MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 57


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 57


Bab 57 Ibu pimpinan muda


Tak Tok Tak Tok


Suara sepatu hak tinggi yang di gunakan Brenda berdentang membentur lantai marmer pagi itu. Tak mau terlambat menyambut kedatangan investor dari Malaysia untuk mewakili pimpinan perusahaan, Brenda berusaha semaksimal mungkin dengan menampilkan yang terbaik agar dapat memikat tamu nya dan menghasilkan keputusan terbaik sesuai dengan harapan.


“Om, bagaimana ini, aku….aku tak yakin aku bisa merayu Om Datuk itu…aku takut…”


“Brenda, namanya Mr Hafiz Abdullah. Tentu nya gadis manja ini tak perlu merayu. Karena kamu hanya perlu merayu saya. Saya akan membantu kamu sebisa saya.” Kelakar Han sembari mencubit hidung mancung Brenda. Berharap kali ini dapat menenangkan situasi hati Benda yang sedang tak karuan.


“Tapi Om, bagaimana kalau…” Brenda menggantungkan kalimatnya.


Han memeluk raga gadis yang kini wajahnya semakin meucat akibat tegang.

__ADS_1


“Kalau apa lagi sayang?” Han mencoba cara lain untuk membantu suasana hati sang gadis.


“Bagaimana kalau kali ini aku gagal mendapatkan investor yang mau menaruh saham di perusahaan papa?”


“Berusaha dan berdoa. Itu yang terpenting.” Han memeluk Brenda erat mencoba menyalurkan sebagain kekuatan dan cinta yang Ia miliki.


Pintu ruangan di buka oleh sekertaris yang memberitahukan bahwa tamu yang sedang di bicarakan sudah tiba di ruang meeting.


Brenda menarik napas nya dan menghembuskan dan sampai tiga kali mengulang sebelum akhirnya Ia melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan kebesaran sang papa.


“Terima kasih juga Mr Hafiz dan Mr Antony, baik kami akan menunggu kabar baiknya.” Balas Brenda.


Bisa bernapas lega, setelah berpresentasi di depan Mr Hafiz Abdullah Brenda merebahkan dirinya di sofa ruang kerja Papa nya.


“Om, aku lelah sekali. Aku enggak bisa bayangin papa setiap hari harus menghadapi masalah perusahaan yang begitu banyak. Aku saja baru menghadapi satu sudah pusing.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita makan ice cream?” tawaran Han awalnya menggoda, namun suara berikut nya sukses meghilangkan selera makan Brenda.


“Siang Han…Siang Ibu Brenda… maaf mengganggu waktunya, saya hanya ingin menyampaikan berdasarkan laporan keuangan dua bulan terakhir ini, keuangan perusahaan terus merosot. Kalau begini terus jangankan untuk terus berjalan, menggaji karyawan saja perusahaan tak lagi sanggup.” Ucap Pak Danu yang menjabat sebagai direktur keuangan. Pak Danu adalah salah satu sahabat Pak Yanto yang ikut terlibat dalam merintis perusahaan kontraktor sampai saat ini.


“Om direktur…ah maksud saya Pak Danu, lalu apa yang harus kita lakukan?”


Mata Brenda melotot dan membuat detak jantungnya tak karuan menendang kesana kemari. Rasa sesak di dada seperti nya tak sanggup lagi di bendung.


“Han, sebaiknya kamu bantu Ibu Brenda agar dapat memikirkan solusi apa yang harus kitaberikan untuk mempertahankan perusahaan ini.” Ucap Pak Danu sembari tertunduk dan menepuk punggung Han.


Kembali menjatuhkan tubuh lemas nya di sofa, Brenda merasa benar benar taka da jalan lain selain memohon belas kasihan dari pemilik hotel di Bali.


“Om asisten sebaiknya tolong atur jadwal pertemuan kita dengan pemilik hotel di Bali. Pastikan dalam waktu dekat, aku harus meneui nya, entah harus memohon dengan cara apa, tapi kita tidak mungkin begini terus. Lama lama perusahaan bisa bangkrut dan ….bagaimana nasib ratusan karyawan di sini? Aku juga butuh biaya pengobatan untuk papa.”


“Baiklah, saya atur semuanya.”

__ADS_1


__ADS_2