MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 38


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 38


Bab 38 Jangan pernah temui Tante Bela


Seperti pagi pagi sebelumnya, Han yang memiliki tugas mengantar Brenda ke kampus untuk kuliah, datang tepat waktu. Laki laki dewasa itu menyempatkan diri menikmati kopi hitam panas buatan calon mertuanya.


“Diminum dulu Han selagi masih panas kopi nya.”


“Terima kasih sudah merepotkan Bu.”


“Brenda, kamu sudah siap belum sayang, calon suami nya sudah nungguin tuh.”


Kopi hitam yang niat awal nya ingin di seruput tiba tiba langsung di teguk oleh Han, laki laki itu reflek meneguk cairan panas yang mengoyakkan tenggorokannya.


Han mengibaskan tangan di depan wajahnya, karena merasa kepanasan.


“Om asisten, kenapa? Om sakit?”


“Eng-Enggak.”


“Kok muka nya merah banget?” Brenda mendekatkan wajah nya pada wajah Han kemudian meneliti dari ujung rambut hingga seluruh detail di wajah Han. Deru jantung sepasang yang beda usia itu berlomba unjuk kebolehan.


Akhirnya Han dan Brenda berangkat menuju kampus, karena setelah itu Han harus menemani Pak Yanto meeting ke Bandung.


“Om hari ini, Om ikut Papa ke Bandung ya?”


“Hemm, iya, kenapa?”


“Gak papa.”


“Ada masalah?” Brenda hanya menjawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


Sejak semalam Ia tak bisa tidur nyenyak memikirkan lai laki rupawan di usia dewasa sebelah nya, yang setiap saat bisa di colong oleh pelakor.


“Om, boleh aku minta sesuatu?”


“Asal saya bisa, pasti saya kabulin.”


“Om, apa bisa kalau saya minta jangan temuin Tante Bela?”


“Kamu cemburu?”


“Om bilang akan pilih untuk lanjutin perjodohan kita kan dan membuka lembaran baru dengan aku?”


“Ya.”


“Lantas, jangan pernah lagi temuin Tante Bela kalau kita tidak bersama.”


“Tapi, kemarin Bela datang dan menemui Cyntia. Dulu Bela dan Cyntia sangat dekat. Cyntia sangat merasa kehi;langan kala Bela tiba tiba pergi dari kehidupan kami.”


“Ya Om, aku paham, Tante Bela pasti memiliki tempat khusus di hati kalian.”


“Aku cuma gak mau sampai kecolongan lagi sama Tante Bela. Tante Bela itu masih berharap sama Om, aku tahu itu.”


“Semalam Bela datang bukan untuk menemui saya, jadi saya rasa kecurigaan kamu tak berdasar. Atau kalau kamu masih tidak percaya bisa tanyakan ke Tante Rita.”


“Tapi Om, semalam….”


“Cukup Brenda, sekarang waktu nya kamu masuk kelas, belajar yang rajin, saya harus segera berangkat ke Bandung, supaya tidak ke malaman pulangnya.”


Akhirnya Brenda mengalah dan menyudahi obrolannya dengan sang calon suami.


Benar yang di katakan Han, mungkin saja kecurigaannya tak berdasar. Tapi tidak mungkin kalau semalam Han tidak ikut serta bersama Bela yang bermain dengan Cyntia, lalu bagaimana voice note itu bisa di kirim dari ponsel Han. Rekaman suara itu pun kembali berputar di kepala.

__ADS_1


Setelah kelas hari itu selesai Brenda memilih untuk mengobrol bersama teman teman nya di kantin kampus dan tidak langsung pulang.


Ketika Brenda sedang berkumpul dengan Daniah dan Melia, tiba tiba ada seorang wanita anggun yang menyambangi nya.


“Brenda bisa kita bicara sebentar?”


“Tante Bela?”


Brenda menuruti permintaan Bela dan meninggalkan dua orang temannya yang bingung.


“Tante, ada apa menemui ku?”


“Brenda, aku rasa kamu tahu persis apa yang membuatku sampai mendatangi mu kesini.”


“Hari ini Om tidak menjemputku karena dia sedang ke Bandung tugas kantor bersama Papa.”


“Kebetulan aku tidak ada rencana menemui Han, justru aku perlu bicara empat mata denganmu.”


“Tante tolong jangan berbelit belit, langsung saja to the point.”


“Dulu, aku begitu mencintai Han, dan seperti yang kita tahu, sampai saat ini aku kembali, Han masih menyambut baik kehadiranku. Itu artinya memang cinta kami tak terpisahkan.”


“Tapi dulu Tante yang sudah ninggalin Om asisten kan, terus kenapa sekarang tiba tiba dateng lagi dan memohon cinta sama Om?”


“Brenda kamu masih terlalu muda. Cinta kami adalah hubungan dewasa. Cinta ku dan Han tak sebatas pergi keluar bersenang senang, tapi lebih dari itu. Hubungan kami sangat serius. Bahkan sampai sekarang Tante Rita dan Cyntia pun masih mengharapkan kedekatan kami.”


“Gak, gak mungkin Tante bohong.”


“Untuk apa aku bohong, apa untungnya buat aku? Aku hanya mau meluruskan saja semua tentang kamu dan kami. Pernikahan adalah awal dari keseriusan suatu hubungan. Dengan memaksakan cinta Han, apa kamu pikir kamu akan bahagia? Kamu salah, cinta tidak bisa memaksa. Han masih dan tetap akan mencintaiku. Kamu harus tahu itu. Cinta hanya ingin rasa bahagia, bukan mengekang atau memaksa, karena itu akan menyakiti.”


Brenda termangu, dalam diam Ia mencerna semua yang disampaikan oleh Bela. Wanita anggun di depannya ini sudah mengundang banyak perhatian dari beberapa mahasiswa laki laki. Pesona nya sungguh luar biasa.

__ADS_1


“Apa menrut tante, Om asisten pasti bahagia dengan wanita seperti tante? Wanita yang sudah meninggalkan dirinya bertahun tahun yang lalu. Dan kini dengan egoisnya tante kembali dan berharap semua masih bisa sama seperti dulu saat Tante meninggalkan Om?”


“Terserah kamu mau menilai aku seperti apa. Disini aku datang dan sangat berharap tidak ada orang ketiga dalam hubungan ku dengan Han. Kita sama sama wanita, pasti kamu mengerti bagaimana sulitnya mempertahankan hubungan bila di ganggu orang ketiga.”


__ADS_2