MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 71


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 71


Bab 71 Kisah baru


Han terpaksa menggendong dan mengantarkan Bela sampai ke kamar. Rumah megah milik Bela selalu sepi seperti tak berpenghuni. Bela memang sebatang kara sejak tujuh tahun lalu. Dari cerita Bela, orang tuanya meninggal kecelakaan.


Ketika tiba di kamar Bela, Han pun merasa dunia nya seperti berputar. Penglihatannya perlahan buram dan mulai kabur. Han meletakkan Bela di atas ranjang. Laki laki dewasa itu mengetuk ngetukkan kepala nya sendiri. Ia tengah berusaha mengumpulkan kesadarannya yang perlahan kabur.


Tak kuat bertahan, Han pun hilang kesadaran sepenuhnya. Tertidur pulas di atas ranjang yang sama dengan Bela. Bela mengerjapkan matanya dan tersenyum menyadari obat nya sudah bekerja dengan baik. Obat yang sudah di di campurkan dengan kopi yang tadi diminum Han sudah menjukkan kebolehannya.


‘Love, malam ini kita akan mengukir kisah baru. Kisah paling indah sepanjang masa. Kamu tidak perlu menolakku. Aku akan bermain lembut sayang. Bela mencium bibir Han. Kisah yang tak akan pernah bisa kamu lupakan. Aku pastikan setelah malam ini kamu tak lagi bisa menolakku. Kamu akan tahu dimana tempat mu yang seharusnya.’


Tring


Tring

__ADS_1


Mi Amor is calling…


‘Cih, pengganggu ini mau apa lagi? Lebih baik Ia tahu segera kenyataannya.’


“Halo.”


Deg


‘Suara ini? Seperti suara Tante Bela. Brenda melirik jam dinding di kamarnya. Sudah larut malam, kenapa Om masih bersama Tante Bela ya.’


“Ya, maaf ini ponsel milik….”


“Ya Brend, ini aku Bela calon istrinya, tapi calon suamiku sudah tidur. Ini sudah larut. Kalau mau membahas masalah pekerjaan, aku rasa lebih baik besok di kantor dan pada saat jam kerja. Han memang asisten mu, dan kewajibannya meladeni mu hanya di saat jam kerja dan di tempat kerja. Selebihnya dia milikku.”


“Ba-baik Tante. Maaf sudah mengganggu.” Brenda buru buru meletakkan ponselnya di meja sebelah ranjang tidurnya.

__ADS_1


Namun seperti nya baik Brenda dan bela lupa mematikan sambungan itu. Sehingga suara suara disana masih terdengar jelas.


‘Sayang, ayo kita lanjutkan apa yang tadi tertunda. Waktu ku hanya sebentar, aku yakin jika pengaruh obat ini sudah habis, kamu pasti menolakku lagi. Kembali mengejar cinta anak manja itu lagi. Kamu tahu, kamu sudah menyakiti ku Love. Akulah cinta pertama mu, sudah pasti hanya aku yang boleh jadi pelabuhan terakhir hati mu.’


Brenda meraih ponsel nya dan merapatkan di telinga. Ia bisa mendengar jelas semua yang dikatakan Bela di ujung sana.


Mondar mandir di dalam kamar, Ia merasa tak tenang tak tahu apa yang harus di lakukan. Bahkan Brenda tak sempat tidur sampai matanya memiliki lingkaran hitam.


Berangkat ke kantor tergesa gesa tak seperti biasanya. Ia ingin segera sampai kantor. Tempat satu satu nya Ia bisa menemukan Han. Entah masih dalam keadaan selamat dan utuh atau sudah berganti status. Jujur sejak semalam Ia ingin sekali mencecar Han dengan berbagai pertanyaan.


Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi dan Brenda sudah tiba di kantor. Bahkan Papa dan Mama Brenda saja baru bangun dan keheranan mendapat alasan Brenda bahwa ada urusan penting yang harus dikerjakan pagi pagi.


Bolak balik Brenda membuka deretan berkas satu per satu, memeriksa laporan laporan hingga kantuk menyerang. Brenda buru buru memesan kopi di pantry. Namun OB yang biasa bertugas mengantarkan kopi untuk para karyawan sedang berhalangan masuk karena sakit. Terpaksa Brenda berjalan terhuyung menuju pantry untuk membuat kopi sendiri.


‘Ah, hoaammmm. Aku butuh kopi.’

__ADS_1


__ADS_2