
MENCINTAI OM ASISTEN 78
Bab 78 Air mata kasihan
Pak Yanto dan Brenda tiba di rumah tepat jam enam sore. Langit seolah ikut merasakan kesedihan yang terjadi. Kisah percintaan yang sempat maju mundur dan kini benar benar harus di hempaskan.
“Papa, Brenda, kalian sudah pulang.” Sapa Mama Brenda yang menghambur menyambut keduanya.
“Mama.” Hanya satu kata yang sanggup di ucapkan oleh Brenda.
“Brenda, kenapa kamu sedih lagi Nak? Bukankah disana kamu berhasil menemui Han? Kalian sudah sepakat kan? Kamu menangis kenapa lagi?”
“Ma, sudahlah ayo kita masuk dan kita bicara di dalam.” Ajak Pak Yanto di sela sela hujan deras mengguyur.
Makan malam dalam diam dan hanya di tandai dengan dentingan sendok dan garpu beradu.
“Pa, Ma aku ke kamar dulu istirahat. Aku sudah kenyang.”
Brenda bergegas ke kamar dan mengunci dari dalam. Mama Brenda hendak mengejar langkah putri nya tapi tangan Pak Yanto mengangkat ke udara seolah menghalangi niat istri nya.
“Ma, biarkan Brenda sendiri dulu. Anak itu perlu waktu untuk mengerti, mengalah dan menerima. Ini memang salah papa, sehingga putri kesayangan kitayang harus menanggung semuanya.”
“Pa, jangan bicara seperti itu. Brenda itu putri kita, selama nya putri kita. Jadi sudah selayaknya pengorbanannya demi orangtua dan perusahaannya.”
“Sebaiknya bsok pagi mama temani Brenda untuk mengurus kembali kelanjutan kuliahnya. Saat ini kuliah mungkin sangat membantu mengurai kesedihannya.”
__ADS_1
“Iya Pa.”
-
-
Pagi menyambut begitu cepat. Bahkan Brenda yang belum sepenuhnya lelap sudah harus kembali bangun dan memulai aktivitasnya.
Tokk
Tokk
“Brenda, sayang, sudah bangun Nak?”
“Iya Ma, masuk saja.”
“Brenda, bagaimana kalau kamu lanjutkan kuliahmu? Papa sudah merasa lebih baik dan bisa menghandle perusahaan. Kamu juga harus fokus ke kuliah mu.”
Tawaran mama ada benarnya, mungkin saja dengan kegiatan kuliah, Ia bisa mengalihkan kesedihannya agar tidak terus berlarut dan mempengaruhi hidupnya.
“Apa mama yakin, kalau papa sudah bisa menghandle perusahaan sendiri? Aku gak masalah kok ma, kalau masih harus bantu papa di kantor.”
“Eits, putri papa sudah mulai tergiur berbisnis rupanya.” Papa Brenda ikut datang menyambangi kamar Brenda pagi itu.
“Bukan begitu Pa, tapi apa papa yakin sudah benar benar sehat? Papa kuat seharian kerja?”
__ADS_1
“Iya sayang. Kamu tenang saja, saat ini kamu hanya perlu kembali fokus akan kuliah kamu Nak.”
“Baiklah papa ku sayang.” Brenda memeluk tubuh tua papa nya.
Brenda bersiap menuju kampus untuk mengurus administrasi sebelum memulai kembali aktivitas kuliahnya.
Sesuai dengan janji sang mama, Ia di temani bersama ke kampus.
-
-
Berlari menyusuri lorong rumah sakit, Han membuang napas kasar berkali kali mencari jejak perawat atau siapapun yang bisa di tanyakan mengenai kondisi Bela.
Jujur atas cinta buta Bela, Han seperti ingin membenci wanita itu. Namun pada kenyataannya wanita itu pernah mengisi hidupnya. Di setiap tarikan napas nya pernah menyuarakan nama Bela.
Bela mgnhubungi nya memelas dan memohon untuk dapat menemani nya menjalani pengobatan. Sudah beberapa hari ini Bela mengalami penurunan kesehatan.
Han belum tahu secara detail mengenai yang terjadi pada Bela. Tapi setidaknya, Ia merasa harus datang dan membantu Bela. Bela saat ini hanya sebatang kara.
Tak perlu waktu lama, akhirnya Han mendapat keterangan dari perawat di depan ruang IGD bahwa wanita yang Ia cari di bawa oleh beberapa warga karena pingsan di halaman depan rumah nya sendiri.
Dari keterangan suster, Bela kembali mengidap penyakit kanker. Namun berbeda dengan yang terdahulu, kali ini Bela di serang sel ganas kanker darah. Sel nya dengan cepat menyebar dalam wakt beberapa minggu terakhir. Saat ini Bela sudah dalam kondisi kritis.
Han baru bisa menjenguk Bela saat wanita itu sudah di pindah kan ke kamar ICU.
__ADS_1
Air mata meluncur bebas di pipi Han. Kalau dulu Ia menangisi wanita yang terbaring lemah disana untuk kepergiaannya. Kalau saat ini karena rasa kasihan melihat kondisi Bela yang begitu berbeda.
Pipi mulus Bela yang semula berisi, kini sudah kempes. Beberapa bagian kulit di tubuhnya menghitam dan membiru. Memar di beberapa tempat tanpa ada penjelasan apa yang terjadi pada tubuhnya. Kini wanita itu hanya bisa menangis dalam mimpinya.