MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 35


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 35


Bab 35 Coba bilang sekali lagi


Beberapa hari menikmati waktu liburnya, hari ini Brenda sudah harus mulai kuliah lagi. Jadwal kuliah yang tadinya sudah di geser menjadi waktu kuliah malam kini sudah di kembalikan seperti semula menjadi kuliah pagi. Brenda sudah tak lagi mengambil pekerjaan sambilan sebagai model majalah pria dewasa.


Selain keuangan papa nya sudah membaik, gadis itu juga punya pertimbangan lain. Ia tak mau lagi mengambil resiko untuk membangkitkan kemurkaan papa nya lagi. Untuk sementara ini setelah kejadian kemarin, Papa nya memperketat perizinan keluar masuk dari rumah ke kampus.


Setiap hari nya pergi dan pulangnya akan di antar jemput oleh Han selaku calon suami nya. Jika Han berhalangan, akan ada supir kantor yang khusus mengantarkan Brenda.


Kembali kuliah di jadwal pagi itu arti nya Brenda kembali akan bersama dengan teman teman sebelumnya terutama Daniah dan Melia.


“Brendaaaaaaa, teriak Daniah dari ujung kantin.”


“Daniah, Melia, apa kabar?”


“Elu yang apa kabar, kita mah baik. Kan elu yang mau di kawinin sama Om Om. Ups.” Sadar ledekannya akan menciptakan gosip, Melia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


“Eits udah lama kita gak nongkrong bareng kan, yuk kita nongkrong abis kelas selesai, gimana Brend?”


“Boleh, Boleh. Sekalian gue mau ajakin elu berdua buat gabung di kantor agency milik sepupu gue nih. Agency model gitu.”


Brenda kaget dan menyemburkan air mineral yang baru saja akan mengalir melewati tenggorokannya.


“Elu kenapa sih Brend, kaget amat, kan elu pernah kerja jadi model majalah pria dewasa kan? Ini mah gue yakin lebih oke buat masa depan kita. Disini udah banyak model abal abal berubah jadi model professional.” Jelas Daniah.


“Hah, serius elu pernah jadi model majalah pria dewasa Brend?” tanya Melia penasaran.

__ADS_1


Brenda hanya mengangguk dan melihat kanan kiri, takut ada yang mendengar.


“Foto telanjang?”


Brenda menggeleng, namun detik berikutnya Ia tersadar bahwa sewaktu Ia mabuk di kamar hotel itu, ada potongan ingatan yang hilang dari kepalanya. Namun di dalam hati nya Ia tetap yakin bahwa tak ada sesuatu hal burukterjadi pada dirinya. Satu satu hal yang Ia ingat adalah Ia sudah di telanjangi dan dipaksa melakukan berbagai pose tak pantas tapi dirinya menolak sampai akhirnya Kak Wety datang menyelamatkannya.


“Eh tapi guys, sorry nih sebelumnya, kayaknya gue harus izin dulu deh sama …..om asisten, gue takut papa gue marah lagi.”


“Yaelah, pake malu malu, bilang aja harus izin sama calon suami.” Kelakar Daniah.


Tiba tiba saat sedang bercanda, Melia menyenggol bahu Daniah, karena melihat sosok yang mereka bicarakan berada tepat di belakang Brenda. Ya, Om asisten ganteng yang menjadi trending topik kedua datang menjemput calon istri nya.


“Daniah, Melia, gue balik dulu ya. Nanti kita bahas lagi malam soal tadi.”


“Sip deh, jangan lupa ceritain kita ya entar malem.”


“Cerita?”


Sesampainya di mobil, Brenda langsung menjelaskan pada Han.


“Om, itu soal tadi, jangan di dengerin Om. Temen temen aku emang gitu bercandanya.”


“Emang apa yang kamu ceritain ke temen temen kamu soal kita?”


“Gak ada kok.”


“Gak penting ya?”

__ADS_1


“Iya.”


“Ohh.”


“Eh itu maksudnya…”


“Brenda saya mau menebus kesalahan kemarin kemarin, saya mau traktir kamu makan ice cream.”


“Makan ice cream? Mau Om, dimana? Eh tapi gak perlu repot repot Om, bukan Om kok yang salah. Aku yang salah Om, udah berlebihan.”


“Tetap saja saya salah sama kamu. Saya udah bikin kamu nunggu sampai malam. Seharusnya kalau malam itu saya tidak telat jemput kamu, kamu tidak akan mengalami kejadian seperti kemarin.”


“Ya udah Om, yang udah lewat ya udah, jangan di bahas terus.”


Tiba tiba Han menepikan pajero sport putih nya dan memandang partner di sampingnya lekat lekat. Membuat Brenda hampir menghilang di tempat karena terlalu grogi.


“Brend, apa benar yang kamu ucapkan pada saya waktu malam itu?”


“Hah, memangnya apa yang aku ucapin ke Om dan kapan Om?”


“Malam itu, waktu kamu mabuk, kamu kan bilang soal perasaan kamu ke saya. Saya mau tahu, kamu beneran jujur atau memang karena mabuk aja?”


“Oh mungkin karena mabuk Om, jangan di pikirin Om.”


Glek


Han menelan saliva nya dengan susah payah untuk membasahi tenggorokan yang sudah mongering sejak tadi menunggu gadis itu mengungkapkan cinta seperti kemarin. Namun Brenda malah menjawab asal bahwa kemarin itu semua yang di ucapkan hanya melantur karena efek mabuk.

__ADS_1


Akhirnya mereka tiba di sebuah café. Café dengan pemandangan pegunungan menambah selera pada setiap pengunjung agar berlama lama menghabiskan waktu bersama pasangannya.


 


__ADS_2