
MENCINTAI OM ASISTEN 79
Bab 79 Menunggu waktu
Berhari hari disibukkan dengan pekerjaan dan bolak balik kerumah sakit membuat Han menjadi lelah. Ia dipanggil oleh rasa kemanusiaannya untuk menemani Bela disisa waktu hidupnya. Kondisi Bela belakangan semakin drop. Bela mengalami koma karena tubuhnya tak merespon segala pengobatan.
Tubuh cantik Bela berubah menjadi kurus dan pucat.
Han selalu menemani Bela sepulang bekerja sampai larut malam.
“Pak, apa Anda keluarga pasien?” tanya seorang perawat wanita.
“Ya suster, jika ada yang perlu disampaikan bisa melalui saya. Pasien sudah tak memiliki keluarga dekat selain saya.”
“Kalau begitu apa Anda suaminya?”
“Bukan, saya hanya kerabat.”
“Dokter ingin bicara dengan perwakilan dari keluarga atau kerabat terdekat mengenai kondisi pasien.”
“Baik, saya akan menemui dokter.”
-
-
Han berjalan menyusuri koridor memenuhi undangan bertemu yang sempat di utarakan oleh perawat.
__ADS_1
“Malam Dok, saya Han, kerabat pasien bernama Bela Aninditya.”
“Oh ya, silahkan duduk. Begini, saya harus menyampaikan beberapa hal penting. Pertama mengenai kondisi fisik pasien yang saat ini terus menurun. Tubuh pasien menolak segala jenis obat yang masuk.”
“Apakah tidak ada cara lain, Dok?”
“Kita hanya harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Setelah kamu melakukan pemeriksaan lanjutan, pasien Bela pernah mengalami kanker sebelumnya, sekitar beberapa tahun lalu.”
“Ya Dok.” Han masih menyimak.”
“Sepertinya, setelah pasien dinyatakan sembuh, tidak melakukan pola hidup sehat, istirahat cukup dan pemeriksaan rutin kesehatan. Sehingga saat ini, pasien juga terlambat mengetahui bahwa sel kanker darahnya sudah menyebar hampir diseluruh tubuhnya.”
Han menutup mulutnya, mengernyit, mencoba meresapi semua fakta yang baru saja dijabarkan oleh dokter.
“Lalu apa yang bisa dilakukan Dok?”
“Hanya menunggu waktu. Berikan ketengan dan mengabulkan keinginan terakhirnya, untuk mempersiapkan segala resiko yang akan terjadi.”
Ia pun memutukan menginap malam itu menemani Bela yang terus tidur.
-
-
Pagi menjelang, suasana yang tadinya sepi kini sudah nampak beberapa perawat mondar mandir. Ada yang mengantarkan obat dan sarapan. Ada yang mengecheck suhu tubuh ada pulang petugas bersih bersih kamar yang datang.
Han pergi ke toilet membersihkan diri dan meminta izin lewat ponsel ke Pak Yanto untuk beberapa hari mengambil cuti. Ia hanya mengatakan bahwa ada urusan penting yang harus di benahi.
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin dari kantor, Han bergegas pulang dan mengambil beberapa potong pakaian di apartemennya untuk sementara ini menginap di rumah sakit menjaga Bela.
Belum lama Han mengemasi barang bawaannya, pihak rumah sakit kembali menghubunginya.
‘Apa, Bela sadar? Baik saya segera kesana.’
Han buru buru kembali kerumah sakit, jujur Ia merasa lega Bela akhirnya sadar dari tidur panjangnya. Setidaknya Ia perlu meluruskan beberapa hal dengan Bela.
“Bel, kamu sudah sadar?”
“Love, aku-mau-minta-bantuanmu.”
“Katakan, apa Bel, kalau saya bisa pasti ku kabulkan.”
“Aku ingin bertemu dengan Brenda.”
“Fokus saja pada kesehatanmu Bel. Saya akan menjaga kamu.”
“Love, aku tidak mau mati membawa dendam. Aku ingin meminta maaf pada Brenda.” Bawa gadismu menemuiku, sebelum waktuku habis.”
“Bel, istirahatlah dulu. Makan siangmu juga belum habis. Nanti saya cari waktu untuk mengajak Brenda datang menjengukmu.”
“Terima kasih Love. Satu lagi, aku ingin dipanggil seperti dulu lagi, waktuku tidak lama lagi, aku harap gadismu mau mengalah sebentar untukku.”
“Istirahatlah Bel.”
note:
__ADS_1
Jika berkenan boleh intip karyaku disebelah ya