
MENCINTAI OM ASISTEN 64
Bab 64 Bantuan Bela
Sore itu Brenda datang ke rumah sakit masih di antar oleh Han. Bukan karena keinginan gadis itu, namun karena Han yang memaksa untuk mengantarkan Brenda menemui orang tuanya.
Walau kenyataan pahit sedang berlangsung, drama paling sedih sedang di mainkan. Tapi hidup harus tetap berjalan. Berusaha kuat dan setegar batu karang.
“Halo Mama, ini Brenda bawain sup tim ayam. Tadi Brenda masak pagi pagi tapi baru sempat bawain sore. Maaf ya Ma, karena sejak pagi kerjaan menumpuk di kantor.”
“Ya ampun sayang, kamu udah pinter masak rupanya.”
“Mandiri karena terpaksa Ma.” Brenda menunjukkan deretan gigi putih nya.
__ADS_1
“Tadi dokter bilang Papa udah membaik dan berangsur stabil juga. Mudah mudahan dalam waktu dekat papa bisa segera sadar. Setiap hari Mama sudah menunggu waktu dimana papa kamu bangun dari tidur panjangnya Nak.”
“Iya Ma, Mama sabar dan harus kuat ya Ma. Demi aku sama Papa.”
“Oh ya, Nak Han, terima kasih selama ini sudah membantu perusahaan dan menjaga Brenda.” Ucap Mama Brenda.
“Selamat sore, Mbak Desi, bagaimana kondisi Mas Yanto?” Maaf baru sempat datang menjenguk, di café sedang ramai Mbak.” Rita datang dengan keranjang berisi buah buahan di tangannya. Saling mengecup pipi kiri dan kanan begitulah dua wanita satu generasi itu mengungkapkan rasa.
“Tante Rita.” Brenda menyalami Tante dari calon suami nya.
“Iya Tante, ini juga aku belajar dari Om asisten, gak tau gimana kalau gak ada Om ganteng ini.” Pujian Brenda barusan menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di ruangan itu.
Tawa bahagia yang baru saja muncul ke permukaan itu tak berlangsung lama. Karena tiba tiba Bela juga datang sore itu. Dengan membawa box berisi kue, Bela berjalan anggun, menundukkan kepalanya, memberikan hormat pada orang yang lebih tua.
__ADS_1
“Selamat sore Bu, sore Tante Rita, kebetulan ada Brenda dan Han juga disini. Maaf jika kedatangan saya mengganggu kalian semua.”
“Halo Bela. Kamu apa kabar?” Tante Rita adalah satu satu nya yang menyambut kedatangan Bela cukup antusias dan langsung memeluk wanita anggun yang terlanjur memiliki tempat tersendiri di hati Tante Rita.
“Tante Bela, terima kasih sudah mau datang menjenguk papa saya.” Sapa Brenda. Walau sedikit terkejut, tapi gadis itu berusaha menujukkan sikap paling biasa yang Ia bisa.
“Oh ya Brenda, sesuai janji saya, untuk administrasi tunggakan dan pengobatan sampai hari ini sudah selesai semua.” Bela memberikan senyum tulusnya.
“Ya Tante, saya mengucapkan terima kasih. Bagaimana soal surat perjanjian pembangunan hotel di Bali?”
“Besok pagi sekertaris saya akan datang ke kantor kamu untuk memberikan surat perjanjian yang baru. Saya sudah memberi tahu sekertaris saya agar di buatkan surat perjanjian baru mengenai penambahan waktu yang di butuhkan dikarenakan adanya kesalahan teknis yang terjadi di lapangan sehingga perlu di proses ulang pembangunannya.” Jelas Bela panjang lebar.
“Te-terima kasih Tante. Terima kasih atas bantuan yang Tante berikan.” Air mata Brenda sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Tak kuasa menahan haru antara senang dan lega mengetahui papa nya sudah keluar dari segala tuntutan yang sebentar lagi akan membelit jika tidak di lakukan upaya. Namun di sisi lain, itu artinya waktu bersama Om asisten kesayangannya juga sudah habis.
__ADS_1
Bukannya karena Brenda rela menukar cintanya sendiri demi menyelamatkan perusahaan papa nya. Jauh di lubuk hati nya pun Ia merasa tak rela. Tapi ini demi ratusan nasib karyawan yang bergantung di perusahaan. Demi pengobatan papa nya dan demi mama nya juga dirinya.