
MENCINTAI OM ASISTEN 40
Bab 40 Aku berhak memilih cintaku sendiri
Membuat Han menunggu sama dengan membuat dirinya tidak bisa berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya yang memang sedang banyak banyaknya.
“Om, masih mau nungguin aku sampai pagi?” tanya Brenda tanpa melihat kea rah lawan bicaranya.
Tak kunjung mendapat jawaban, Brenda penasaran dan mengangkat pandangannya. Ia di kejutkan dengan Han yang sudah berada tak jauh dari tempatnya. Laki laki itu sudah duduk di bibir ranjang. Jakarak semakin dekat membuat Brenda semakin salah tingkah sendiri.
“Om..”
“Tugas nya di tutup saja buat besok lagi, jangan memaksakan diri hanya karena ingin mendhindari saya.”
Han menutup buku buku tugas di hadapan Brenda. Menarik tangan gadis itu, merengkuh bahu nya, memaksa gadis itu berjalan menuju lemari pakaian.
“Ganti pakaian jangan terlalu lama, sudah malam, saya lapar. Nanti pingsan.”
Brenda menurut kali ini, kalau Ia berkeras kepala toh Han akan tetap memilih menungguinya dan Ia hanya akan membuang waktu tak bisa mengerjakan tugas. Kehadiran Han mampu membuat dunianya beralih.
Han berpamitan apda orang tua Brenda untuk membawa anak gadis nya keluar malam.
“Om, kenapa gak makan dirumah saja?”
“Tante Rita lagi sibuk sama Cyntia jadi gak masak.”
“Tadi bisa makan masakan Mama sih harusnya kalau mau.”
“Tapi saya gak mau, saya mau nya makan kamu.”
Han menepikan mobil kesayangannya di sebuah café tak terlalu mewah. Setidaknya Ia selalu memilih tempat yang sesuai dengan kemampuannya.
Wanita mana yang tidak tersentuh mendengar ucapan laki laki rupawan. Sebut saja Brenda gadis gila, ya dirinya memang tergila gila dengan Om asisten papa nya.
Han memesan makanan berat dan orange juice. Sementara Brenda yang awal nya menolak untuk makan, kini terpaksa melahap steak nya.
__ADS_1
‘Wangi juga steak nya. Rasanya pasti enak.’ Indera penciumannya kini berkhianat dengan mengendus aroma luar biasa dari potongan daging di hadapannya.
“Makan lah selagi hangat, nanti perutmu keburu teriak.” Han menyunggingkann senyuman.
Akhirnya Brenda dan Han makan dalam diam. Hanya dentingan alat makan yang menjadi saksi bahwa pasangan itu sebenarnya sudah menahan lapar demi gengsi masing masing.
“Terima kasih Om atas traktirannya, aku mau pulang sekarang. Aku masih banyak tugas Om.”
Brenda berdiri dari kursi nya, tak sengaja Ia pun menyenggol salah satu pramusaji yang lewat membawa nampan berisi minuman. Minuman itu tumpah mengenai seorang pria botak dan galak di sebelah meja.
“Hei Nona, tolong hati hati, baju saya jadi basah semua!”
“Astaga, maaf Om. Aku gak sengaja.”
“Om? Saya bukan Om kamu, dan maaf kamu gak bikin baju saya kering!”
Baru saja Brenda hendak melawan, namun Han sudah berdiri disampingnya memeluk bahu gadis yang sudah terpancing emosi.
“Maaf Pak, maafkan calon istri saya, dia tadi gak sengaja.”
“Ya sudah kalau gitu, di jaga ya calon istri nya. Lain kali jangan sampai masalah rumah tangga di bawa bawa keluar, jadi ribet kalau basahin baju orang begini.”
Demi menghindari perdebatan lebih lanjut, akhirnya Han membawa Brenda ke mobil.
“Om, tadi kan aku gak sengaja, kenapa sih Om minta maaf sampai berkali kali?”
“Lalu saya harus apa?”
“Makanya Om, tadi aku bilang juga apa? Gak usah keluar Om nya juga ngeyel.”
“Cinta itu gak pernah salah, mungkin saya yang salah, jadi tolong maafkan saya ya.” Han tiba tiba melancarkan aksi nya dengan menggenggam erat tangan Brenda, mencium punggung tangan yang tiba tiba basah berkeringat karena grogi.
