
MENCINTAI OM ASISTEN 66
Bab 66 Papa sadar
Saling memagut, menyesap aroma parfum bercampur keringat, memberikan kenyamanan tersendiri. Brenda merasakan sensasi luar biasa. Ada gejolak bahagia dan rasa yang belum pernah Ia temukan selama ini.
Ada pepatah kuno mengatakan bahwa mencintai lah secara dewasa. Maknai arti dari hidup ini. Hidup harus di penuhi cinta baru bisa berwarna. Maka mencintai lah sedalam dalam nya, tapi jangan memaksa untuk memiliki. Bahagiakan orang yang kamu cintai agar selama nya cinta itu menjadi luar biasa.
Pagi itu Brenda terbangun di kamar nya seorang diri. Perlahan Ia mengingat dan mengulang kembali kejadian semalam. Dimana Han tiba tiba membekap mulutnya dari belakang dalam suasana rumah yang gelap. Detik berikut nya Han membuat lututnya lemas dengan membungkam bibir nya sampai terasa kebas.
Brenda masih merasakan sensasi kebas di bibir nya, kala menyentuh bibirnya dengan tangan.
‘Tuhan, setidak nya aku bersyukur karena masih bisa menikmati indahnya cinta dan bukan sakit nya saja.’
Setelah membereskan rumah, membuat sarapan seadanya dan membawa beberapa pakaian ganti termasuk milik mama nya, gadis itu bergegas memanaskan mesin mobilnya.
__ADS_1
Di perjalanan Brenda menyempatkan membeli beberapa jenis vitamin khusus mama nya, yang setiap saat harus berjaga di rumah sakit.
Ketika menunggui papanya , Brenda jalan jalan ke halaman rumah sakit, disana Ia melihat seorang anak kecil. Anak itu berusia dua tahun. Jalan nya sudah lancar tapi gaya bicaranya masih terdengar cadel.
“Halo adik kecil. Nama kamu siapa?” Brenda bertanya sembari melihat sekeliling. Nampaknya anak ini berjalan tanpa pendampingan orang tuanya.
“Aden, Aden Lionel…jangan jauh jauh mainnya.” Seorang perempuan paruh baya tengah berlari ke arah si bocah kecil. Namun anak kecil yang di ketahui bernama Lionel itu bersembunyi di balik tubuh Brenda.
“Aduh, si aden teh, ayo atuh kita kembali ke mobil. Nanti kalau Daddy kembali, bibi bisa kena marah ini mah. Punten Non.” Wanita paruh baya itu buru buru menggendong anak laki laki itu yang terus memberontak kala di ajak kembali ke mobil.
Brukk
“Ma-maaf Om. Maaf Pak, saya tidak sengaja.” Ujar Brenda.
‘Wuah, ini manusia apa bukan ya? Ini seperti titisan dewa. Paras rupawan, tinggi, dan semua yang menempel di tubuhnya juga seperti benda pusaka. Benar benar dia ini jelmaan.’
__ADS_1
“Saya yang harusnya minta maaf Nona, Anda tidak apa apa?” laki laki rupawan itu bertanya.
“Helo.” Laki laki itu melambaikan tangannya ke depan wajah Brenda yang masih terpaku menatapnya tak berkedip.
'Astaga, apa aku sedang bermimpi bertemu dengan pangeran kelantan disini. Tampan sekali laki laki ini ya Tuhan.'
“Ah ya, saya…saya…” belum sempat menjawab, Brenda di kejutkan dengan berita yang disampaikan oleh mama nya dari ujung lorong.
“Brenda, Brenda, cepat kesini, Papa kamu Nak, Papa kamu sudah sadar.” Sang mama berteriak dari ujung lorong sampai suara nya menggema satu lorong.
“I-Iya Ma.” Brenda menjawab sang mama.
“Papa kamu sedang sakit?” tanya laki laki sejuta pesona itu.
“Iya Pak, papa saya kemarin kena serangan jantung sampai koma, tapi katanya sudah sadar. Saya permisi, sekali lagi maaf.” Ujar Brenda. Dada nya bergemuruh hebat.
__ADS_1