
MENCINTAI OM ASISTEN 60
Bab 60 Aku akan mengorbankan diriku demi papa
Bisnis memang kejam, persis yang di sampaikan oleh Bela beberapa waktu lalu. Selepas kepergian Bela, Han terus memeluk dan menenangkan Brenda. Namun tak bisa lama, laki laki dewasa yang masih menjabat asisten pribadi pemilik perusahaan harus kembali dengan rutinitasnya. Menggantikan sang pemimpin untuk hadir dalam berbagai rapat atau pertemuan dengan para client.
“Brenda, kamu sebaiknya pulang diantar supir kantor. Saya harus hadir rapat. Istirahat lah dan makan yang cukup untuk mengisi tenaga mu. Lawan bisnis kita sangat licik. Butuh effort lebih menghadapi nya.”
Brenda menurut, lelah menangis lebih baik dirinya pulang untuk beristirahat. Ia harus dengan tenang dan cermat dalam mengambil keputusan.
Keputusan terbaik adalah keputusan yang kita ambil saat kita tenang dan tidak emosi.
Seperti biasa, hampir setiap sore Brenda akan menghabiskan waktu nya di rumah sakit menemani sang mama untuk menjenguk papa nya. Menunggu tanpa lelah, entah kapan Pak Yanto akan bangun dari tidur panjangnya dokter pun tidak bisa memberikan kepastian.
“Ma, kalau mama lelah, biar aku yang jaga Papa malam ini. Sebaiknya Mama pulang dan istirahat dirumah, nanti mama sakit.” Brenda tak tega melihat mama nya yang tampak kurus setia menemani suaminya yang berbaring tanp membuka mata.
“Tidak sayang, mama tidak akan bisa tenang kalau jauh dari papa kamu. Lebih baik mama disini.”
“Tapi mama, wajah mama lelah banget. Setidaknya mama harus makan yang banyak dan ini Brenda bawain mama vitamin nanti diminum ya habis makan.”
__ADS_1
Beberapa hari menunggui suami nya di rawat tanpa ada kepastian kapan kondisi ini akan berakhir, Ibu Desi tampak pucak dan lesu. Dirinya yang biasa terawatt kini tak lagi. Wanita tua itu hanya bisa menampakkan wajah sedihnya.
“Oh ya sayang, bagaimana pekerjaan di kantor papa hari ini? Dan apakah kamu sudah berhasil bertemu dengan Ibu Bela pemilik hotel di Bali?”
“Sudah, Ma.”
“Lalu bagaimana, menurut Papa, Ibu Bela itu baik dan ramah. Kalau perlu mama akan ikut memohon padanya agar mau memberikan kepanjangan waktu lagi tanpa menuntut apapun di kemudian hari.” Ujar mama Brenda.
“Ehmm kalau soal itu, kami belum menemukan titik sepakat Ma, masih akan dibicarakan lagi.”
“Maksud kamu bagaimana?”
“Lalu?”
“Ya tapi ternyata Ibu Bela berubah pikiran. Ibu Bela tetap akan memproses secara hukum jika kita tidak bisa membangun hotel nya sampai selesai sesuai perjanjian waktu awal.”
“Kalau begitu biar mama yang mohon sama Ibu Bela. Mungkin saja Ibu Bela akan luluh Nak.”
Han sudah ingin berbicara yang sebenarnya terjadi tadi pagi bahwa Brenda sudah merendahkan harga dirinya sampai di titik terbawah pun, Bela tetap pada keputusannya. Namun Brenda langsung mencegah dan menggelengkan kepalanya sebagai kode. Ia tak sampai hati untuk melibatkan mama nya dalam masalah pelik ini. Mama nya sudah cukup stress dengan kondisi sang papa. Ia tak ingin menambah beban pikiran untuk mama nya.
__ADS_1
“Tidak Ma, tidak perlu. Mama fokus dengan kesembuhan papa dan kesehatan mama sendiri. Selebihnya biar aku dan Om asisten yang urus.”
“Benar Bu, saya akan membantu Brenda sebisa saya.”
Akhirnya Brenda menurut karena dipaksa pulang oleh mama nya. Walau bagaimanapun, Ia harus pergi ke kantor setiap pagi menggantikan papa nya yang masih terbaring koma di rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Brenda mulai menunjukkan sikap aneh pada Han. Tidak seperti biasanya, Brenda akan membuatkan kopi hitam dulu dan menawarkan Han mampir untuk sekedar menemaninya sebentar.
“Maaf Om, lebih baik Om langsung pulang saja ini sudah larut malam. Nanti tidak enak di lihat tetangga.” Hardik Brenda tanpa menatap mata Han saat berbicara.
“Maksudnya bagaimana Brenda, saya kan lelah. Apa tidak boleh menumpang minum kopi dan istirahat sebentar seperti biasa?”
“Maaf Om, saya ingin yang terbaik untuk kita semua Om, bukan hanya untuk kita berdua.”
“Kamu kenapa lagi sayang?” Han mengelus pipi mulus Brenda yang terasa dingin terkena hembusan angin malam. Baru saja Han hendak mengecup pucuk kepalanya, Brenda menghindar.
“Om sebaiknya langsung pulang saja ya. Kopi di rumah juga habis.” Brenda menutup rapat pagar rumahnya. Berusaha tegar gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Masuk ke dalam rumah, Brenda langsung menutup rapat pintunya pun dengan jendela nya yang masih terbuka.
__ADS_1
‘Maaf Om, aku harus belajar menjaga jarak dengan Om, kalau kita terus dekat, aku takut tak sanggup melepas Om untuk tante Bela. Aku harus kuat berjuang demi papa. Aku akan mengorbankan diriku untuk papa.’