MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 36


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 36


Bab 36 Saya rasa, saya sudah hilang akal


Kebahagiaan pasangan beda usia itu kian terpancar dari senyum keduanya yang terus mengembang. Tak jarang mereka saling melempar candaan. Kalau pergi bersama Om asisten, sang papa tidak akan bawel bolak balik menelpon menanyakan kapan pulang.


Di tengah kebahagiaan yang tercipta, tiba tiba ada sepasang tangan yang menutup mata Han dari belakang.


“Bela?” Han terkejut dengan kedatangan Bela.


“Tante Bela, kesini juga?” Brenda langsung menunjukkan bahwa dirinya ada di antara mereka.


“Love, kamu udah lama datengnya, kamu masih ingat gak kalau setiap sore kita menikmati udara pegunungan disana. Ayo kita kesana.”


“Bel, tapi …”


“Sebentar saja, ayo ikut aku Love, aku merindukanmu. Ah, iya aku lupa, maaf ya Brenda sayang, aku pinjam Om asisten mu sebentar. Makan lah ice cream mu dulu nanti kalau sudah habis akan ku pesan kan lagi untukmu.”


Bela bergegas menarik lengan Han menuju tempat favorit mereka dulu. Ya, kenyataannya Han juga seperti menikmati kedatangan bela yang memang tak sangaja atau memang sengaja sudah di rencanakan.


‘Sial, dasar tante gak tahu diri. Dia pikir bisa mengerjai ku. Mau merebut Om asisten begitu saja. Kita lihat nanti siapa yang menang.’

__ADS_1


Sementara itu, Han yang di ajak paksa oleh Bela menjauh dari Brenda mulai merasa tak nyaman. Ia berkali kali menoleh ke belakang mencari sosok Brenda dan memastikan gadisnya masih duduk di tempat dan tak berpindah.


“Love, aku mohon padamu, berikan aku kesempatan satu kali lagi. Aku tahu aku tidak tahu diri meminta sesuatu yang begitu sulit, tapi aku yakin jika kau bertanya pada hati mu, maka kebenarannya adalah saat ini cinta kita memang masih ada. Kita hanya butuh waktu untuk saling memperbaiki kisah yang dulu belum usai.”


“Cukup Bel, cinta ku memang masih ada dan nama mu memiliki tempat sendiri di sudut hati ini.” Kata Han sambil menunjuk dada nya.


“Terima kasih Love.”


Bela maju dan memeluk Han, mencium nya di pipi dan memberikan senyum puas pada Brenda yang Ia tahu sedang menikmati kecemburuannya. Brenda sudah berada tak jauh dari pasangan yang kisahnya sudah usai itu.


“Bela, tapi cintaku saat ini bukan lagi meneriakkan nama mu. Hati ini sudah tak berharap dan memaksakan rasanya padamu.”


“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.” Kini Han mulai menegaskan kata katanya.


“Cukup Love, kamu menyakiti ku.” Aku tahu kamu begini hanya karena anak manja itu, iya kan? Aku tahu tak semudah itu cinta mu pergi.”


“Tidak, kamu salah Bel. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Selama tujuh tahun aku menjadi laki laki paling bodoh menangis, menunggu, dan berharap kamu kembali. Tapi apa yang aku dapat? Kekecewaan.”


“Tapi Love, ini karena kamu sedang emosi saja, coba kamu ingat lagi betapa bahagianya kita dulu. Kisah kita…aku yakin belum selesai. Kisah kita akan selamanya Love, aku mohon kembalilah.”


“Sesuai pepatah kuno, cinta tak harus memiliki, cinta rela kehilangan demi kebahagiaan salah satu nya. Aku sudah merelakan mu. Aku merelakan kepergian mu. Maka sekarang biarkan aku bahagia.”

__ADS_1


“Love, tunggu Love….” Bela berusaha mengejar langkah Han yang besar besar. Namun Han mempercepat langkahnya berusaha mengejar Brenda yang sudah duluan pergi ke arah kasir membayar semua pesanannya. Han menarik tangan Brenda kemudian menuntun gadis itu masuk ke mobilnya. Han melajukan mobilnya tanpa memperdulikan Bela yang terus berlari menangis dan mengejarnya. Jujur hati nya sakit menyaksikan Bela yang jatuh di kehancurannya saat ini.


Akan tetapi, sebagai laki laki, yang di ingat adalah janjinya. Walau pun bagi laki laki, harta wanita dan tahta adalah kelemahannya. Tapi Han tahu Bela bukanlah masa depan yang baik untuknya.


“Brenda, kamu gak papa?”


“Gak papa Om.” Brenda hanya menunduk merasa tak enak hati. Buru buru dia menghapus sisa air mata nya dengan ibu jari.


“Loh, gak kenapa kenapa tapi kok nangis gitu. Kalau saya ada salah, tolong maafin saya Brenda, saya serius sama kamu.”


“Om, saya yang salah, saya masuk ke kehidupan Om tanpa permisi.”


“Brenda, mari berjuang bersama.”


“Maksud Om?”


“Saya rasa saya sudah hilang akal sampai jatuh hati sama anak gadis atasan saya.”



Brenda tak sanggup menjawab, menanggapi apalagi mengangkat wajahnya. Ia hanya berusaha menahan senyumnya menunduk karena sudah dipastikan saat ini wajahnya merona mendengar Om asisten menyatakan perasaan.

__ADS_1


__ADS_2