MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 65


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 65


Bab 65 Membiarkan milik kita di sentuh orang lain sungguh menyakitkan


Suasana mendadak canggung. Han secara reflek memeluk bahu Brenda yang hampir bergetar menahan tangisnya.


“Om, malam ini aku akan menginap di rumah sakit menemani Mama. Jadi Om bisa pulang mengantar Tante Bela.” Brenda buru buru menghapus jejak air mata nya yang sebentar lagi menetes membasahi pipi.


“Tapi Brenda. Saya rasa Bela datang kesini bersama supir. Saya akan disini menemai kamu.”


“Brenda benar, aku kesini tidak dengan supir Han. Aku rasa tidak akan jadi masalah dengan Brenda jika kamu yang mengantarkanku pulang ke rumah.” Rengek Bela yang tangannya sudah bergelayut manja di bahu Han.


“Iya Om, tidak masalah bagi ku. Aku malah dengan senang hati jika mengetahui Om mau membantu menyenangkan hati Tante Bela yang sudah berbaik hati menolong keluargaku.” Kata Brenda lagi.


Han tidak mau berdebat panjang. Tante Rita sudah pulang terlebih dahulu dan kini saat nya Ia harus memenuhi permintaan Brenda, yaitu mengantarkan Bela pulang.

__ADS_1


“Han, aku belum makan malam sejak tadi pulang kantor aku buru buru memberian kabar baik ini ke Brenda. Aku tahu Brenda sangat menunggu kabar dari ku, dengan begini beban di pundak nya akan berkurang sedikit demi sedikit.”


“Han, Love…”


“Berhenti memanggilku begitu.”


“Iya maaf kan aku. Karena sejak tadi masuk mobil kamu mendiamkan aku. Aku hanya memancingmu berbicara pada ku.” Bela dengan tidak tahu malu nya menyenderkan kepala nya di bahu Han. Memejamkan mata nya lalu mengeratkan pelukannya di bahu Han.


Han membela kota Jakarta dengan kecepatan sedang. Ia sungguh merasa tak nyaman di perlakukan begitu dengan Bela.


“Hem, sayang tunggu sebentar, kepala ku masih pusing. Aku lelah sekali sayang. Apa tidak bisa mengendongku sampai ke dalam?” rengek Bela masih dengan mata terpejam.


Air mata Brenda menetes kala memperhatikan dari jarak jauh mobil Han yang terparkir di depan rumah Bela. Melihat Han keluar dengan menggendong Bela.


‘Ya Tuhan, sakit sekali harus memberikan milik kita pada orang lain. Membiarkan orang lain menyentuhnya bahkan memeluknya sampai puas.’ Brenda menunduk dan menangis sendirian bersandar pada kemudi.

__ADS_1


‘Seharusnya ak bersyukur karena Tante Bela masih berbaik hati mau membatalkan segala tuntutannya pada papa. Tapi mengapa sakit sekali mengorbankan Om asistenku di sentuh?’


Malam itu Brenda pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti. Karena besok hari Sabtu akhirnya sang mama mengizinkan untuk Brenda menginap bersama di rumah sakit. Brenda terpaksa menyetir sendirian pulang ke rumah untuk mengemasi barang yang diperlukan selama menginap di rumah sakit selama dua hari, Sabtu dan Minggu.


Brenda memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya dengan lesu. Ia membuka knop pintu rumahnya dan menyaksikan rumah nya yang tampak sunyi, sepi tak berpenghuni. Entah sampai kapan kondisi ini terus terjadi. Kondisi dimana kesakitan dan kesedihan berlomba mengobrak abrik hati nya.


‘Dimana lampu nya?’ Brenda mengendap ngendap dalam gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Ia tiba di rumah setelah sempat tertidur di dalam mobil karena kebanyakan menangisi Han dan Bela.


“Aaaarrrgggghhhh.” Brenda berteriak saat ada seseorang yang membekap nya dari belakang.


Detik berikut nya Brenda melayang dengan sejuta rasa menyumbat di dada. Dekapan lembut, tautan bibir yang menempel, rasanya sungguh indah.


Dalam gelap Ia hanya sanggup merasakan kenyamanan, kenikmatan, mana kala bibir nya menyapu dengan lembut setiap kenikmatan yang ada.


“Brenda, jangan pernah menukar saya dengan apapun. Menyakitkan untuk saya. Saya memang hanya punya cinta. Tapi cinta saya luar biasa untuk kamu. Kamu tahu, melihat kamu harus menangis sendirian di mobil membuat saya hampir ingin meninggalkan raga ini. Raga tak berguna yang tak bisa membawa mu pada kebahagiaan. Berjanjilah menghadapi semua ini bersama. Kita berjalan bersama dan tidak menyerah. Saya mencintai kamu Brenda Alicia.”

__ADS_1


Han melabuhkan lagi ciuman tepat di bibir tipis milik Brenda. Hangat dan begitu meneduhkan. Jemari nya menghapus air mata yang hendak menetes. Ia berjanji pada dirinya sendiri tak lagi mau menyerah pada keadaan dan tak ingin membuat Brenda menangis. Han membuat Brenda membatalkan niatnya menginap di rumah sakit malam itu.


__ADS_2