
MENCINTAI OM ASISTEN 62
Bab 62 Luka tak berdarah
Menghabiskan sisa jam kerjanya dengan meeting dan meeting jelas membuat gadis remaja itu terlihat lelah. Wajah lelah nya membuat Han gemas sendiri.
"Brenda, ini saya buatkan kamu susu cokelat hangat." Ujar Han ketika masuk ke ruangan Brenda tanpa mengetuk pintu lagi.
Tanpa menjawab dan mempedulikan susu hangat di tangan Han, Brenda serius menatap deretan angka dan terus saja memperhatikan, seolah tak mau ada yang terlewat.
"Permisi Ibu pimpinan yang sudah pandai berbisnis. Saya bawakan susu hangat."
"Ah ya, terima kasih Om. Di taruh saja dulu Om. Aku lagi tanggung memeriksa laporan ini."
Han dengan lancang menutup layar laptop di hadapan Brenda. Meletakkan susu cokelat hangat di hadapan sang calon istri.
"Terima kasih Om." Lagi lagi Brenda salah tingkah sendiri ketika Han berpindah posisi ke sebelah nya. Begitu Han ingin memeluk nya dari samping, gadis itu langsung berdiri dan berpindah posisi. Untuk mengalihkan perhatian Brenda pun meneguk susu nya sampai habis tak bersisa.
"Ini Om sudah habis."
"Pintar." Han hendak mencubit hidung mancung Brenda seperti biasanya, namun Brenda kembali menghindar.
__ADS_1
"Maaf Om aku mau ke toilet." Berusaha membuat biasa dan dengan raut wajah sedatar mungkin Brenda terus saja menghindari untuk berinteraksi dengan Han.
Brenda kembali dan mendapati ada tamu yang menunggunya di depan ruangan.
"Ibu Brenda, maaf ada tamu."
"Siapa Kak Manda?"
"Sekertaris Ibu Bela Aninditya, pemilik hotel di Bali yang pembangunannya....."
"Suruh langsung masuk ya."
Mempersilahkan duduk tamu nya, Brenda segera mengambil posisi berseberangan.
Dengan Han disampingnya, Brenda terus menguatkan hati, bersiap mendengar apa yang akan disampaikan oleh sekertaris Bela.
"Jadi apa yang membawa Anda datang? Kenapa Bela tidak ikut?" Han memulai percakapan.
"Begini Pak, Bu, kedatangan saya kesini adalah untuk mengambil jalan tengah atau tahap negosiasi atas masalah yang terjadi."
"Maksud Anda?" tanya Han.
__ADS_1
"Iya, apa maksudnya negosiasi?" Timpal Brenda.
"Jadi Bu Bela memutuskan memberikan penawaran kepada Bapak dan Ibu. Semua penawaran nya ada dalam berkas ini. Silahkan di baca dan dimengerti dulu." Sekertaris itu menyerahkan map merah berisi berkas penawaran yang dibuat Bela.
Di dalam berlas tersebut tertulis bahwa jika dalam waktu yang di tentukan tidak memungkinkan selesai pembangunan tahap final seperti yang tertuang dalam surat perjanjian kontrak awal antara pihak pemilik dan pihak jasa kontraktor, maka pihak pemilik berhak melaporkan atau membawa kasus ini ke ranah hukum, karena murni kesalahan dari pihak jasa kontraktor. Pihak tergugat nantinya akan terkena kasus pidana penjara dan wajib membayar denda atas kerugian yang terjadi.
Namun jika pihak jasa kontraktor dapat menjamin penyelesaian pembangunan sesuai dengan waktu kesepakatan awal dan tanpa memperhitungkan kembali waktu yang terpotong karena harus mengulang kembali pembangunan dari awal, maka pihak pemilik tidak akan menggugat apapun.
Di poin penawaran selanjutnya, pihak pemilik hotel juga menawarkan untuk kepemilikan saham 30% pada perusahaan jasa kontraktor sebagai denda atas keterlambatan pembangunan hotel di Bali, dan diizinkan membeli saham 50% yang akan dapat langsung dicairkan dana nya untuk kelangsungan operasional perusahaan.
Mengenai segala bentuk kerugian akan di hilangkan secara total yang nantinya akan di buatkan surat perjanjian yang baru, jika pihak jasa kontraktor memilih poin perjanjian nomor dua.
Brenda hampir pingsan ketika selesai membaca poin perjanjian yang di buat Bela.
"Licik! Katakan pada Bela kami tidak akan pernah..."
"Katakan pada Ibu Bela, saya butuh waktu untuk berpikir. Setidaknya dua hari. Setelah itu saya akan datang ke kantor Ibu Bela untuk memberikan keputusan." Brenda menjawab dan tak membiarkan Han meluapkan emosinya.
Setelah sekertaris Bela pergi, Brenda pun meneteskan air matanya. Runtuh sudab pertahanannya untuk tetap berusaha kuat dan tegar menjalani hari. Menghadapi kenyataan bahwa setiap saat dalam hari nya kini bisa saja terjadi kemungkinan paling buruk.
Baru kali ini Brenda merasa terluka, luka yang tak berdarah. Ia terjepit pilihan antara mempertahankan hubungannya dengan Han atau kah merelakan perusahaan Papanya hancur di tangan Bela.
__ADS_1