MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 52


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 52


Bab 52 Kalau cinta bilang cinta


Sepulang kuliah seperti biasa beberapa hari ini walau Brenda menghindar tapi Han terus saja memaksa mengantar jemput. Ia sudah lumayan hafal dengan sikap Brenda yang bolak balik memutuskan hubungan secara sepihak.


“Brenda, kabari orang tuamu, kamu akan makan malam dengan saya. Saya yakin kamu tidak akan pernah bersedia di waktu lain, selain pulang kuliah. Saya harus bicara sama kamu tentang kita.”


“Om, saya kan udah bilang, kalau mau antar jemput aku hanya sebatas Om itu asisten nya Papa.”


“Tapi kamu tidak berhak mengatur hati saya.”


“Apalagi sih yang mau di bahas Om?”


Han menepikan mobil nya.


Saat Han sudah siap berbicara dan merubah posisi duduk nya jadi menghadap ke Brenda, gadis itu memasang kuda kuda takut seperti sebelum sebelumnya, luluh hanya karena sebuah sapuan pada bibir nya.


“Tunggu Om! Janji hanya bicara dan tidak aneh aneh.”


“Ya saya janji.”


“Oke kalau gitu cepat Om katakan.”

__ADS_1


“Brenda, saya cinta sama kamu.” Laki laki dewasa itu menatap Brenda dengan tatapan tak biasa. Tajam dan menembus sampai ke rongga jiwa.


“Lalu?”


“Saya serius Brenda, saya cinta sama kamu, saya mau hubungan kita seara serius dan tidak ada lagi sifat ke kanak kanakan yang minta putus berulang kali, kabur tanpa alasan. Kamu tahu rasanya? Sakit.”


“Apa? Om bilang sakit? Gimana aku Om. Tante Bela datang menemui aku lagi untuk yang ke sekian kali nya.”


“Katakan apa yang dia bilang?”


“Tante Bela hamil. Dia menunjukkan hasil tes kehamilan berupa garis dua warna merah kepada aku dan mama. Sakit? Tentu disini aku yang lebih sakit Om.”


Mendengar perkataan Brenda, Han teringat sekitar dua minggu lalu saat Bela mendatangi nya di kantor pagi hari. Wanita itu mengaku hamil saat datang ke kantor, tapi bukan untuk meminta pertanggung jawaban hanya menjelaskan seberapa Ia dan calon buah hati nya membutuhkan Han.


“Apa Om?”


“Saya tidak pernah melakukan hal yang tidak pantas pada Bela. Bela hanya masa lalu buat saya, dan kamu masa depan saya. Saya cinta kamu, saya menghargai kamu, jadi saya tidak mungkin berbuat macam macam pada wanita lain. Kamu paham sampai disini?”


“Om, sekali pun saya paham tapi saya menolak. Atas dasar apa Om yakin itu bukan anak Om?”


“Karena saya yakin saya tidak merasa melakukan apapun. Bela gila, dia sudah gila menuduh saya seperti itu. Saya mohon kamu percaya sama saya.”


“Om, cukup Om.” Brenda menepis tangan Han yang hendak menggenggam tangannya.

__ADS_1


“Brenda, memang dulu hati ini begitu menginginkan Bela. Saya pernah sangat menyesali mengapa Bela meninggalkan saya. Tapi saya bersyukur bisa bertemu Pak Yanto dan akhirnya bertemu kamu.”


“Tapi Om.”


“Saya tegaskan saya tidak pernah melakukan perbuatan tidak pantas pada wanita manapun. Cinta itu dilandasi saling percaya satu sama lain.”


“Aku gak tau Om, jujur aku bingung.”


Han mengela napas nya kasar. Ia kebingungan sendiri menghadapi gadis kecil nya yang mudah sekali terombang ambing oleh fitnah Bela.


“Sekarang saya tanya, apa kamu benar benar tidak mencintai saya lagi?”


“Aku…” Brenda menggantungkan jawabannya dengan menunduk. Ia takut air mata nya yang sudah menganak sungai mengalir ke pipi.


“Katakan Brenda, saya butuh kejelasan. Tatap mata saya.”


“Aku….”


“Kalau cinta bilang cinta.” Goda Han. Suara nya melunak tidak lagi se serius tadi.


“Apa sih Om.” Brenda buru buru menghapus jejak air mata nya dengan ibu jari.


 

__ADS_1


__ADS_2