MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 43


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 43


Bab 43 Maju Mundur, Putus saja!


Wanita cantik itu mengahdap dan berputar di depan cermin di kamarnya. Bela tersenyum puas atas pencapaiannya saat ini. Dia berhasil memukul mundur lawan nya. Tanpa harus memaksa dan membuang tenaga, bahkan sang lawan sudah mundur teratur. Memberinya kesempatan dan peluang untuk tetap berjuang. Memperjuangkan kembali cinta nya, kisah cinta masa lalu nya bersama Han.


Berbeda dengan kepuasan yang di raih Bela. Brenda merasa hati nya hancur, harapannya pupus bahkan sebelum berbuah manis.


Nyatanya calon suami yang sudah manggadang gadang cinta tak berhasil mewujudkan masa depan bagi nya. Han memilih kehidupannya dengan cara sendri.


Om asisten kesayangannya sudah menjadi milik wanita lain seutuhnya. Brenda merasa kalah bahkan sebelum memulai pertandingan. Tanpa bisa melawan sedikit pun. Rasa sakit itu bagai belati menghantam, mehunus lurus tepat ke jantung. Ya, begitu menyakitkan, menyesakkan di relung jiwa.


Mama Brenda masuk ke kamar putri nya yang sejak tadi belum berhenti menangis. Ia maklum, masa muda memang indah, namun masa yang bisa membuat kita jungkir balik untuk urusan asmara.


“Nak, istirahatlah, kalau kamu tidak mau makan, setidaknya minum lah susu ini, nanti kamu sakit, dari tadi nangis terus.”


“Ma, aku gak laper, aku cuma sedih. Aku sakit. Aku cuma mau nangis sampai puas Ma. Tolong beri aku waktu.”


“Iya Mama ngerti kamu begitu sakit mendengar semua penuturan dari Bela tadi. Tapi sebaiknya kita tunggu Han dan Papa pulang dan kita bicarakan ini semua. Kita tanyakan baik baik, apa benar semua penuturan Bela benar adanya. Siapa tahu…”


“Siapa tahu apa Ma?”


“Siapa tahu Bela bohong Nak. Jaman sekarang apapun bisa dilakukan demi mencapai kesuksesan. Kalau dulu saja Bela sanggung meninggalkan laki laki yang dicintainya demi laki laki lain.”


“Ma, tante Bela ninggalin Om asisten karena demi menikah dengan orang kaya yang bisa membantu biaya pengobatannya. Kan Mama tadi denger sendiri. Sudah lah Ma, jangan menghibur aku dengan alasan tak masuk akal.”


“Ya sudah, mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Cinta itu selalu datang dengan tangisan dan tawa. Jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan emosi Nak. Kamu bisa menyesal nanti nya.”


“Ma, tolong tinggalin aku dulu. Aku perlu waktu untuk sendiri.”


“Baik lah. Setidaknya minum dulu susu ini. Nanti Mama akan buatkan kamu roti supaya kalau malam kamu lapar, kamu bisa isi perut ya.”


“Makasih ya Ma.”


Sedih, tentu saja. Ibu mana yang tidak sedih ketika anaknya terpuruk. Anak yang susah payah di besarkan dengan tenaga dan keringat, cinta yang tak pernah kering. Wanita senja itu sungguh tak tega melihat kondisi putri nya menangis berhari hari.


Bahkan Bela sudah turun dua kilo sejak menangis dan memutuskan mogok makan. Gadis itu bahkan tidak berselera makan sama sekali. Ia lebih banyak minum susu untuk mengisi perut kosongnya.


Brenda tetap berusaha menjalani hari hari nya se normal mungkin. Menjalani semua aktivitas nya seperti sedia kala. Merasa sedih kisah percintaannya yang tidak beruntung, namun sadar hidup harus tetap berjalan demi orang tuanya dan demi dirinya sendiri.


“Nak, hari ini papa pulang, apa kamu mau ikut jemput ke bandara?”


“Gak Ma, aku mau belajar kelompok.”


Sejujurnya gadis itu harus membiasakan diri untuk selalu menghindar untuk bertemu dengan mantan calon suami nya. Ia tidak mau pertahanan diri nya yang mulai di bangun beberapa hari ini kandas karena melihat wajah tampan Om asisten kesayangannya.


“Aku pergi dulu ya Ma. Aku pulangnya agak malam, tidak usah menunggu makan malam Ma, aku makan di rumah Daniah saja.”


