MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 24


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 24


Bab 24 Om asisten penyelamatku


Pada malam Brenda menemukan Wety dalam keadaan pingsan berurai darah di sebuah ruangan, beredar kabar dari para karyawan dan sesama model, bahwa Wety memang sengaja menelan obat obatan yang di duga untuk bunuh diri. Entah dari mana muasal rumor itu awalnya.


Beberapa hari kemudian pun ada surat pernyataan yang di pampang di dinding ruangan Mas Tio bahwa Wety sudah menyatakan vakum sementara dari dunia modeling yang sudah membesarkan namanya sejak lima tahun terakhir. Wety di duga terlalu stress sampai melakukan tindakan tidak wajar / bunuh diri.


Sementara hubungan Brenda dengan Mas Tio yang selalu perhatian itu kian dekat. Tak jarang Brenda mengizinkan laki laki itu untuk sekedar mencium bibir nya. Mas Tio sering mengantarnya pulang ke rumah.


Apalagi saat tahu, Papa Mama nya bukan pulang lebih cepat malah menambah jadwal extra satu minggu ke depan untuk proyek yang sedang di tangani di Bali. Hal itu terjadi karena Papa nya menang tender pembuatan hotel di Bali.


Hari yang di tunggu datang juga, yaitu kepulangan orang tuanya dari Bali. Hari itu Brenda bersama Han datang ke bandara sengaja ingin menjemput.


“Papa, Mama, Brenda kangen banget. Kenapa lama banget sih pergi nya.” Begitu menemukan sosok yang sudah di rindukan, Brenda mencecar keduanya.


“Mari Pak, saya bantu bawakan tas nya.” Han dengan sopan menawarkan bantuan dan kemudian mereka sama sama menuju parkiran untuk pulang ke rumah.


Namun di tengah jalan mereka di hadapkan dengan kendala. Di depan jalan sedang terjadi kemacetan luar biasa. Gedung sebuah kantor agency model di segel polisi.


Han melihat jelas Brenda yang shock melihat garis kuning terpampang nyata di kantor agency itu. Brenda tak berani berbuat banyak karena Ia takut ketahuan papa nya.


Tiba di rumah Brenda langsung menuju kamarnya, tempat paling aman untuk menumpahkan isi pikirannya yang dari tadi sudah penuh dengan pertanyaan ini dan itu.


Brenda menghubungi Han dan minta tolong agar menemaninya ke kantor agency malam itu juga. Han awal nya menolak namun akhirnya menyetujui karena desakan dari Brenda terus menerus.


“Om, tunggu dulu disini ya.” Ketika mereka tiba di depan kantor agency model itu.


“Jangan lama, kalau ketahuan papa kamu bisa bahaya nih posisi saya juga.”


“Iya Om, paham, dari tadi ngomongnya it uterus, bikin aku takut aja deh.”


Brenda turun mencari informasi dari keramaian sekitar.


“Bu, Pak, ada apa sih ini, kok ada garis polisi ya?”


“Ini loh dek, berapa hari lalu ada yang bunuh diri di dalem, tapi katanya pengakuan orangnya, dia gak bunuh diri tapi ada orang yang mau bunuh dia”

__ADS_1


“Hah? Ibu tahu dari mana bu, beritanya?” Brenda terus saja mencari informasi yang Ia ketahui mengarah ke kejadian Wety bergelimang darah.


Papa dan Mama Brenda mengira putri nya sudah tidur dan karena sang Papa belum bisa tidur kemudian pergi ke ruang tengah untuk menonton berita di televisi sembari menunggu air jahe hangat buatan sang istri.


“Ma, Ma, coba lihat itu kan Brenda Ma, Brenda di tv Ma.” Teriak Papa Brenda.


“Mana mungkin sih Pa, Brenda kan sudah tidur.”


“Itu loh Ma, yang pakai jaket putih, itu kan jaket nya Brenda. Coba Mama check ke kamarnya, Brenda di dalam atau tidak?”


Tanpa menunggu lama, Mama Brenda bergegas memeriksa kamar putri nya, betapa kagetnya bahwa kamarnya benar kosong.


“Kosong Pa, Brenda gak ada.”


“Bener bener anak itu. Mau apa dia malem malem pergi begini? Mau apa dia ada di kantor agency model gituan? Itu kan agency model majalah pria dewasa.”


“Coba Pa, di telpon aja dulu ke ponsel Brenda Pa.”


