
MENCINTAI OM ASISTEN 46
Bab 46 Ikut Papa ke Bali
Pertemuan sore itu tetap tak membuahkan hasil. Brenda tetap dengan keras kepala nya tidak mau menghiraukan Han yang rutin menyambangi kediaman nya.
Proyek pembangunan di Bali mengalami kendala. Masalah yang di hadapi cukup mengkhawatirkan. Namun perusahaan Jakarta pun tak bisa di tinggalkan. Kali ini Pak Yanto harus berangkat ke Bali seorang diri tanpa pendampingan dari Han. Karena Han pun harus mengurus perusahaan di Jakarta.
Sudah beberapa hari ini Brenda sering mendapati Papa nya menyendiri di ruang kerja. Ia tak bisa menebak nebak apa yang terjadi. Namun tanpa bisa membantu banyak Ia dan sang mama hanya bisa memberikan dukungan lewat doa yang mereka panjatkan tiap saat untuk sang papa.
“Ma, mungkin lusa papa harus berangkat lagi ke Bali. Loh kok mendadak Pa? sama Han?”
“Tidak Ma, kali ini Papa sendiri. Proyek di Bali sedang mengalami masalah besar.”
Brenda yang baru tiba di ruang makan, tak sengaja mendengar percakapan orang tuanya. Khawatir tiba tiba menyerang gadis belia itu. Bertahun tahun hidup bersama, baru kali ini Brenda menangkap wajah khawatir mendalam dari sang papa.
__ADS_1
“Pa, apa masalah papa sangat berat?”
“Oh ya, bagaimana kalau Mama dan Brenda saja yang menemani papa ke Bali kali ini. Papa mohon kamu bisa kembali menjadi anak papa yg ceria seperti dulu lagi. Anggap saja kali ini kamu mendapat jatah libur beberapa hari. Papa tidak mau kamu larut dalam kesedihan terus menerus. Lihat anak papa jadi kurus begini. Wajahnya juga selalu sembab.”
“Makasih Pa, beneran apa bohong nih, ke Bali nya?”
“Ya beneran dong sayang, anak kesayangan Papa, emang papa pernah bohongin kamu?”
“Papa, maafin aku ya, aku bukan anak yang baik buat papa. Aku sudah sering mengecewakan papa, sekarang saat aku sedih Papa malah menawarkan liburan sama aku. Papa tuh baik banget. Makasih Pa.” Brenda kembali berlinang air mata. Dipeluk erat sang papa yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan dirinya.
“Udah dong jangan sedih sedihan gitu, mama jadi ikutan sedih deh. Lebih baik kita siapin barang barang yang mau kita bawa yuk sayang.”
Bali, kota dengan sejuta kebahagiaan. Seperti tak pernah merasakan luka. Semua orang bebas mengekspresikan bahagianya masing masing berendam, bermain air, sampai mengubur diri sendiri di pasir.
Ini kali pertama nya Brenda mengunjungi Bali, kalau bukan ikut papa nya untuk dinas menengok proyek pembangunan hotel, mungkin entah kapan bisa ke Bali.
__ADS_1
Brenda dan sang Mama memilih berjalan jalan sekitar pantai melepas penat yang selama ini menghimpit dada.
Sampai di lokasi pembangunan hotel, Pak Yanto melihat sendiri bekas bangunan ambruk, banyak puing berserakan di sekitar rumah rumah penduduk sana.
“Pak Boim, bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Pak Yanto pada salah satu mandor disana.
“Iya Pak, seperti nya ada penyusup yang mengganti bahan baku, kami sudah melaporkan kejadian ini. Polisi juga sedang mendalami kasus ambruk nya bangunan kami Pak.”
“Ya sudah kalau begitu, siang ini saya harus menemui pemilik hotel untuk membicarakan kelanjutan tender pembangunan ini.” Pria berusia senja itu melemas sembari menepuk punggung kepala mandor.
“Semoga hasil nya baik Pak. Kami disini benar benar minta maaf pak telah lalai menjalanakan tugas. Tapi ini semua diluar kendali kami Pak.”
“Ya Pak Boim, silahkan di lanjutkan membenahi puing puing di rumah penduduk dan jika ada rumah penduduk yang mengalami kerusakan, katakan pada mereka
bahwa kita siap memperbaiki nya.”
__ADS_1
Tak bisa menyalahkan siapapun atas kejadian yang menimpa, namun Ia masih menaruh harapan pemilik hotel akan bersedia memberikan tambahan waktu dan tidak langsung membatalkan tender ini sepihak.
Selain akan berdampak dengan kerugian materil, perusahaan kontraktor milik Pak Yanto juga terancam di coret atau mendapat catatan hitam dari para client.