“Baiklah, jaga diri kamu baik baik Brenda, jangan terlalu stress. Fokus untuk kuliah mu ya sayang. Mama sayang kamu.”


Mata sembab itu tak bisa bohong. Sampai detik terakhir barusan, air mata itu masih menganak sungai siap membasahi pipi mulus Brenda.


Brenda segera melajukan sedan merah nya menuju rumah Daniah. Berlama lama di rumah semakin membuatnya sesak tak karuan. Bahkan Ia sudah berusaha merelakan cinta nya yang harus pergi diambil orang lain, tapi tetap saja rasa tak rela itu ada.

__ADS_1


Sampai di rumah, Papa membawa oleh oleh untuk putri kesayangan dan istrinya. Begitu juga dengan Han, selain oleh oleh untuk Tante Rita dan Cyntia, laki laki dewasa itu sengaja membawakan beberapa cindera mata yang sudah di beli khusus untuk calon istri kecil nya.


Berharap dapat sambutan hangat dari sang calon istri, namun mendapat kecewa karena sesuai permintaan Brenda, bahwa mama nya hanya perlu menyampaikan saat ini Brenda sedang sibuk sibuknya dengan tugas kuliah.


“Bu, maaf kalau boleh tahu, apakah Brenda akan lama di rumah teman nya? Brenda kesana naik apa Bu, diantar sopir kantor atau bawa mobil sendiri?”


“Tak perlu repot Nak Han, Brenda tadi nyetir sendiri. Tadi dia sih pesannya mau pulang agak malam, karena tugasnya sedang banyak. Kalau Nak Han mau makan disini nanti saya siapkan sekalian.”


“Tidak usah Bu, terima kasih tidak usah repot repot. Saya nanti mau jemput Brenda saja, tapi seperti nya saya pulang dulu untuk mandi dan memberikan oleh oleh ke orang rumah. Kalau begitu saya permisi dulu Bu Pak.”


“Hati hati di jalan.”


Menebak nebak dalam hati adalah yang paling tak di sukai oleh Pak Yanto, Ia memberanikan diri bertanya pada sang istri apa saja hal yang terjadi selama Ia pergi dinas keluar kota.


Sang istri pun berjanji menceritakan semua nya setelah papa Brenda mandi dan makan malam.


“Nanti malam saja Pa, setelah makan, kita bicarakan lebih lanjut, ini mengenai perjodohan Brenda dan Han. Ada yang mau mama bicarain lagi sama Papa.”


“Baik Ma, kalau gitu aku mandi dulu, nanti kita makan bersama ya.”


Menduga ada sesuatu yang telah terjadi, jujur mendapati calon istri kecil nya tak menunggu menyambut kepulangannya, itu cukup membuat Han yakin.


Terus bertanya dalam hati, namun tak kunjung mendapat petunjuk. Puluhan panggilan yang tak kunjung iangkat, pesan tak berbalas sudah dikirim Han sejak ketibaan nya di bandara.


Setelah mandi, dan meletakkan oleh oleh nya, Han lekas pergi lagi mengendarai mobil kesayangannya yang sudah seminggu terparkir rapih di basement apartemen.


‘*Brenda, apa yang terjadi sebenarnya, kalau hanya mengerjakan tugas, kamu bisa bales pesan saya kan?’


‘Brenda kamu sesibuk itukah, sampai tidak ada waktu memberi kabar calon suami sendiri?’


‘Brenda kamu dimana, katakan sekarang, saya jemput kamu, kita harus bicara*.’


‘*Brenda, saya bawa oleh oleh buat kamu.’


‘Brenda, apa saya melakukan kesalahan lagi?’


‘Brenda, saya rindu sama kamu.’


‘Brenda…..’


‘Brenda*….’


Tiba tiba rasa sesak di dada begitu pekat terasa.


Puluhan pesan singkat itu lolos masuk begitu saja di layar pesan gawai mahal milik Brenda. Daniah dan Melia yang sejak tadi mencoba menghibur pun sampai tak berani walau sekedar bertanya.


