
MENCINTAI OM ASISTEN 49
Bab 49 Karena saya begitu mencintai dia
Setelah menemui pimpinan kontraktor yang sudah di kontrak Bela untuk menangani pembangunan hotel nya, Bela langsung pulang lagi ke Jakarta. Wanita itu memilih pulang ke rumah untuk beristirahat.
Bela masuk ke rumah nya dan tidak curiga sama sekali dengan mobil milik Han yang entah sejak kapan menunggu kepulangan dirinya.
‘Bela, saya ingin bicara dengan kamu.’ Han mengirim pesan singkat dan mengatan bahwa Ia sudah di depan rumah.
Bela membaca pesan di ponsel nya kemudian tersenyum setelah meneguk habis beberapa tablet obat rutin nya.
Bela keluar dan menyambut laki laki yang kini mendatangi nya duluan. Ya, Ia berharap kali ini rencana nya berhasil. Ia tak ingin lagi kehilangan dan menderita seperti sebelumnya.
Saat berjalan Bela merasa dunia nya tiba tiba berputar, penglihatannya mulai kabur dan tubuhnya terhuyung.
Bela jatuh pingsan di halaman rumah nya. Han membuka pintu dan membopong tubuh Bela masuk ke dalam mobil nya. Demi rasa kemanusiaan, Han langsung membawa Bela ke rumah sakit.
‘Astaga kamu kenapa Bel? Kemarin kamu bilang semua baik baik saja.’ Han yang tengah khawatir sesekali menengok melihat wajah pucat Bela.
__ADS_1
Sesampai nya di rumah sakit, Bela di tangani dokter jaga di ruang UGD. Han hanya di perbolehkan menunggu di luar. Laki laki dewasa itu kemudian menggulung lengan kemeja nya sebatas siku.
Perawat beberapa kali keluar masuk ruang pemeriksaan UGD. Jujur saja, Han mengkhawatirkan keadaan Bela saat ini. Ia tidak sampai hati jika Bela sampai harus mengulang masa masa dimana menjadi pejuang penyakit kanker lagi.
Setelah memastikan kondisi Bela sudah stabil, dokter keluar dan menjelaskan kepada Han, karena pria dewasa itu satu satu nya keluarga atau kerabat yang mengantarkan Bela ke rumah sakit.
“Keluarga pasien Bela Aninditya.” Panggil dokter.
“Dok, maaf saya teman nya. Saya yang mengantar Bela tadi.”
“Apakah tidak ada keluarganya?”
“Nanti saya akan menyampaikan ke pihak keluarga nya yang lain dok, setahu saya orang tuanya sudah lama meninggal dan saat ini Bela memang sebatang kara. Tapi mungkin ada keluarga besar yang lain.”
Penjelasan dokter sedikitpun tak ada yang membuat Han curiga sedikitpun. Setidaknya laki laki itu merasa tenang Bela hanya di diagnosa Hipotensi Ortostatik. Dokter hanya menyuntikkan vitamin dan meresepkan juga obat obatan penunjang lainnya.
Han menebus obat di apotik. Masih dengan tenang tanpa menaruh curiga Han menerima semua obat yang di berikan pada kasir apotik.
Setelah di infus selama semalaman Bela di izinkan pulang ke rumah. Tentu wanita itu dengan senang hati dan tanpa beban meminta bantuan lagi pada Han untuk mengantarkan nya pulang ke rumah.
__ADS_1
“Apa semua sudah baik baik saja?”
“Ya, seperti yang kamu liat, aku baik Han. Terima kasih atas perhatian mu.”
Han mengantarkan Bela ke rumah dan berniat langsung kembali ke kantor membiarkan Bela beristirahat. Han melunak, dirinya semakin tak tega dengan kondisi Bela. Wajah Bela masih pucat.
“Han, aku punya satu permintaan.”
“Apa katakana lah, kalau saya bisa, saya akan ….’
“Aku mencintaimu. Aku hanya mohon kamu untuk mengizinkan aku mencintaimu. Cinta yang sama besar nya dengan rasa yang dulu.”
“Bela, saya rasa kamu tahu persis bagaimana saya. Saya selalu menjaga kesetiaan hati saya. Saya hanya tidak ingin kamu melukai diri kamu sendiri dengan terus menjaga perasaan itu. Perasaan itu tak pantas untuk ada di hati kamu. Raih lah cinta mu di tempat lain.”
“Han…aku masih mencintai mu sama persis, seperti dulu. Semua tidak berubah tidak ada yang berubah.”
“Bela, cukup. Saya disini hanya untuk membantu kamu. Itu saja.”
“Han kamu begitu teganya….”
__ADS_1
“Itu karena saya begitu mencintai Brenda.”
Han bergegas pulang walau Bela masih terus memanggil manggil namanya. Han tak mempedulikan nya. Semakin lama mereka bersama semakin akan membuat Bela terjebak dalam perasaan nya sendiri.