
MENCINTAI OM ASISTEN 21
Bab 21 Om Asisten rasa pangeran
Malam menjemput, Han dengan apik merapikan semua kantong bekas makanan yang tadi di pesannya. Ia harus memesankan bubur sebagai pengganti steak yang tadi membuat Brenda sakit perut.
“Ini minum dulu obat nya, nanti kamu bisa makan bubur. Saya mau pulang dulu sudah malam.”
Baru laki laki itu melangkah, tiba tiba terdengar petir sangat keras. Brenda kaget bukan kepalang. Ia melompat dan memeluk Om asisten dari belakang. Tubuhnya gemetar matanya menutup menempel di balik punggung pria dewasa bertubuh kekar itu.
Sadar dengan kelakuannya yang tak pantas, Brenda buru buru melepaskan diri.
“Maaf Om, aku aku gak sengaja, aku kaget.”
“Ya sudah, saya pulang dulu, kamu jangan lupa minum obatnya dan makan bubur nya, mumpung masih hangat.”
Petir kedua menyambar ke jendela dan memberikan sensasi getaran menggelegar.
Gadis itu mengernyit dan kembali melompat ke pelukan Han, kali ini Ia menelusup ke dada bidang laki laki dewasa itu tanpa permisi dan malu.
“Om, jangan pulang deh, aku takut nih Om.”
“Tapi saya gak mngkin nginep disini, apa kata tetangga, kita bisa di arak arak.” Han masih sempat melempar candaan.
__ADS_1
Petir ketiga menggelegar.
“Om, a-aku ikut Om pulang. Om tunggu sini, aku ambil jaket.” Tanpa menunggu persetujuan Om asisten, Brenda berlari masuk ke kamarnya mengambil jaket, menutupi tubuhnya dan segera menempel di bahu Han.
“Om, ayo, kalau Om mau pulang aku ikut Om aja. Aku nginep di rumah Om ya, please. Aku takut Om.”
“Begini saja, saya tinggal ambil pakaian ganti sebentar, nanti saya temani kamu lagi disini sampai kamu tidur baru saya pulang.”
“Om, atau aku bilangin Papa aja, kalau Om gak mau temenin aku, aku takut Om, aku gak pernah sendirian begini, apalagi ada petir, nanti kalau aku kesamber petir, Om mau tanggung jawab?”
Han yang merasa lelah berdebat dengan putri atasannya itu akhirnya mengalah. Kini pria itu pulang ke apartemen miliknya dengan membawa Brenda bersamanya.
Han bergegas mandi meninggalkan Brenda sendirian di ruang tamu.
Mandi secepat yang Ia bisa, kini Han keluar dengan handuk putih melingkar di bagian bawahnya, kemudian dengan santainya melepas kan ke ranjang, sembari mencari baju yang akan Ia kenakan untuk menginap.
“ARRRGGGGHHH. Om gila ya, aku kan masih di bawah umur Om, kenapa dikasih lihat kayak gituan sih?”
Han terlonjak kaget dan buru buru menggunakan handuk nya kembali. Kini hanya dada bidangnya yang terekpos sempura dengan titik titik air yang masih menetes dari rambutnya.
“Brenda, kamu ngapain di kamar saya?”
“Ya mau tidur dong Om, kan kamarnya cuma satu, aku tidur dimana, masa di koridor?” jawab gadis yang masih mengatur napas nya.
__ADS_1
Han mengalah lagi dan kembali ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya. Han yang biasa di lihat oleh Brenda adalah Han yang selalu rapih dengan kemeja nya, ini baru kali pertama laki laki dewasa itu dengan tampilan kasual.
“Ayo, kita pulang. Sudah larut besok saya bisa terlambat ke kantor.”
Baru menginjakkan kaki di halaman koridor pasangan beda usia itu kembali di kejutkan dengan suara petir yang menggelegar.
Brenda kali ini bisa lebih menahan diri, Ia hanya menempel kan tubuhnya ke punggung Han. Han merasakan dua buah benda kenyal yang asing kini tengah menyentuh tubuhnya. Entah dari mana dorongan itu datang. Han membalikkan tubuhnya membawa gadis yang kini ketakutan ke dalam dekapan hangat nya.
Brenda awalnya takut dengan suara petir, kini lebih takut kalau degup jatungnya terdengar oleh Om asisten yang sedang memeluk dirinya.
“Om?”
Brenda melepaskan diri dari pelukan Han. Merasa tak enak dan salah tingkah. Brenda memutar arah pandangannya. Menetralkan nafas nya yang memburu turun naik.
Han kembali memutar tubuh ramping Brenda. Memandang sepasang manik indah milik Brenda manik mata yang mengingatkan dirinya akan Bela, kekasih nya yang tujuh tahun lalu meninggalkannya.
Entah bagaimana mula nya, dua bibir itu sudah saling memagut. Diiringi suara hujan lebat menambah gairah menggelora yang menggelayut di dada.
‘Ciuman ini, persis seperti ciuman pangeran di mimpi aku. Kenapa bibir Om asisten mirip banget sama bibir pangeran itu?’
Baru saja bibir tipis nya membelah, namun Han menyudahi kecupannya. Kecupan sekilas yang seperti nya akan membekas.
__ADS_1