“Brenda, kalau elu butuh istirahat, gapapa sini tugas elu gue yang kerjain. Kalau lagi ada masalah di hadapin jangan dihindarin, entar elu juga yang nyesel.” ~ Daniah


“Bener Brenda, elu akan nyesel nanti nya. Diomongin aja baik baik.” ~ Melia


“Ini diminum dulu teh anget, biar elu tenang, udah dong jangan nangis terus, itu mata udah sembab.” ~ Daniah


“Kita gak maksa elu buat cerita kok, kita cuma gak tega ngeliat elu tiap hari nangis dari pagi ke malem. Elu bisa sakit.” ~ Melia

__ADS_1



Saat sedih itu rasanya tak bisa lagi di bendung, Brenda memilih menundukkan kepalanya pada kemudi mobil. Kini Ia ingin sekali menyerahkan nasibnya pada yang Maha Kuasa. Ternyata sesakit ini rasanya bertahan atau melepaskan karena cinta.


‘Om, tolong jangan hubungin aku dulu sementara waktu. Aku perlu waktu untuk konsentrasi dengan kuliah aku. Aku mohon Om bisa mengerti. Aku tidak mau Om menunggu aku, aku pun tidak akan melarang jika Om mau mencari pengganti ku. Aku hanya ingin fokus sama kuliah aku.’


Deg


 Apa yang terjadi sebenarnya dengan Brenda. Gadis itu sama sekali tak mau mengangkat telepon. Membalas pesan pun tidak. Tapi Han yakin gadis itu membaca semua pesan masuk dari nya, terbukti ada warna biru pada centang di pesan terkirimnya.


Merasa putus asa, Han menunggu di mobil di depan rumah Brenda. Laki laki dewasa yang baru saja mandi itu, malah semakin berantakan setelah berkliling tak tentu arah mencari keberadaan Brenda gadis kecil nya.


‘Om, aku mau kita putus. Aku mau kita kembali seperti dulu. Anggap aku adalah anak manja dari atasan Om dan anggap saja hubungan kita sebatas itu. Aku mohon jangan pernah mendatangi ku lagi untuk urusan pribadi. Aku rasa saat ini hubungan kita bisa di selesaikan baik baik. Aku mohon sekali lagi jangan pernah muncul lagi di hadapan ku Om. Satu hal yang harus Om tahu, aku sayang sama Om. Aku minta Om bisa menerima keputusan aku.’


Bertepatan setelah Brenda mengirim pesan itu, mata nya kembali memanas. Tak menyadari pajero sport putih itu sudah lebih dulu terparkir rapih di depan rumahnya, Brenda hanya bisa menangkupkan kepalanya yang kini terasa berat akibat terlalu banyak menangis.


Tokk


Tokk


Han dengan emosi nya yang sudah mencapai ubun ubun segera keluar begitu melihat sedan merah milik Brenda tak jauh dari sana.


“Brenda, keluar. Brenda saya tahu kamu di dalam. Buka pintu nya.”


“Brenda.”


“Brenda.”


Brenda menyalakan mesin mobilnya kemudian menginjak pedal gas. Han segera menghalangi dengan merentangkan tangannya di depan mobil Brenda.


Jantung Brenda memburu tak karuan. Sesak di dada semakin terasa. Pekat dan begitu nyata, kini Ia berhadapan dengan sosok yang sudah Ia rindukan. Rindu itu membuncah sama hebat nya dengan rasa sakit.


“Om, maaf aku mau lewat, aku masih ada urusan lain.”


“Brenda buka pintu nya, saya harus bicara.”


“Maaf Om, saya lagi sibuk, next time aja ya.”


Brenda buru buru menutup kembali kaca jendela mobilnya namun Han sekuat tenaga menahan sampai tangannya terjepit.


Akhirnya Han berhasil menarik simpati Brenda untuk membuka pintu mobilnya. Gadis itu keluar dengan wajah paniknya.


“Om, tangan Om, gak papa? Maaf om aku gak sengaja, kan tadi aku udah bilang Om, aku lagi sibuk aku buru buru.”


“Brenda, saya rindu sama kamu. Kenapa menghindari saya terus. Anggap saya tak pernah membaca pesan kamu barusan.”


“Om, maaf Om, semua yang aku mau sampaikan udah aku sampaikan di pesan singkat aku yang tadi aku kirim. Jadi aku rasa semua sudah jelas, dari pada hubungan kita maju mundur, kita putus saja Om.”


“Brenda, ada apa lagi sebenarnya? Cobaj jelaskan.”


“Om, gak ada apa apa. Aku hanya ingin fokus kuliah.”


“Saya rasa saya tidak pernah mengganggu kuliah kamu.”

__ADS_1


__ADS_2