
MENCINTAI OM ASISTEN 45
Bab 45 Sedih tak berujung
Brenda tak ubah nya seorang putri raja yang kehilangan sosok pangeran yang begitu di cintai nya. Ia memang terlanjur mencintai Han. Entah mengapa semakin kesini rasa itu justru semakin kuat hingga sulit di hempaskan.
Menangis menjadi hobi terbaru nya. Setiap sore sepulang bekerja Han selalu menyempatkan diri untuk mampir membawakan makanan kesukaan atau cokelat untuk Brenda. Walau Han tahu pemberiannya hanya akan berakhir di tempat sampah, namun bagi Han bukan hanya melihat hasil nya yang sia sia.
Namun Ia yakin usaha tak mengkhianati hasil. Tuhan akan memberikan jalan terbaik untuk dirinya. Tuhan tak pernah tinggal diam untuk setiap cobaan dalam hidup kita.
‘Brenda, apa bisa ketemu sebentar saja?’ Pria dewasa yang penampilannya kini semakin hari semakin berantakan itu sudah lebih dari setengah jam di depan pagar umah sang atasan.
‘Om, aku lagi banyak tugas, maaf.’
Melihat balasan dari Brenda, mata sayu itu berbinar. Bukan hanya mempengaruhi nilai pelajaran kuliah Brenda, nyatanya hubungan ini juga mempengaruhi konsentrasi kerja Han di kantor.
Kalau ada pepatah bilang cinta itu buta, ya benar, cinta itu buta dan membuat penikmatnya menjadi gila.
__ADS_1
‘Brenda, saya tunggu disini sampai kamu keluar.’
Menyadari pesan terakhirnya tak kunjung berbalas. Han terus memperhatikan kaca jendela kamar Brenda di lantai dua. Dari luar terlihat jelas gadis nya kini sedang menggenggam buku di tangan, namun pandangannya tertuju kea rah bawah.
‘Brenda, saya janji saya tidak lama, saya hanya ingin memberikan sesuatu ke kamu. Tapi saya mau kamu terima atau setidaknya jangan buang di depan mata saya. Please.’
Lima menit…
Sepuluh menit…
Akhirnya Brenda turun, Ia menyerah pada sesak nya. Sudah sedari tadi bahkan sejak berhari hari lalu, sesak di dada nya sudah menghimpit dan terus saja memaksa ingin melepas rindu menghamburkan pelukan ke Om asisten kesayangannya.
“Hemm Brenda terima kasih kamu mau keluar menemui saya.”
Han buru buru menggenggam tangan Brenda. Di ciumnya lembut dan itu sudah sedikit mengobati kerinduannya akan sosok manja yang hanya bisa di temui pada Brenda.
“Tidak usah berlebihan Om, aku hanya bisa sebentar.”
__ADS_1
“Brenda, bisa tatap mata saya?”
Selama ini Brenda selalu menghindari tatapan mata nya bertabrakan dengan milik Han, karena itu bisa saja menggoyahkan hati nya.
“Brenda, mari kita menyudahi kesedihan tak berujung ini. Mari kita mulai dari awal. Beri tahu salah saya apa? Saya janji saya akan berubah seperti yang kamu mau.”
“Om….” Sebelum Brenda selesai berkata, Han sudah menyela nya lagi.
“Brenda, anggap saja saya memohon untuk hubungan kita.”
“Aku…”
“Brenda, saya cinta sama kamu. Saya tidak ada hubungan apa apa dengan Bela atau wanita manapun. Saya merasa saya tidak pernah mengkhianati kamu, kamu tiba tiba marah dan memutuskan hubungan dengan saya. Sejak saya berangkat ke Bali dengan papa kamu. Kamu menghindari saya. Kamu tidak memberi kabar pada saya.” Laki laki itu tiba tiba mengutarakan kebingungannya trhadap Brenda.
“Sudah cukup Om, jangan lagi membahas hal yang sudah lewat. Aku hanya ingin berteman saja dengan Om. Aku tidak bisa menjanjikan hubungan lebih dari itu.”
__ADS_1
“Tidak, tidak bisa, jangan pernah mengatakan itu, itu menyakitkan buat saya Brenda.” Han mencium lagi tangan Brenda.
Brenda menarik tangannya kemudian menghapus air mata yang hampir saja membasahi pipi nya.