
Hai kalian semua dimana pun kalian berada, aku mau bilang terima kasih atas pembacaku yang baik hati seperti kalian yang masih mau mendukung karya receh ini. Tidak terasa sudah sampai di penghjung, sebentar lagi Brenda dan Om Han akan tamat. Aku akan fokus ke lapak sebelah dulu sementara waktu. Aku sedang mengumpulkan niat dan mencari waktu luang yang pas untuk membuat season dua untuk Brenda dan Om Han. Karena jujur aku sedang terjepit waktu. Dua anakku masuk sekolah bersamaan Juli th ajaran 2022-2023 nanti. Jadi saat ini aku fokus satu cerita saja dulu, supaya bisa maximal, karena harus fokus cari sekolahan yang tepat untuk anak bisa sekolah dengan aman dan nyaman dimasa pandemi.
Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua.
Salam Lady_Viola
MENCINTAI OM ASISTEN 81
Bab 81 Tante Bela?
Menyaksikan sendiri bagaimana reaksi Brenda terhadap laki laki dewasa yang perkiraan usianya tak beda jauh darinya, Han memastikan kalau Brenda sudah mulai mengalihkan pandangannya kedunia luar.
Sakit, tentu itulah proses perjalanan cinta dimana hanya ada bersatu dan bahagia, atau berpisah siap melepas. Han mengambil posisi didepan beberapa langkah, laki laki itu terbakar cemburu, ya Ia masih mengharapkan cinta untuk dirinya tersimpan rapih dilubuk hati Brenda.
Namun apadaya saat ini kepalanya hanya dipenuhi rasa cemburu yang tak masuk akal. Han berbalik tubuhnya mendadak kemudian menarik Brenda kepelukannya.
__ADS_1
“Saya masih mencintai kamu.”
“Om?”
“Brenda, jangan katakan semua akan baik bak saja, karena ini tidak mudah bagi saya, dan saya yakin kamu juga sulit.”
“Om aku mohon lepaskan aku. Aku sedang berusaha menata hati yang sempat terluka. Selama keadaan memaksa kita seperti ini, Om akan terus menerus melukaiku.”
Perlahan Han mengurai pelukannya, memberi ruang untuk Brenda menemukan kenyamanan walau tak berjalan berdampingan.
Tak lama kemudian mereka sampai diruangan yang dituju.
“Om, siapa yang sakit sebenarnya, apa aku mengenalnya?”
Brenda mengamati wanita bertubuh kurus kering dengan beberapa lebam ditubuhnya. Rambut panjang terurai yang tipis dan rontok.Wanita itu sedang dalam kondisi tak stabil, terlihat dari perawat yang mondar mandir disekitar ranjangnya mengelap cairan kental berceceran di lantai dan juga mengotori sprei.
“I-ini tante Bela?”
“Ya Brenda, ini Bela. Maaf beberapa hari ini aku sibuk menjaga Bela di sini. Bela mengidap CLL, salah satu jenis kanker darah dan sumsum tulang. Pada riwayat Bela yang pernah mengalami kanker serviks beberapa tahun lalu, kondisi ini jauh lebih buruk dan … “ Han tak sanggup melanjutkan kata katanya.
“Han, seharusnya kamu tidak membiarkan lawanku melihat kondisiku yang begitu lemah.” Sapa Bela setelah dibantu perawat membetulkan posisi duduknya.
__ADS_1
Wajahnya yang pucat, kulitnya banyak terlihat memar menghitm membuat Brenda meneliti satu persatu lekuk tubuh wanita yang sempat bersaing dengannya memperebutkan cinta.
“Ta-tante Bela, maaf aku selama ini, aku tidak tahu kalau …”
“Brenda, tenanglah, aku meminta bertemu bukan untuk melanjutkan peperangan kita, aku bahkan tak sanggup lagi bersaing. Aku mengaku kalah dan ingin memohon maafmu.”
“Tante …”
“Brenda, maafkan aku, saku sadar masa lalu hanya pantas dijadikan kenangan indah, untuk itu aku memohon ampunan darimu dan papamu. Aku yang sudah membuat bangunan hotelku sendiri roboh. Aku menyabotase bahan bahan yang digunakan untuk pembangunan. Aku juga yang sengaja membuat kalian dalam situasi terjepit, dan memaksamu untuk menyerahkan Han padaku. Namun, kamu lihat sekarang bahkan untuk turun dari ranjangpun aku tak sanggup lagi. Wanita sakit sakitan ini akan mengaku kalau darimu Brenda.”
Brenda meneteskan air mata dipipinya.
“Jangan mengasihaniku seperti itu, aku merasa semakin tak berguna.”
“Tante, jangan bicara begitu, pasti masih ada cara pengobatan, bagaimana kalau kita keluar negri?”
Brenda melihat ke arah Han, meminta petunjuk dan pendapat dari Om asisten yang selama ini selalu bisa menunjukkan jalan keluar di hampir setiap masalahnya.
Han kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Brenda.
“Kemungkinan bertahannya dalam waktu dekat, hanya tinggal menunggu waktu saja, karena tubuh Bela menolak pengobatan yang diberikan.”
__ADS_1
Brenda menutup mulutnya mendengar penuturan Han barusan.
“Setidaknya aku akan bertahan menunggu maafmu Brenda.” Bela bersusah payah mengatakan itu karena gejolak diperutnya kembali menyerang. Tubuhnya mulai terguncang hebat dan Bela mengeluarkan lagi isi perutnya untuk kesekian kalinya.