MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 76


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 76


Bab 75 Gadis manis di pantai


Brenda akhirnya membulatkan tekad nya untuk menemui Om asisten kesayangannya sebelum semua nya terlambat. Setidaknya lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ia harus memberi tahu perasaan yang sebenarnya pada Han.


Matahari yang tadi nya tak tahu malu menampakkan dirinya, kini mulai pergi malu malu. Brenda bermain main air sendirian hanya menunggu papa nya yang selepas kerja berjanji mengunjungi nya di pantai.


Menunggu dengan ragu, bolak balik mengambil keputusan untuk menemui Han kemudian membatalkan niatnya. Ternyata keberanian yang sudah di pupuk sejak masih di Jakarta hilang begitu saja ketika jarak sudah tak jauh lagi.


Dengan mulut komat kamit akhirnya Brenda membulatkan tekadnya untuk menemui Han. Ia pun bergegas membalikkan tubuhnya namun naas Ia menubruk tubuh seseorang.


Brukk


“Ma-maaf.” Brenda jatuh terjengkang ke belakang. Kulitnya kini di penuhi pasir pantai yang lengkat.

__ADS_1


“Brenda?” Han melepas kaca mata hitamnya dan menegaskan penglihatannya.


“Om, maaf aku gak sengaja.” Brenda tertunduk menyembunyikan rona malu yang tiba tiba membuat pipi nya merona.


“Kamu, sama siapa kesini? Ada yang sakit? Maaf saya tidak sengaja.” Han menepuk pelan pucuk kepala Brenda. Brenda merasakan desiran bahagia kala rindu akan sentuhan Han. Sosok penyayang yang belum lama ini menghilang.


“Om, maaf Om, maafin aku.” Brenda menangis menghambur memeluk Han. Rindu, ya, rindu yang di pendam sejak beberapa hari ini.


“Maaf? Untuk apa? Kayaknya kamu gak ada salah sama saya.” Dengan tanganmasih membelit pinggang Han, Brenda menunduk menyembunyikan wajah sedih dan bahagia yang kini bercampur. Apalagi saat Han menangkup wajah malu malu itu dengan kedua tangannya.


“Hanya apa?”


“Hanya merindukan Om.” Brenda menelusup, menyembunyikan wajah nya yang sudah memanas menanggung malu ke dada bidang Han.


Han mengurai senyum. Ya, akhirnya senyum itu bisa datang lagi. Seperti pepatah kuno, selalu ada pelangi sehabis hujan.

__ADS_1


“Sini peluk saya sampai puas. Disini tidak ada mata mata. Tidak ada yang melarang. Di Bali sedikit lebih bebas, jika ada gadis manis yang ingin menciumku di depan umum.”


Brenda berjinjit hendak mencium bibir Han, namun akhirnya Ia memiringkan wajahnya hampir menyentuh ujung bibirnya saja. Secepat kilat Han merubah posisi wajahnya, hingga bibirnya leluasa menyentuh pemilik hati nya.


Getaran yang sama, dan masih tak berubah sejak beberapa bulan terakhir. Cinta itu sama dan tetap sama. Semakin kuat semakin merindu. Anggap lah, ada seorang gadis manis kini tengah kasmaran di pantai Bali.


Tak peduli lagi orang sekitar yang menonton perbuatan mereka. Tak peduli lagi dengan dunia luar, yang pentng kini mereka bisa saling menyentuh, merasakan kerinduan memuncak membuat sesak di dada. Kini mereka bisa menuntaskan perasaan masing masing.


Han akhirnya melepaskan ciumannya karena selain Brenda, Ia juga kehabisan napas.


“Om, mengapa menciumku? Aku …malu.”


“Tak perlu malu, tadi kamu melakukannya dengan mata terpejam. Anggap saja tak ada yang melihat.” Han menggoda Brenda sembari mengedipkan sebelah matanya.


Puas memeluk, Brenda memilih menggenggam jemari Om asisten kesayangan nya, ingin menuntaskan rindu yang terpendam, Ia mengajak Han untuk bermain air.

__ADS_1


Dari kejauhan Pak Yanto hanya bisa menitikkan air mata nya. Entah harus senang atau sedih. Entah putri nya yang salah sasaran memilih cinta atau cinta yang datang padanya mungkin bukan cinta yang tepat.


__ADS_2