
MENCINTAI OM ASISTEN 67
Bab 67 Berpelukan
Brenda buru buru lari menuju mama nya. Saat ini tak ada yang lebih penting dari kesembuhan papa nya.
Dunia terasa berhenti berputar kala papa nya terbaring tak berdaya.
“Brenda, apa yang terjadi kenapa lari lari.” Dari arah belakang Han datang dan menghampiri Brenda.
“Om, papa Om, Papa sudah sadar.”
Mendengar pernyataan Brenda, laki laki dewasa itu pun bergegas mengikuti langkah Brenda untuk menengok kondisi atasannya yang sudah beberapa waktu belakangan hanya tertidur di ranjang rumah sakit.
“Papa, Papa sudah sadar.” Brenda langsung menghampiri papa nya dan bersimbah air mata. Membasahi pipi mulus yang kini mulai mengempes. ***** makan hilang perlahan karena masalah datang bertubi tubi akhir akhir ini.
“Brenda, biar Papa kamu di periksa dulu sama dokter, tadi mama sudah lapor dengan perawat.”
Kondisi Pak Yanto sudah benar benar stabil dan bisa mulai berbicara walaupun masih tertatih tatih.
Han membiarkan keluarga itu melepas rindu sebisa yang mereka lakukan. Ia menunggu di luar sembari menatap cincin yang melingkar di jari manis sebelah kiri.
__ADS_1
‘Andai dunia bisa memberikan belas kasihan pada ku…..’
“Halo sayang, sudah ku kira kamu disini. Bagaimana kondisi Pak Yanto, apa sudah sadar?” Bela datang membawa se buket bunga mawar merah segar.
“Bela? Ya Di dalam dokter sedang menyampaikan kondisi Pak Yanto pada keluarganya. Pak Yanto baru saja sadar.”
“Baguslah, aku ikut senang mendengarnya.” Bela tersenyum ramah, bergelayut di bahu Han dan menempelkan pipi nya.
‘Bela, dulu kamu pergi membawa cintaku, dan sekarang kamu kembali dan merampas cintaku.’ Han lagi lagi tak sanggup mengungkapkan isi hatinya.
Brenda membuka pintu, niatnya mempersilahkan Han masuk dan mengbrol bersama Papa nya, tapi ternyata ada Bela yang menempel.
“Om, papa ingin bertemu dengan ……..Om.”
“Tante Bela, sudah lama datang? Kenapa tidak masuk saja? Papa ku baru sadar. Aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi karena Tante sudah memberikan bantuan pada keluarga ku.”
“Tidak masalah Brenda. Dari awal kita bertemu, saya juga tidak menyangka bahwa saya di takdirkan untuk membantu kamu. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sebagai sesama manusia.”
“Tante.” Brenda memeluk Bela, sebagai ungkapan terima kasih karena Bela menanggung biaya perawatan dan pengobatan Papa nya, memutuskan untuk tidak menuntut atas bangunan hotel nya yang roboh, serta membantu perusahaan papa nya, agar kembali dalam zona aman. Walau Ia harus menanggung resiko nya mengembalikan Han ke pelukan Bela. Mungkin ini yang terbaik, mencintai secara luar biasa adalah tidak harus memiliki. Kini gadis itu hanya bisa pasrah dengan keadaan. Kemana hidup akan membawanya.
Tak lama Brenda mempersilahkan Bela untuk masuk ke kamar rawat sang papa.
__ADS_1
“Ibu Bela?” ucap papa Brenda terkejut.
“Ya Pak yanto, bagaimana keadaannya? Sudah merasa lebih baik?’
“Terima kasih Bu Bela sudah menyempatkan datang menjenguk saya. Maaf karena harus merepotkan Ibu Bela.”
“Pak, yang terpenting adalah kesehatan Bapak, karena istri dan putri bapak membutuhkan itu.” Ucap Bela ramah. Bela pintar memanfaatkan keadaan. Papa Brenda memang belum tahu sifat asli Bela, merasa tidak enak karena Bela sudah berbaik hati datang menjenguk.
Setengah jam waktu yang di berikan oleh dokter untuk saling mengbrol pun sudah habis. Han kembali harus mengantarkan Bela pulang ke rumahnya layaknya sepasang kekasih.
“Brenda saya harus mengantarkan Bela pulang dulu, nanti malam saya kembali kesini.” Ucap Han menatap ke arah Brenda. Sedangkan Brenda hanya menunduk.
“Oh iya silahkan Om. Tante Bela hati hati di jalan.”
“Mari Pak, Bu.” Bela yang tak tahu diri terus menempel pada Han. Hal ini jelas mengundang tanya dalam benak papa Brenda yang baru saja sadar dari koma.
“Brenda seperti nya papa sudah terlewat banyak hal selama sakit.”
“Ya Pa. Nanti aku akan ceritakan semua.”
“Tanpa terlewat sedikit pun?”
__ADS_1
“Tanpa ada yang aku tutupi.”
“Janji pada papa.” Papa Brenda menjulurkan kelingkingnya yang sudah mulai keriput termakan usia.