
MENCINTAI OM ASISTEN 12
Bab 12 Tidak perlu bekerja
Pagi ini, Brenda tak mau ambil resiko lagi untuk di interogasi sang papa. Gadis muda itu menyetel alarm dan memaksakan tubuh lelahnya untuk berkompromi sejak pagi jam enam.
“Pagi Ma, Mama hari ini masak apa?”
“Mama hari ini mau masak apa juga bingung persediaan di kulkas menipis banget. Mama bikin nasi siram sih buat sarapan Papa sama kamu.”
“Loh, emang Papa gak kasih uang belanja?”
“Mama yang nolak. Nanti biar pakai uang mama aja. Perusahaan papa mu semakin menurun. Kita harus siap dengan segala resiko sayang. Dari sekarang lebih baik Mama mulai berhemat lagi, dari pada kita hidup seperti dulu lagi. Mama rasa berhemat sedikit tidak masalah.”
Sembari membantu sang mama, Brenda seperti memikirkan sesuatu. Sesungguhnya mendengarkan penuturan sang mama, hati nya terenyuh. Tidak tega dengan keikhlasan sang mama harus menjalani kondisi seperti ini.
“Oh ya Ma, tahu gak, kata Kak Wety sekarang aku udah lebih luwes loh, Mas Tio juga udah mulai berkurang ngomelin aku.”
“Oh ya? Bagus donk. Pokoknya Mama gak mau kamu terpaksa jalaninnya. Ini di bawa ke meja yuk, sebentar lagi Papa kamu turun.”
Brenda menyempatkan meneguk minum setelah meletakkan satu persatu piring pada tempatnya. Tak lupa Ia menata piring kosong untuk papa, mama, dan dirinya.
“Mas Tio itu siapa?”
Uhukk
Uhukk
__ADS_1
Glenca sampai tersedak, mata nya membelalak saat tahu pembicaraannya dengan sang mama di dengar oleh papa nya.
“Eh Papa, kagetin aku aja.”
“Emang Mas Tio itu siapa? Masa iya ada yang berani omelin anak kesayangan Papa, biar Papa hajar orangnya sini.”
“Eh itu Pa, Mas Tio itu...Mas Tio adalah…”
“Adalah apa sih, kok kamu jadi gugup gitu? Ada apa? Apa yang kalian sembunyiin dari Papa?”
Kali ini mama Brenda pun ikut kena dampak kecurigaan papa.
“Mas Tio itu manager aku Pa. Di kantor aku. Di tempat kerja aku.”
“Kantor, katanya kerja di restoran.”
“Kamu ini masih muda sudah pikun ya.”
Sementara papa nya hanya menggelengkan kepalanya.
“Brenda, Papa boleh minta sesuatu sama kamu?”
“Hmm, Papa mau minta apa?”
“Papa minta kamu tidak perlu lagi bekerja. Mau paruh waktu apalagi full time. Itu jelas akan mengganggu waktu belajar kamu Nak.”
“Pa…”
“Pa…”
__ADS_1
Brenda dan sang mama sama sama hendak melayangkan protes.
“Maksud Papa itu bagaimana sih Pa, anak berniat baik kerja sambil kuliah kok malah disuruh brenti sih?”
“Iya Pa, aku itu kerja demi bantuin keuangan keluarga kita loh Pa. Aku tahu kondisi keuangan perusahaan Papa lagi anjlok kan? Makanya aku putusin kerja sambil kuliah.”
“Tapi Nak, beasiswa kamu bisa di putus loh kalau sampai nilai kamu turun sedikit saja.”
“Gak akan Pa, Papa emang nya udah mulai meragukan Brenda ya? Aku akan bagi waktu dengan baik.
“Tapi nak, seharusnya seusia kamu itu fokus untuk belajar loh. Fokus kuliah. Lagian kamu baru awal awal kerja juga lembur terus.”
“Ya namanya juga restoran Pa, ada kalanya ramai. Lagi pula, pendidikan yang wajib sudah di selesaikan dengan baik sama Brenda, gak masalah donk kalau Brenda sambil kerja.”
“Ya gak bisa gitu Ma, pokoknya Papa gak mau Brenda jadi gak fokus kuliahnya. Jangan jangan Mama yang paksa kamu kerja ya?”
Papa Brenda mulai berprasangka pada sang istri.
“Loh kok Papa jadi salahin Mama sih. Pa, kalau anaknya emang pengen kerja dan bantuin keuangan keluarga itu kan niatnya baik. Kenapa sih Papa jadi nuduh Mama yang maksa Brenda kerja.”
“Ma, Pa, udah dong jangan berantem, ini masih pagi gak enak di denger tetangga. Brenda kerja itu atas dasar kemauan Brenda Pa, Brenda mau menggali potensi dalam diri Brenda menjadi seorang …”
“Apa?”
“Pa, Brenda kan ambil jurusan Bisnis Management, Brenda mau belajar bisnis. Brenda mau jadi seorang pebisnis juga dong. Hehehehe..”
“Ya sudah, oke, tapi ke depan papa akan lihat lagi, kalau sampai nilai kamu menurun dan pekerjaan kamu mengganggu waktu belajar kamu, Papa gak mau tahu, kamu harus berhenti dari pekerjaan kamu.”
“Siap Papa.”
__ADS_1