
MENCINTAI OM ASISTEN 16
Bab 16 Pangeran berkuda putih
Terhuyung karena pusing tiba tiba melanda. Brenda yang berusaha menstabilkan diri malah jatuh pingsan tepat di depan pintu toilet. Suara bising di seluruh area membuat tak ada orang yang menyadari seorang gadis muda yang pingsan.
Malam segera berganti dan Mama Brenda yang tak bisa tidur, terus menerus melihat ke jendela mengawasi apakah anak gadisnya sudah pulang atau belum. Sesuai perjanjian bahwa Brenda harusnya tiba di rumah jam dua dini hari paling telat.
Nyeri terasa pekat di ulu hati. Rasa aneh menjalar di sekujur wajah, membuat gadis itu memilih memejamkan mata indahnya saat tubuhnya terpaksa di gendong oleh seorang laki laki bertubuh tinggi berkulit putih.
Merasa semakin aneh karena pakaian yang dikenakan oleh laki laki yang kini menggendongnya seperti seorang ksatria entah dari mana asalnya. Lengkap dengan pedang berlapis emas di samping terikat di pinggang.
Laki laki itu menunggang kuda putih yang begitu gagah. Dalam diam Brenda menikmati pelukan hangat sang pangeran berkuda putih. Pikirannya berkelana, saat sang pangeran kembali mendekap erat tubuh lemah nya dan membawa ke kamar di sebuah istana nan megah. Kamar nuansa khas kerajaan.
Kamar dengan banyak nya lukisan leluhur memberikan kesan tersendiri bagi Brenda yang masih asyik menikmati dekap hangat pangeran nya.
Lagi lagi Brenda merasa bahwa sang pangeran tengah menatap dirinya penuh cinta. Wajahnya pun semakin mendekat, membuat jarak yang sejak tadi ada kini terkikis. Menikmati hembusan nafas dari pangeran itu, Brenda membuka bibir ranum nya perlahan Mengizinkan pangeran menciumnya dan begitu manis terasa.
__ADS_1
Ini kah yang dinamakan cinta? Begitu indah. Terbang melayang ke udara, itulah yang kni di rasakan oleh gadis muda yang masih betah memejamkan matanya.
Brukk
Tak sengaja Han menabrak dinding tepat di depan pintu kamarnya.
Gadis yang semula di gendongnya, kini melompat turun mengaduh sakit.
“Aww sakit. Si-siapa kau? Ma-mau apa? Dimana ini? Jangan gila, TOLONGGGG.” Saat sadar dari mimpi nya Brenda berteriak histeris karena mendapati dirinya berada di tempat asing.
“Hey Nona, bisa pelankan suara mu? Ini apartemen bukan hutan, tolong jaga sikapmu.”
Brenda kembali pingsan.
‘Cih merepotkan sekali gadis ini.’ Han harus menggendong lagi gadis yang kini kembali pingsan, dan meletakkan nya di kamarnya. Sementara Ia sendiri tidur di sofa.
Han, laki laki dewasa, berprofesi sebagai asisten Pak Yanto owner perusahaan kontraktor yang tak terlalu besar.
__ADS_1
Ia sangat membutuhkan pekerjaan untuk dapat membiayai pengobatan adik perempuannya yang memiliki keterbelakangan mental.
Pagi menjemput saat Brenda menyesap aroma maskulin dari guling yang Ia peluk. Merasa asing dengan indera penciumannya, kemudian Ia membuka mata nya. Berusaha menyadarkan diri dari tidur nya,Brenda terbelalak dengan kondisi nya saat ini.
Ia tengah berada di rumah seseorang. Gadis itu berusaha keras mengumpulkan kepingan ingatan nya semalam. Ingatan terakhirnya adalah Ia berada di tengah pesta bersama rekan rekan model nya. Dan seharusnya Kak Wety lah yang mengantarnya pulang.
Kaget, Ia pun segera membuka selimut yang tengah membungkus tubuhnya, memerika pakaiannya semua masih sama seperti yang di gunakannya kemarin malam. Hanya saja Ia tak menemukan tas tangan nya. Kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.
Mendesahkan nafas penuh kelegaan, bersyukur bahwa pakaiannya masih lengkap dan tak berubah sama sekali.
Tepat saat pintu kamar mandi di kamar itu dibuka dari dalam, gadis itu terlonjak di tempatnya.
“Ahhhh setannnnn.” Teriak Brenda panik.
Han berlari membungkam mulut gadis yang kini tengah menutup mata dengan kedua tangannya sembari berteriak setan pada dirinya.
“Hey Nona, tolong jaga sikap mu, kita bisa di usir paksa dari apartemen ini.”
__ADS_1
“Om asisten, kenapa Om ada di sini? Om bawa aku kemana, Om jangan macem macem ya sama aku, aku bisa laporin Om ke papa.” Ancam Brenda