
MENCINTAI OM ASISTEN 33
Bab 33 Aku takut, Om
Pagi menjemput secepat kilat, bahkan sebelum matahari muncul orang tua Brenda sudah berada di apartemen sederhana milih Han.
Tokk
Tokk
“Han, Han.” Panggil seseorang dari luar dengan nada tak sabaran.
Han sudah rapih dan sedang meneguk kopi panasnya di dapur sendirian.
Han membuka pintu dan langsung menerima bogem mentah dari Pak Yanto. Sebenarnya sejak pagi pagi sekali Han bangun dan sudah bersiap untuk mengantarkan Brenda pulang ke rumah. Namun malang nasib nya, keburu sang calon mertua sekaligus atasannya
“Papa… sabar dulu Pa..” hardik Mama Brenda yang tak menyangka dengan emosi suami nya yang sudah sampai di ubun ubun.
“Brenda, Brenda, keluar sekarang kamu Nak.” Panggil Pak Yanto tak sabaran.
__ADS_1
“Brenda, kamu dimana sayang?” Mama Brenda ikut memanggil nama putri nya.
“Han, suruh putri ku keluar sekarang juga. Kenapa putri ku tak langsung diantar pulang semalam? Katakan apa yang kamu lakukan dengan putri ku, katakan!” amarah Papa Brenda rasanya sudah tak mungkin di bendung lagi.
Brenda yang baru bangun langsung berlari keluar kamar dan terkejut dengan suara ribut ribut yang ternyata adalah kedatangan orang tuanya.
“Papa, Mama.” Brenda berlari menangis dan memeluk Papa nya.
“Sudah Pa, bukan salah Om, ini salah aku Pa, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku pada Papa. Papa boleh memarahiku sampai puas Pa. Tapi jangan pukul Om asisten lagi. Om yang nolongin aku Pa. Aku mohon sama Papa, jangan marah sama Om asisten Pa, aku mohon.” Brenda memohon pada papa nya dengan berlinang air mata. Gadis itu masih menggunakan kaos kebesaran milik Han yang di pinjamkan semalam.
“Apa maksud kamu?” Papa Brenda mulai melunak dan mau mendengarkan putri nya yang memohon dengan linangan air mata.
Semalam Han sempat memberi kabar, bahwa Brenda sudah di temukan dan sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen dulu untuk mengobati luka. Han mengaku bahwa Ia sempat berkelahi dengan penculik yang sempat membawa Brenda. Setelah itu ponsel Han mati total kaca nya retak akibat berkelahi.
Namun sampai pagi datang Papa Brenda yang terus menunggu tak kunjung mendapati kepulangan putri nya.
“Pak, maaf, saya salah. Seharusnya saya mengantarkan Brenda pulang semalam. Tapi kondisinya tak memungkinkan Pak. Brenda saya temukan dalam kondisi yang tidak pantas Pak. Brenda dalam pengaruh minuman alkohol dan ketika saya membawa Brenda pulang. Di tengah jalan mobil kami di hadang oleh sekawanan penculik. Saya sempat berkelahi dan kalah jumlah oleh beberapa orang yang memakai penutup wajah. Mereka berhasil membawa Brenda dalam keadaan mabuk Pak.”
“Astaga, Brenda, kamu tapi gak papa kan Nak. Mana yang sakit? Ada luka atau ….”
__ADS_1
“Ma, bawa Brenda ke mobil. Kita pulang sekarang. Han saya tunggu kamu dan Rita di rumah saya malam ini. Saya perlu bicara dengan Rita.”
“Baik Pak. Sekali lagi maafkan saya Pak.”
Han tak bisa menolak dan mengelak lagi. Saat ini Ia tahu sudah mengecewakan hati Pak Yanto, orang yang sudah berjasa tak hanya untuk Tante Rita, tapi juga untuk dirinya. Pak Yanto menerima nya menjadi asisten dan mengajari nya dengan sabar dan telaten hingga seperti sekarang.
Kejadian semalam memang berawal dari Han yang terlambat menjemput, sehingga timbul kesalahpahaman yang membuat Brenda nekad berbohong pada orang orang tuanya demi mencari hiburan lagi di tempat yang salah.
Maklum, Brenda di usia nya yang masih muda memang sedang mencari jati diri nya. Pergaulan akan menentukan masa depan, demikian petuah yang selalu di lontarkan oleh papa nya. Saat ini semua itu kian nyata di depan mata Brenda. Ia sudah salah bergaul Ia sudah salah memilih teman dan mungkin saja salah masuk lingkungan.
Sepanjang perjalanan pulang, Brenda terus menangis, tak berani bersuara, hanya menatap jendela dan pemandangan luar.
Kelopak indahnya terus menganak sungai memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Mana ada wanita baik baik yang menginap di rumah laki laki yang belum menjadi suami sah nya, tanpa seijin orang tuanya. Apalagi sebentar lagi Papa nya akan memaksanya menceritakan semua kejadian tu berawal. Dimana Ia di temukan dalam keadaan mabuk dan pengaruh obat perangsang.
Brenda hanya sanggup memeluk kesedihannya sendiri. Kini Mama nya pun tak lagi di pihak nya.
‘Aku takut, Om.’ Brenda bergumam dalam hati.
__ADS_1