
MENCINTAI OM ASISTEN 11
Bab 11 Sekali bohong terus bohong
Semburat cahaya matahari menyembul dari balik jendela kamar membuat sang penghuni yang masih ingin bergelung di balik selimut itu segera membuka mata nya lebar. Hari ini adalah hari kedua Brenda bekerja. Ia dituntut harus professional. Setelah sesi pemotretan hari ini, Brenda ada janji dengan Kak Wety untuk belajar.
Tokk
Tokk
“Nak, ayo kita sarapan bersama, kenapa belakangan ini kamu bangunnya kesiangan terus sih? Papa langsung masuk ya?”
“Iya Pa, Eh tunggu Pa…”
Menyadari kostum pemotretannya masih berada di dalam tas membuat gadis muda itu berangsur memboyong tas baju nya ke pojok lemari.
Tidak sabar menunggu, Papa Brenda langsung melangkah masuk ke dalam kamar putrinya.
“Brenda, kamu itu lagi kenapa sih? Kok tumben jam segini baru bangun, biasa nya pagi pagi sudah bantu Mama kamu bikin sarapan. Apa ada yang mau kamu ceritakan ke papa?”
“Gak kok pa, aku kan udah bilang papa, aku cuma kelelahan aja. Aku kan lagi coba coba cari kerjaan part time gitu. Nah kemarin itu temen aku ada yang nawarin kerja part time di restoran gitu.”
“Temen kamu juga kerja part time disana?”
“Temen aku yang punya restorannya Pa.”
“Oh ya, namanya siapa?”
Deg
“Ehmm, itu…namanya….itu…dia Sin…Sinta..iya si Sinta sekarang buka restoran Pa, restorannya rame banget, jadi ya gitu deh, sebagai anak baru ya aku mau donk tunjukkin sikap baik.” Kebohongan pertama yang keluar dari mulutnya tak terduga dan tanpa rencana. Gadis itu mengakhiri kalimatnya dengan nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Sinta? Emang kamu ada teman namanya Sinta ya?”
“Setahu papa, teman dekat kamu si Nathasya kan?”
“Ih Papa, aku kan temennya banyak kali, hehehe…”
“Ya sudah, papa ke bawah duluan ya, kamu cepetan siap siap, tidak baik anak gadis bangun siang terus.”
Beberapa hari berlalu, dan hari ini adalah hari pertama Brenda masuk sebagai mahasiswa di universitas bergengsi di kota Jakarta. Suatu kebanggan bahwa Brenda bisa masuk ke kampus bergengsi itu lewat jalur beasiwa full.
“Pa, Ma, Brenda berangkat dulu ya.” Gadis muda yang membiarkan rambut hitamnya terurai itu berlari kecil menuju mobilnya.
Setelah berpamitan dengan orangtuanya, Brenda melajukan sedan merah nya ke agency. Ya, pagi ini Brenda ada sesi pemotretan dulu sekitar dua jam , lalu setelah itu buru buru menuju kampus.
Dua jam kemudian Brenda tiba di kampus. Gadis itu dengan cekatan sudah berganti baju tadi setelah selesai pemotretan. Ia tidak mau ada yang tahu jejak pekerjaan nya, setidaknya saat ini Ia belum siap menerima gunjingan orang.
__ADS_1
Bruk
Laki laki yang usia nya agak jauh dari dirinya, kini tengah berusaha berdiri dan merapikan setelannya yang kotor akibat bertabrakan barusan.
Brenda terbelalak, mengetahui laki laki yang barusan di tabraknya adalah orang kepercayaan papa nya. Sejak menjadi asisten keluarga Yanto, Han memang sering di tugaskan mengantar dokumen penting ke rumah. Jadi wajahnya sudah familiar.
“Ma-maaf Om, maaf saya gak sengaja.”
Brenda pun bangkit dan buru buru merapikan setelannya yang berantakan juga. Kemudian mengeluarkan tisu untuk membersihkan bercak kotor di kemeja bagian depan laki laki yang Ia tabrak.
Baru saja Ia akan mengusapkan tisu, laki laki itu langsung pergi dan menghentakkan kaki nya.
‘Judes banget sih jadi laki. Entar gak dapet jodoh baru tahu. Huh.’
Tak menyangka bahwa kata katanya membuat pria tadi sempat menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah dirinya.
‘Om itu ngapain di kampus ya? Kok ada sih mahasiswa setua dia itu?’ Brenda bermonolog dengan dirinya sendiri.
Brenda melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan cuek. Laki laki itu hanya bisa menatap sinis gadis muda yang baru saja lewat dan sempat memaki dirinya.
Kelas pertamanya selesai. Saatnya Brenda harus buru buru kembali ke agency untuk sesi pemotretan selanjutnya. Karena waktu sudah mepet Ia buru buru berangkat tanpa mengganti pakaiannya lagi.
Tiba di agency, Brenda langsung menuju toilet dan mengganti pakaiannya, memoles tebal wajahnya sesuai arahan Kak Wety, kemudian menyunggingkan senyuman menggoda dan kerlingan nakal yang memang sedang dipelajari nya terus agar semakin luwes ke depannya.