Mencoba beberapa kali menghubungi sang putri, namun tak mendapat jawaban. Tujuan Papa Brenda beralih ke asisten nya.


“Halo Han, kamu dimana? Saya perlu bantuan kamu.”


Brenda panik melihat ponsel nya memeberitahukan bahwa Papa nya memanggil berkali kali. Tak berani menjawab, kemudian Brenda meminta Han segera mengantarnya pulang.


“Ini sih jadi bahayain posisi saya kalau begini. Lain kali kalau mau susah sendiri aja, jangan bawa bawa saya.”


“Om gimana sih, bantuin aku dong Om, Om kan calon tunangan aku, Om harus selalu jaga dan lindungin aku.”


“Brenda, kamu jangan gila. Saya belum menyetujui permintaan Papa kamu. Karena menurut saya pernikahan itu bukan main main.”


“Ya udah sih Om, kita seriusin aja mau?”


“Maksud kamu?”


“Ya kita saling mengenal, pacaran gitu, kan Om bilang pernikahan gak main main, ya kita seriusin aja sekalian.”


“Brenda, pernikahan itu tidak segampang itu. Harus ada keseriusan dari dua belah pihak. Harus ada komitmen. Harus sama sama saling menjaga dan …”

__ADS_1


“Iya Om, sampe situ aku paham. Om tahu kan pa-ca-ran? Kita pacaran, kita saling mengenal lebih dekat, dan kita juga bisa saling menjaga dan saling mencintai.” Brenda mengurai kan.


“Kamu gak perlu mikir terlalu jauh, fokus sama Papa kamu yang sebentar lagi pasti akan tahu apa pakerjaan kamu yang sebenarnya.


Brenda memucat seketika. Tak ada lagi Brenda yang bawel dan usil. Brenda tak lagi banyak bicara. Ia kini memfokuskan dirinya untuk menghadapi papa nya sebentar lagi.


Tiba di rumah, Brenda tak mau turun dari mobil. Papa nya sudah menunggu di depan pintu rumah.


Mau tak mau, Han membukakan pintu mobilnya untuk Brenda dan menggandeng tangan gadis itu yang sudah berkeringat sejak tadi.


“Pa.” Tak berani memandang wajah sang Papa, Brenda hanya menunduk.


“Brenda dari mana lagi kamu. Ini kedua kali nya kamu keluar malam tanpa pamit sama Papa Mama.”


“Pa, Brenda bisa jelasin. Tadi Brenda….” Belum selesai Brenda berbicara, Papa nya sudah menyeret nya masuk ke dalam rumah.


Melihat gadis cerewet itu berlinangan air mata, membuat Han tak tega. Ia pun ikut masuk ke dalam rumah.


“Pak, tadi Brenda sama saya Pak. Maaf ini salah saya Pak.”


“Apa maksud kamu Han?”


“Begini Pak, beberapa hari belakangan, saya baru tahu kalau restoran tempat Brenda bekerja, dekat dengan kantor agency model yang tadi. Disana ada adik sepupu saya bekerja. Dari kasus yang ramai di berita saya takut terjadi sesuatu dengan adik sepupu saya Pak. Saya yang mengajak Brenda untuk datang kesana. Karena Brenda pernah kasih tahu bahwa ada kenalannya bekerja disana. Maaf Pak, saya yang salah, saya minta tolong Brenda tanpa persetujuan Bapak dulu.”


“Apa benar begitu Brenda?”


“I-Iya Pak, hikss.” Brenda yang masih melanjutkan air mata buayanya sebagai senjata terampuh, sekilas melirik ke arah Om asisten nya.


“Maaf kan Papa kalau begitu. Han, lain kali kamu wajib mendapat ijin saya sebelum membawa pergi anak saya, terlebih ini malam hari. Yah walau kamu calon menantu saya, tapi saat ini, Brenda masih dalam pengawasan saya secara penuh sebagai Papa nya.”


“Baik, maafkan saya Pak.”


“Kamu boleh pulang, dan hati hati di jalan.”


“Baik Pak, permisi. Brenda saya pulang dulu, terima kasih sudah membantu saya. Mari Bu.” Han pamit.


Mama Brenda hanya mengangguk, terlihat kesan tak suka di matanya menatap laki laki yang akan di jodohkan pada putri nya.

__ADS_1


Setelah Brenda masuk kamar, pasangan suami istri itu pun ke kamar nya untuk beristirahat.


__ADS_2