
MENCINTAI OM ASISTEN 13
Bab 13 Kak Wety sakit apa?
Beberapa hari ini Brenda tak mau ambil resiko, ia benar benar harus bisa gesit dalam membagi waktu antara pemotretan dengan jam kuliahnya. Tapi karena beberapa kali waktunya bentrok, Brenda memutuskan untuk mengubah jadwal kuliahnya yang awalnya pagi menjadi kuliah malam. Namun untuk itu diperlukan surat keterangan dan tanda tangan dari orang tuanya. Brenda ada mahasiswa yang bisa masuk ke sana dengan jalur beasiswa full, jadi segala tindakannya sangat di pantau dan harus ada ijin orang tua.
Kebetulan jam kuliah hari ini hanya sedikit. Jam satu siang, gadis ramping itu sudah tiba di agency. Menyapa riang beberapa teman nya, kemudian bergegas ke toilet berganti pakaian. Karena Mas Tio sang manager tidak suka jika melihatnya berpakaian tertutup atau memakai kaos biasa.
Di toilet, Ia mendengar jelas ada seseorang yang muntah muntah di salah satu kamar mandi tertutup. Mencari sumber suara, kemudian mendekatkan pendengarannya lagi Brenda mulai mencari tahu dalam hati pemilik suara.
“Kak Wety?”
Panggilan pertamanya di abaikan oleh pemilik suara dari dalam kamar mandi.
“Di dalam siapa ya? Butuh bantuan?”
Panggilannya kedua membuahkan hasil, wanita di dalam akhirnya membuka pintu.
“Astaga, Kak Wety…kamu yang dari tadi muntah muntah? Kak Wety sakit? Kak Wety sudah sarapan belum?”
__ADS_1
Yang terlintas dalam benak Brenda adalah kak Wety pasti masuk angin karena kelelahan bekerja.
“Aku gak tahu juga Bren, perut bawah aku sakit banget, ngilu gitu. Aku juga mual banget. Kayanya aku salah makan deh. Tadi sarapan bubur sih pagi.”
“Bubur depan itu?”
Wety mengangguk dengan lemah.
“Loh, bukannya bubur itu emang sering ya Kak Wety makan, jangan jangan Kak Wety kelelahan atau masuk angin? Istirahat dulu deh, ijin pulang aja sama Mas Tio.”
“Gak, gak, gak usah Glen, nanti Mas Tio marah. Aku disini aja sebentar, nanti kalau pusingnya hilang aku ke ruang pemotretan, bilangin aja sama Mas Yudi, tolong tuker jadwal aku jadi agak sore aja.”
“Oh oke Kak Wet, aku kesana dulu ya, nanti aku bilangin ke Mas Yudi. Kembang desa lagi sakit, hihihihii..” Brenda berkelakar sembari bergegas keluar dari kamar mandi.
“Maaf Mas, Mas Tio gak papa kan?”
“Kamu kok masih disini? Yudi udah nungguin dari tadi.”
“Iya Mas, ini mau kesana.”
__ADS_1
Brenda bergegas menuju ruang pemotretan, tapi di tengah jalan Ia baru sadar melupakan ponsel nya yang tadi di letakkan di samping westafel saat cuci tangan.
Baru saja Ia mau membuka handle pintu, terdengar suara dari dalam.
“Mas aku gak bisa Mas, aku lagi sakit.”
“Ah, elu lagi kenapa sih Wet, kan gue bilang, kalau gue lagi on tuh jangan suka menghindar.”
“Tapi Mas, aku …aku beneran sakit.” Wety terus saja berusaha berbicara dan menunjukkan penolakkan dirinya.
“Mas…emmmpphh..” Tio tidak peduli, hasrat laki laki itu sudah sampai ubun ubun dan tidak bisa di tunda.
“Mas, aku takut Mas..”
Seperti biasa Tio tidak pernah peduli dengan penolakan Wety, karena toh akhirnya Wety akan menyerahkan diri pada nya.
“Mas, kemungkinan aku ham…..”
Wety pingsan seketika. Mendengar ada suara seperti tubuh seseorang yang jatuh, Brenda reflek membuka pintu toilet wanita itu.
__ADS_1
“Mas Tio? I-ini kan toilet wanita.”
Mengalihkan penglihatannya pada wanita yang pingsan, Brenda buru buru menolong Wety. Susah payah Brenda memanggil OB yang bertugas agar membantu dirinya memindahkan Wety ke ruangan kosong yang memang di sediakan khusus untuk istirahat pada model yang bergantian menunggu jam pemotretan.