“Brenda, kamu dari mana sih lama banget, itu tadi Mas Tio cariin kamu loh. Aku sudah berusaha buat alihin perhatiannya, tapi Mas Tio malah marah dan ngancem aku akan kehilangan pekerjaan aku sebagai model kalau aku bantuin kamu. Kamu temuin Mas Tio dulu deh, dia udah tanyain kamu terus dari tadi.”
“I-Iya deh Kak, aku ke ruangan Mas Tio dulu. Sorry udah bikin Kak Wety jadi sulit.”
“Permisi Mas Tio. Kata kak Wety , mas Tio cari saya ya?”
“Kamu kemana tadi? Yudi bilang sesi kamu masih ada yang belum selesai.”
“I-Iya Mas, ta-tadi saya ke kampus dulu sebentar. Hari ini hari pertama kuliah Mas.” Gadis itu menunduk seperti biasa. Napas nya mulai tak beraturan. Merasa ketakutan, Brenda meremas jemari nya sendiri. Buku buku jari nya sampai memutih.
“Kamu tahu, kamu itu cuma anak baru disini, jadi sebaiknya jaga sikap kamu.” Mas Tio mencengkram dagu Brenda sampai memerah. Mengangkat dagu gadis itu sampai hampir mensejajarkan dengan wajahnya.
“Sa-sakit Mas.”
“Sakit?”
“Ya mas.”
“Aku tidak peduli apapun yang kau lakukan diluar sana, tapi ingat disini kamu punya tanggung jawab.”
“Ya mas.”
Kemudian Tio melepaskan tangannya, Brenda yang tak pernah mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya jelas merasa hal seperti ini sangat keterlaluan dan beban besar untuknya.
Gadis itu menangis. Teringat kata kata Wety beberapa saat lalu, bahwa mas Tio memanglah sosok laki laki penuh ambisi dan kasar. Mengingat kita sangat membutuhkan pekerjaan ini, maka kita harus bisa menahan diri. Kita juga tak bisa lagi mundur dan membatalkan kontrak.
__ADS_1
Lagi pula Ia sangat membutuhkan pekerjaan, bermodalkan ijazah SMA, dimana Ia bisa mendapat pekerjaan dengan gaji sebesar seperti disini. Brenda menguatkan hati dengan segala kekuatan yang sudah dikumpulkan. Ia menghapus jejak air mata nya yang mulai menganak sungai di pelupuk dengan ibu jari nya.
Merapikan pakainnya, dengan mantap Brenda melangkah menuju ruang pemotretan. Mengibaskan rambut, mengangkat dagu, memperlihatkan dengan berani belahan dada nya yang ****.
Brenda menyelesaikan sesi pemotretan terakhir sampai hampir jam sembilan malam. Lelah membuat tubuh Brenda begitu menikmati istirahat nya saat ini. Walau sekedar menyandarkan tubuhnya dalam mobil, Ia merasa tenang.
Dret
Dret
Papa calling …
“Halo Pa, ada apa?”
“Brenda kamu dimana?”
“I-Ini dijalan pulang Pa, sebentar lagi sampai kok.”
“Jalan pulang? Memang kamu dari mana sih, ini kan sudah larut malam Brenda, bgini saja nanti Papa minta asisten papa untuk jemput kamu ya.”
“Pa, nanti aja kita bicara di rumah ya, Brenda nyetir dulu.”
Brenda mengakhiri sambungan telepon papa nya lebih dulu. Tak siap mendengar omelan papa nya di tengah kondisi lelah seperti ini.
Tiba di rumah, Brenda di sambut dengan papa dan mama nya yang sudah menunggu di depan pagar.
Memarkirkan mobilnya, kemudian Brenda segera turun memberikan ciuman seperti biasa, sejak tadi Ia sudah melatih wajahnya kembali agar terlihat santai dan ceria.
“Hai Pa, Ma..maaf ya Brenda pulang terlambat tadi jalanan macet.”
“Kamu itu dari mana sebenernya sih Nak, papa khawatir banget di telpon juga susah gak kaya biasanya deh.”
“Pa, aku kan kuliah sambil kerja part time di restoran temenku. Aku gak enak kalau harus bolak balik lihat ponsel.”
“Iya Papa paham soal itu, tapi Papa rasa kamu harus fokus kuliah Nak, gak perlu lah kerja part time segala, Papa masih mampu biayain kuliah kamu.”
“Pa, sebaiknya kita kasih waktu Brenda untuk mandi dulu, habis itu biar anak itu makan. Ini sudah malam pasti kamu laper kan sayang?” Mama Brenda memberikan kode pada anak gadisnya untuk menyelamatkan diri agar segera ke kamar.
Menyelinap di tengah situasi seperti ini bukan perkara mudah.
“Kamu mau kemana Ma?”
“Aku mau ..itu ehmm, mau bantuin Brenda siapin baju nya habis mandi jadi bisa cepet langsung makan.”
“Ma, sekalian disiapin air jahe madu Ma, supaya anak itu sehat, baru hari pertama kuliah aja udah pulang malam gini, Papa khawatir.”
“Iya Pa, nanti mama buatin buat Brenda dan Papa sekalian ya, sekarang Papa istirahat dulu aja, ke kamar duluan nanti Mama nyusul ya.”
“Iya Ma.
__ADS_1
Bergegas menuju kamar Brenda, tentu setelah memastikan suami nya sudah masuk ke kamar.