MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 63


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 63


Bab 63 Menukar cintaku dengan perusahaan papa


Sore itu Brenda tak sanggup harus ke rumah sakit. Ia hanya menitipkan beberapa baju ganti, vitamin, dan makanan untuk mama nya. Ia butuh istirahat.


Bela benar benar ingin mengambil Han dengan caranya sendiri. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu sampai tega mengobrak abrik hidup keluarga Pak Yanto yang notabene tak pernah punya salah terhadap dirinya.


Memutuskan untuk menelpon Han, mengajaknya makan malam bersama, setidaknya ide yang baik untuk membuat kenangan indah bersama sebelum dirinya benar benar harus merelakan Han pergi selamanya.


"Halo Om, hari ini mau temani aku makan?"


"Astaga, kamu jam segini belum makan?"


"Belum."


"Mau saya pesankan saja? Biar lebih cepat nanti kamu kelaparan."


"Aku mau keluar aja Om."


"Oke tunggu sebentar saya jemput kamu."


Menunggu Han dalam ketidak nyamanan, dalam sunyi dan begitu banyak pikiran buruk di hadapkan pada kenyataan.


Tiba di tempat tujuan, Brenda turun dengan bergelayut manja di bahu kekar Han. Gadis itu kembali seperti biasanya. Manja dan menggemaskan.



"Saya suka kamu yang seperti ini." Bisik Han dan langsung membuat pipi Brenda merona merah.


"Om mau pesan apa?"

__ADS_1


"Saya mau minum kopi hitam....."


"Kopi hitam dengan gula satu sendok teh tidak perlu diaduk." Bela muncul tanpa diundang dan di duga. Tampil cantik dan memukau, Bela berhasil menyedot perhatian beberapa orang di restoran itu.


"Malam Tante Bela." Sapa Brenda.


"Halo Brenda, apa kabar? Saya harap kamu baik. Tidak usah formal, ini kan bukan di kantor. Kebetulan saya juga mau makan disini dan sendirian, apa boleh gabung?"


"Silahkan." ~ Brenda


"Tidak." ~ Han


Menatap Han dan Brenda bergantian, Bela memilih menduduki kursi persis di sebelah Han.


"Bel, saya harap kamu tahu batasan kamu."


"Han, kamu itu jangan naif. Ingat ada saksi hidup cinta dan kerinduan yang kita tahan selama tujuh tahun silam. Anak ini, buah cinta kita."


"Oh jadi kamu mau lari dari tanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan malam itu? Kamu lupa berapa kali kamu mendesahkan nama ku? Kamu lupa bagaimana nikmatnya sepanjang malam yang kita lewati bersama?"


"Gila kamu Bel, gak waras. Brenda ayo kita pindah." Ajak Han sudah menggenggam tangan Brenda.


"Tapi Om, makanannya kan sudah dipesan."


"Biarkan saja."


Brenda menurut dan pasrah mengikuti gerak langkah Han membawanya.


"Han." Han terus melamgkah dan tak mempedulikan Bela yang meneriakkan namanya berkali kali.


Beberapa pengunjung restoran menatap heran pada tiga orang yang terlibat cekcok itu.

__ADS_1


Di parkiran.


"Brenda tunggu. Saya hanya bisa berbaik hati untuk menunggu jawaban kamu sampai besok pagi."


"Om, tunggu."


"Bel, kamu itu licik. Saya menyesal pernah jatuh cinta dengan wanita licik seperti kamu."


"Terserah bagaimana kamu menilai aku sayang, sebentar lagi kamu akan kembali dan memohon cinta padaku. Perlu kamu tahu, cinta ku akan selalu setia menunggu saat itu datang."


Brenda kembali menahan Han dengan memeluk pinggang laki laki dewasa itu agar mengurai kemarahannya.


"Tante, tak perlu menunggu besok. Besok dan sekarang sama saja. Aku akan menjawab dengan pilihan yang sama. Tapi maaf tante aku tidak bisa mengorbankan perusahaan papa sampai jatuh ke tangan tante Bela. Yang bisa aku korbankan saat ini hanya diriku."


"Brenda apa maksud kamu?" Tanta Han panik.


"Aku akan memutuskan untuk mengembalikan Om asisten kesayangan ku ini pada tante. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Aku mohon sama tante untuk tidak terus menerus mempersulit."


"Brenda apa yang kamu bicarain? Kenapa jadi bawa bawa saya? Lagi pula apa kamu sudah gila Brenda, kamu mau menukar cinta kita demi perusahaan begitu maksudnya?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan. Om pikir kalau berada dalam posisi ku saat ini, aku harus memilih antara Om dan Papa itu tidak sulit? Sama saja dengan mengorbankan hidup ku Om.” Brenda melemas, menangis sejadi jadi nya.


“Om selalu bilang sebagai pemimpin aku harus siap dengan segala kondisi termasuk mengambil keputusan di saat terdesak. Kalau aku memilih menyelamatkan perusahaan papa, mungkin hanya kita yang terluka. Tapi kalau aku memilih Om, ada ratusan nyawa lainnya akan ikut menanggung akibatnya. Dari awal bertemu tante Bela, aku tahu konsekuensi apa yang akan aku hadapi Om. Itulah mengapa aku harus kuat seperti batu karang saat ini. Aku harus menggantikan papa, demi ratusan nyawa yang menggantungkan nasibnya padaku. Demi mama ku yang setiap hari menangisi papa. Demi papa yang entah kapan bangun dari tidur panjangnya.”


Han memeluk tubuh Brenda yang sudah bergetar karena menangis dan terisak.



Han mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia bahkan tak pernah membayangkan bahwa mencintai harus berada di posisi sesulit seperti ini. Bela benar benar sudah gila, wanita itu sanggup mengacak ngacak hidupnya sendiri dan orang lain.


"Baik Brenda, seorang pemimpin tak pernah ingkar janji dan saya tunggu kebenaran ucapan kamu. Seluruh biaya pengobatan papa kamu akan saya tanggung sampai papa kamu sembuh, tentu termasuk seluruh biaya hidup kalian sekeluarga. Aku yakin kalian membutuhkan. Aku harap kamu menerima bantuan ku. Saya sangat menghargai keputusan kamu."

__ADS_1


Bela pergi dengan senyum mengembang diwajahnya. Memperlihatkan dua lesung pipi indah yang mebentuk ketika Ia tersenyum.


__ADS_2