MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 58


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 58


Bab 58 Bisnis memang kejam


Han langsung mencari tahu pemilik hotel di Bali yang pembangunannya bermasalah. Berkali kali data yang di dapatkan menunjukkan nama yang sama. Nama yang seperti sudah tak asing bagi nya. Bela Aninditya.


‘Bela Aninditya? Dia pemilik hotel di Bali yang proyek nya sedang kita tangani? Apa Brenda sudah tahu ya mengenai ini?’ Han mendadak gusar dengan penemuan baru nya.


Kebetulan hari sudah malam dan Han baru mencari informasi ini setelah mengantarkan Brenda pulang ke rumah. Brenda yang skarang jauh lebih pemberani. Brenda tak lagi penakut seperti dulu waktu pertama kali harus sendiran di rumah.


Han memutuskan untuk membahas kalau sebenarnya Bela yang mereka kenal adalah pemilik hotel yang sedang mengalami kendala pembangunan di Bali.


Han merasa masalah ini akan segera menemukan titik terang. Mungkin saja Bela akan berbaik hati untuk memberikan perpanjangan waktu perbaikan untuk mengulang pembangunan.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, kebetulan jarak rumah Bela dan rumahnya tidak terlalu jauh. Han memutuskan menemui wanita masa lalu nya dan berharap Bela bisa membantu Brenda menyelesaikan masalah keluarganya dengan baik.


Menekan bel rumah Bela di malam yang sunyi, Han merapatkan jaket yang Ia kenakan karena dinginnya malam itu menusuk sampai ke tulang.


“Han? Apa yang membawamu menemui ku malam begini?” Bertanya dengan memeluk sosok yang begitu Ia rindukan. Walau terkesan tak tahu malu, tapi Bela merasa di atas awan kala Han tak menghindar dan menerima ciuman yang di labuhkan ke pipi nya.


“Ada yang ingin saya bicarakan, apa saya mengganggu?”

__ADS_1


“Tentu tidak Han, kamu tahu kita bukan orang lain. Masuklah ke dalam udara malam tidak baik untuk kesehatan.”


Han mengikuti langkah anggun Bela menuju ke dalam rumah. Dengan ramah Bela mempersilahkan Han duduk sembari menunggu di buatkan kopi hangat.


“Ini kopi hitam dan gulanya satu sendok teh.” Bela mempersilahkan tamu nya sembari memperjelas bahwa dirinya masih mengingat dengan jelas kopi yang paling di sukai oleh Han.


“Terima kasih Bel, kamu masih mengingatnya.”


“Tentu aku mengingatnya, aku….” Bela menggantungkan kalimatnya.


Sejenak tatapan mereka beradu pandang, Bela menangkap dengan jelas tatapan han kini bukan lagi tertuju pada dirinya seorang. Han buru buru menurunkan pandangannya dan tak lagi memberikan kesempatan pada dirinya.


“Jadi, apa yang bisa aku bantu untukmu?”


Bela tersenyum kecut begitu mendengar nama Brenda di sebut. Walau ia tahu saat ini akan tiba, tapi Ia tak siap jika nanti nya Han akan menolak dirinya demi Brenda.


“Lalu, apa yang bisa aku bantu untuk mu? Apa yang membuatmu mendatangiku?”


“Begini Bel…maksud saya, apakah bisa….”


“Tidak, tentu tidak bisa, semua hal yang berkaitan dengan Brenda, tentu aku tidak bisa.”

__ADS_1


“Bela, dalam bisnis kita tidak bisa terbawa perasaan dan mencampur aduk dengan masalah pribadi.”


“Baik lah. Lalu apa tujuan mu mendatangi ku? Bukan kah dengan mendatangi ku, kamu berarap aku akan berbelas kasih untuk kekasih manja mu itu. Atau aku harus menggunakan perasaan ku dalam berbisnis, mencampur adukkan masalah pribadi kita? Tentu kalau kamu menginginkan itu, aku akan memberikan belas kasihan ku pada pria tua yang kini berbaring lemah. Sejujurnya aku pun ingin menggunakan perasaan dan rasa kemanusiaan, tapi karena gadis manja mu tidak mau mundur dan terus menyaingiku. Apa boleh buat, aku akan terus maju dan menantangnya.” Bela tersenyum puas lalu tertawa.


Han geram mendengar pernyataan Bela. Ia tidak menyangka pernah terbuai dan jatuh dalam rasa yang kini Ia sesali.


“Lalu aku tidak perlu menuntut atas apa yang terjadi sekalipun itu merugikan ku? Oh ayolah Han, pria tua bodoh itu sudah menyusahkan ku dengan menghambat pembangunan hotelku yang jika sesuai jadwal akan selesai dua tahun dari sekarang.”


“Saya tidak pernah menyangka kamu seorang yang licik Bel.”


“Aku mencintaimu Han, dulu, hingga saat ini. Rasa yang terus menghantui aku dan tidak pernah lekang oleh waktu. Aku, Bela Aninditya akan melakukan apapun untuk orang yang aku cintai.”


“Baik. Apa yang kamu inginkan untuk menukarnya?”


“Aku memiliki cinta yang egois yang tak mampu berbagi dengan wanita manapun. Aku ingin kita menikah. Aku sangat mencintaimu Han.”


Untuk kedua kali nya setelah menangisi kepergian orang tuanya dulu, kini mata laki laki dewasa itu memerah, berembun. Urat urat di pelipis nya menonjol karena menahan emosi.


“Bisnis itu kejam, sayang. Aku ingin kamu memikirkan semua kata kata ku, Aku berbicara menggunakan hati ku, seperti yang kamu mau. Aku tunggu jawaban mu secepatnya. Karena aku yakin pria tua itu …ah maksud ku mantan calon mertuamu itu butuh dana besar untuk pengobatan.”


Han pergi begitu saja tanpa berpamitan. Matanya panas dan hati nya begitu marah mendengar Bela sejak tadi.

__ADS_1


 


__ADS_2