MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 55


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 55


Bab 55 Papa koma


Kenyataan akan kondisi papa yang begitu mengkhawatirkan rupanya benar bisa meluluh lantahkan dunia Brenda. Gadis mana yang seak kecil harus bergantung pada papa nya, kini hanya bisa terus menangis bersama sang mama menantikan papa nya sadar.


“Ma, apa papa bisa bertahan, kapan papa sadar.” Pertanyaan yang bolak balik mengisi percakapan ibu dan anak dua hari terakhir ini.


“Sabar Nak, semua ini sudah jalan Tuhan. Mama yakin Tuhan tidak akan membiarkan kita sendirian.”


“Iya Ma. Ma, tapi bagaimana perusahaan papa, pembangunan hotel di Bali sedang mengalami masalah. Pengeluaran begitu besar, sementara pemasukan kantor mulai menurun. Sejak berita mengenai perusahaan papa tersebar, beberapa tender papa di batalkan.”


“Mama juga bingung Nak. Mama tidak mungkin meninggalkan papa sendiri. Apa kamu bisa membantu papa di perusahaan? Tapi jurusan kamu kan juga beda.” Mama Brenda tertunduk lemas.


“Ya aku juga kan masih kuliah Ma. Kalau aku harus ke kantor, terus kuliah aku bagaimana?”


“Iya sayang, Mama tahu posisi kamu. Paling nanti coba kita pikirin lagi. Karena hidup kita dan ratusan karyawan lain di tangan papa kamu.”

__ADS_1


“Mama….” Ibu dan anak itu berpelukan.


Kemudian dokter dan dua orang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Pak Yanto pagi ini.


“Pagi Dokter.” Sapa Brenda dan mama nya.


“Pagi Bu, kondisi Pak Yanto masih belum ada kemajuan.” Dokter menjelaskan sembari menggelengkan kepalanya.


Mama Brenda menahan tangis nya untuk kesekian kali, sejak mendengar kondisi yang menimpa suami nya. Ia tak samai hati melihat raga tua seperti tak bernyawa. Laki laki baik yang sudah mengisi hari nya sampai saat ini.


Tak lama kemudian, Brenda masuk lagi. Kali ini raut wajahnya datar dan tak berexpresi. Tak senang maupun sedih. Walas ada luka besar tak berdarah karena ikut merasa sakit atas kondisi papa nya, tapi hidup harus tetap berjalan. Tak mungkin menghadapi hari esok hanya dengan tetesan air mata.


Papa nya terbaring lemah, entah kapan bisa kembali sadar. Ia memutuskan mengikuti saran Han untuk pulang ke rumah berganti pakaian formal dan mulai belajar ikut ke kantor. Setidaknya Ia harus hadir di berbagai rapat penting atau menandatangani beberapa dokumen yang benar benar tidak bisa di wakilkan oleh Han.


“Om, tunggu sebentar aku mandi dan bersiap untuk ke kantor.” Brenda bergegas dan Han menunggu di ruang tengah rumah mewah yang kini ikut bersedih atas masalah yang terjadi akhir akhir waktu.


Begitu tiba di kantor, hampir semua pasang mata memperhatikan gadis manja yang menyelinap di balik punggung tuan asisten. Hari ini Han akan memimpin rapat penting bersawa dewan petinggi di perusahaan, namun untuk keputusan terkait beberapa hal harus di lakukan oleh Brenda selaku perwakilan keluarga dari pimpinan.

__ADS_1


"Om, aku seperti nya berubah pikiran. Aku gak sanggup Om.” Brenda berbisik di balik punggung Han.


Han membalikkan tubuhnya dan membuat Brenda menabrakkan diri ke dada bidang miliknya.


“Aww, Om kenapa gak bilang bilang sih mau berhenti?”


“Brenda, mulai hari ini dan sampai entah kapan kamu harus siap menjadi pengganti dari papa kamu. Kamu mau papa kamu kehilangan segala nya?”


Brenda menggeleng sebagai awaban.


“Kamu mau lawan lawan kita di luar sana mentertawai kita?”


Brenda kembali menggeleng.


“Ya sudah kalau begitu, berjalan yang benar, menatap ke depan, angkat dagu mu. Kamu disini seorang pemimpin. Bukan hanya sekedar anak dari pimpinan.”


Kata kata Han sanggup membangkitkan semangat Brenda yang tadinya sudah pupus bahkan sebelum menghadapi apapun di kantor hari ini.

__ADS_1


__ADS_2