
MENCINTAI OM ASISTEN 23
Bab 23 Kak Wety bunuh diri?
Di tarik paksa masuk ke sebuah ruangan, Wety terus meronta minta lepas.
“Wet, apa apaan sih? Terus aja dikit dikit ngaku hamil di depan orang?”
“Yah kamu nya sih Mas, enak enakan ciuman sama Brenda, anak ABG. Apa selama ini kamu kurang puas sama aku?”
“Wet, gue laki laki normal. Siapa yang gak on liat Brenda? Mendingan elu itu gugurin kandungan segera. Sebelum bentuk tubuh elu berubah semakin parah. Gue takut elu gak laku lagi di pasaran.” Tanpa merasa bersalah Tio mengeluarkan kata kata yang begitu keji.
“Mas, jangan gila kamu, aku gak mau. Aku takut Mas. Itu kan dosa. Aku juga bisa ikutan mati Mas.”
“Wety Wety, elu yang gila. Makanya gue bilang elu, jangan pernah lupa minum pil kb, ini kan salah elu juga. Sekarang hamil jadi bikin repot gue.”
“Mas, dari awal aku udah bilang, aku bener bener cinta sama kamu Mas, makanya aku gak bisa nolak kamu.”
“Ya tapi pakai logika dong Wet, karir gue abis dong kalau harus married sekarang.”
__ADS_1
“Ya Mas, maafin aku.”
Tio mulai melancarkan aksinya lagi, membuai Wety hingga larut dalam pemanasan hingga Wety tak kuasa menolak perlakuan manis seorang Tio.
“Sayang, kamu mau yah minum ini.” Tio mengeluarkan botol kecil dari saku celananya.
“Apa itu Mas.”Wety memperhatikan botol kecil yang diberikan Tio.
“Ini gue dapet dari tante Nesya. Tante Nesya itu dokter kandungan.”
“Ini untuk gugurin kandungan aku?”
“Iya, please Wet. Masa elu rela sih karir kita sama sama habis sampai disini gara gara harus urusin anak doang?”
Ia setuju untuk menggugurkan kandungannya.
Tio mengambilkan gelas minum dan menuang beberapa pil kemudian memberikannya pada Wety.
“Mas, ini gak kebanyakan? Satu dulu aja ya aku minumnya?” Wety menolak ketika membaca aturan minum yang menempel pada botol namun Tio menyodorkan dengan jumlah berbeda.
__ADS_1
“Sayang, tenang dong, kan tante Nesya itu dokter kandungan. Obat ini aman. Ayo minum.”
Setelah minum obat itu, Wety dianjurkan untuk beristirahat oleh Tio. Meninggalkan Wety berbaring di sofa, Tio ijin oergi sebentar untuk mengecek pekerjaan lain.
Beberapa saat kemudian, Wety merasa ulu hati nya seperti di peras peras, pun dengan ngilu di perut bagian bawah. Wanita itu merasa tidak nyaman dan membuka mata nya. Merasa tak wajar, Ia kemudian baru sadar bahwa tangannya terikat di kursi, Ia tidur dalam posisi duduk di kursi, bukan lagi tidur di sofa seperti awalnya.
Mulutnya juga di bungkam dengan lakban hitam. Wety menangis dalam diam nya. Merasa sakit semakin menjadi. Tio keterlaluan membiarkan dirinya harus menahan sakit tanpa menemani. Wety menangis menahan gejolak yang semakin mengiris di bagian perut bawahnya.
Semakin lama semakin tak kuat menahan rasa sakitnya, Ia pun melemah. Butiran keringat membasahi seluruh wajahnya. Wety hanya sanggup berdoa semoga dirinya masih bisa selamat.
Merasa ada cairan yang keluar dari inti tubuhnya, Wety kemudian diam sejenak, melihat ke arah bawah kaki nya, bahwa sudah banyak cairan kental dan darah segar membasahi lantai ruangan itu.
Brenda mengatur nafas nya yang memburu dan jantungnya yang berdebar tak karuan mendapat perlakuan yang membuat dirinya mabuk kepayang.
Adzan magrib berkumandang, namun Brenda belum ingin pulang ke rumah, masih enggan meninggalkan kantor agency, Ia menyusuri koridor, memastikan semua ruangan sudah kosong, kemudian bertemu dengan Mas Yudi sang photographer, Brenda mencium ada bau aneh sekitar tempatnya.
“Mas Yudi, cium bau aneh gak sih?”
“Bau apa? Kamu kali belum mandi?” Yudi berkelakar.
__ADS_1
“Mas, aku serius, ada kunci ruangan ini gak?”
Yudi yang memang memiliki kunci cadangan setiap ruangan, akhirnya membuka ruangan yang di curigai Brenda tersebut. Benar saja begitu ruangan terbuka, seorang wanita dalam keadaan pingsan terkapar di lantai yang penuh dengan darah segar. Aroma darah kental nya begitu menusuk di indera penciuman.