“Om….”
“Brenda, saya rasa saya benar benar sudah mantap dengan hati saya. Katakan kamu perlu berapa lama lagi waktu untuk memantapkan hati? Aku bersedia menunggu.”
__ADS_1
“Om, maaf aku rasa Om sudah salah mengartikan perasaan aku. Aku pun sudah salah. Aku ingin membatalkan perjodohan ini Om. Aku gak mau salah dalam mengambil keputusan. Dan ini sudah aku pikirkan sejak beberapa hari ini.”
Bagai disambar pertir, tangan pria dewasa itu melemas. Brenda mengatakan hal yang jauh di luar dugaan sebelumnya.
“Apa maksud kamu, salah saya dimana, kamu berubah dalam waktu singkat?”
“Om, aku itu masih muda. Benar kata tante Bela. Mungkin aku sejak awal salah mengartikan kekaguman aku ke Om. Ini bukan murni cinta. Aku hanya kagum sama Om.” Brenda menunduk sekuat tenaga menahan air matanya yang hendak tumpah dan sudah menganak sungai.
“Bela? Kapan kamu ketemu Bela? Katakan pada saya, apa saja yang dia katakan?”
“Kemarin Tante Bela mendatangi aku ke kampus. Tapi hubungan kami baik Om, kita tidak bertengkar. Tidak untuk memperebutkan siapa siapa. Karena aku dengan ikhlas akan membatalkan perjodohan ini dan bukan hak aku mengambil milik orang lain. Mulai sekarang aku akan berhenti belajar mencintai Om, aku tidak akan lagi berlayar ke tempat yang sudah jelas bukan tempatku. Hati Om memang milik Tante Bela.” Tak kuasa menahan rasa, butiran bening yang susah payah di tahan, akhirnya jatuh menetes di pipi.
Mencengkram kuat kemudi sampai buku jari nya memutih, Han memutuskan untuk menyambangi Bela dan meminta penjelasan atas apa yang sudah Ia katakan pada Brenda. Sudah pasti karena ulah Bela, Brenda memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini.
“Kita ke tempat Bela sekarang.”
“Om, aku mohon jangan seperti ini. Nanti aku jadi sulit menghempas perasaan ku sendiri. Kembali lah pada Tante Bela, dia membutuhkan mu Om.”
Han melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Raut wajah tampan itu kini tegang bercampur marah. Baru kali ini Brenda melihat wajah murka laki laki yang bukan lagi calon suami nya.
“Om, jangan begini Om, aku mohon, kita bisa celaka Om. Aku mau pulang. Om, aku takut.” Brenda terus saja menyerukan ketakutannya, namun tak di gubris oleh Han.
Begitu sampai di rumah mewah milik Bela, Han langsung keluar dari mobil dan meneriakkan nama pemilih hati nya yang dulu, Bela.
Bela keluar dengan santai dan tanpa malu malu Ia menghambur memeluk rindu pada Han.
“Love, akhirnya kamu datang juga. Aku kangen banget sama kamu Love.”
“Cukup Bel, hubungan kita sudah lama berakhir. Kalau kemarin kemarin kita akhirnya bertemu lagi itu mungkin karena kisah kita dulu terjalin bukan hanya untuk kita berdua, tapi ada Tante Rita dan Cyntia. Yang harus kamu tahu sekarang aku sudah memantapkan hati ku pada Brenda.”
“Brenda? Anak manja itu? Dia pasti mengadu sesuatu yang buruk tentang diriku.” Bela membuang pandangannya ke arah berlawanan mencari sosok Brenda.
“Brenda di mobil. Kamu dengar Bel. Kisah kita sudah selesai. Walau rasa sayang dan cinta saya masih ada, tapi itu bukan buat kamu lagi. Karena sekarang saya cinta sama Brenda. Dengar itu, saya cinta Brenda. Hati saya menyuarakan nama Brenda, dan sudah tidak ada lagi nama kamu disini.” Han berteriak sembari menunjuk dada nya. Entah mengapa sejak Ia berterus terang barusan mengenai perasaannya, dada nya sudah tak se sesak tadi sewaktu Brenda mengucapkan akan membatalkan perjodohan mereka.
Han bergegas lagi masuk ke mobilnya dan langsung melajukan mobilnya. Meninggalkan Bela yang menangis sendirian.
__ADS_1