama itu cuma mau yang terbaik untuk keluarga kita loh Pa.”
“Ma….tapi Ma..”
Belum selesai Papa Brenda membantah, sang istri sudah menemui putri nya di ruang makan untuk sarapan pagi.
“Pagi Ma, Pa. Sarapan ya.”
__ADS_1
“Ayo sayang.” Sambut Mama Brenda tak kalah gembira.
“Loh, sayang, kamu gak sekolah hari ini? Kok gak pakai seragam?”
“Iya Pa, hari ini aku udah ijin ke pihak sekolah. Aku mau kenalan sama anak temen Mama, mau daftar modeling Pa.”
“Gak, papa gak ijinin kamu Brenda.”
“Tapi Pa…”
“Sekali papa bilang tidak ya tidak!”
“Pa, sabar Pa, jangan emosi pagi pagi.”
“Ma, Papa kan sudah bilang gak setuju sama rencana kamu Ma. Brenda ganti seragam sekolah, Papa yang antar kamu hari ini.”
“Baik Pa.”
Mama Brenda hanya bisa mendengus pasrah mendapati suami nya yang sudah memerintah kan putri nya tetap sekolah.
__ADS_1
Beberapa hari Brenda mendapat pengawasan ketat oleh sang Papa. Berangkat sekolah di antar dan pulang harus selalu menyempatkan diri untuk melakukan video call membuktikan bahwa dirinya sudah pulang sekolah dan tiba di rumah dengan selamat. Beberapa kali pun, sang Papa menyempatkan diri menjemput putri kesayangannya ke sekolah. Kali ini Ia sudah tak percaya lagi pada sang istri yang terus saja memaksakan keinginannya untuk mempekerjakan putri nya menjadi seorang model.