
MENCINTAI OM ASISTEN 47
Bab 47 Perjuangan cinta Om asisten
Hari kedua di Bali, nyatanya membuat Brenda lebih tenang. Gadis itu benar benar menikmati hari baru nya. Walau tetap saja bayangan laki laki dewasa itu tetap selalu mengintip di kelopak mata, tapi Brenda bisa mengalihkan perhatiannya sekali kali dengan pergi ke pantai menikmati waktu bersantainya dengan sang mama.
Berbeda dengan Han yang meratapi kesedihannya seorang diri. Jika Brenda bisa berbagi dengan sang Mama pasca putus cinta dengan sang kekasih. Han hanya bisa menikmati segala kesakitannya seorang diri.
Terbukti dengan bulu jenggot tipis yang sudah mulai tumbuh di area dagu laki laki dewasa itu.
Laki laki itu tengah meumpangkan kepala nya di meja dengan kedua tangan berlipat, ponsel nya bergetar menandakan ada seseorang di seberang yang menunggu suaranya menjawab.
“Halo.”
“Love, apa siang ini kamu ada waktu? Aku butuh bantuanmu.”
“Bela, ada apa lagi?”
“Aku ingin meminta bantuan mu mengantarkan ku ke dokter kandungan. Hanya untuk check up rutin bulanan saja.”
Menimbang beberapa saat, akhirnya Han mengabulkan permintaan wanita masa lalu nya.
__ADS_1
“Baiklah, jam berapa aku harus menjemputmu? Sekalian ada yang perlu aku sampaikan.”
“Love, aku menunggu mu jam tujuh malam di rumahku.”
“Tunggu, apa tidak terlalu malam, apa tidak ada jadwal pemeriksaan sore?”
“Dokter ku kebetulan memang praktek malam Love, oh ayolah, apa kau keberatan mengantarkan ku. Atau Brenda…. Jika dia keberatan calon suami nya mengantarkan ku ke dokter, aku bisa menjelaskan pada nya.”
“Tidak perlu. Bersiaplah jam tujuh aku harap kau sudah siap.”
“Terima kasih dan sampai jumpa nanti malam Love.
Bela melebarkan senyum nya yang sudah tertahan sejak tadi. Ia tahu jelas bahwa Brenda sekeluarga sedang berada di Bali untuk memohon belas kasihan dan negosiasi agar tender nya tak putus tengah jalan dan menyebabkan kerugian begitu besar.
Sembari menggenggam ponsel nya, senyum nye mengembang. Wanita itu puas memukul mundur lawan nya dan membuat pertahanan sang lawan hancur sampai ke akar.
Malam pun tiba.
Han menjemput Bela di kediamannya, masih dengan setelan kerjanya, pria dewasa itu memilih untuk menyelesaikan semua tugas nya sebelum pulang ke apartemen.
‘Bela, saya sudah sampai.’ Ucap Han di telepon dan langsung menutup sambungannya tanap memberi kesempatan lawan bicara nya untuk menjawab.
__ADS_1
Bela keluar dengan anggun dari dalam rumahnya. Han menemani Bela hanya sampai di depan ruang periksa. Sebenarnya Bela sudah melakukan check up rutin nya hanya saja, malam ini dokter perlu membacakan beberapa hasil tes laboratorium mengenai keadaan Bela.
“Bagaimana, apakah semua baik baik saja?” tanya Han begitu mereka berdua sudah di dalam mobil untuk pulang.
Sejenak, netra nya memaku pada laki laki yang masih menaruh perhatian padanya.
“Ya ya aku baik baik saja. Aku baik dan terima kasih perhatian nya. Terima kasih karena kamu masih peduli pada ku Love.”
“Bel, bisakah kamu mengganti panggilan itu? Kamu tahu saya sekarang sudah memiliki wanita lain dalam hidup saya. Jadi saya pikir untuk kebaikan bersama kamu bisa memanggil nama saya saja.”
“Ah ya, maaf maafkan aku, hanya saja lidah ku sudah terbiasa memanggil mu seperti itu. Tapi aku akan mengubahnya sesuai permintaan mu.”
Sesampainya di rumah, Bela menawari Han mampir untuk sekedar minum kopi. Ia tidak tega melihat Han yang terlihat lelah.
Namun dengan tegas Han menolak. Bahkan ketika Bela melakukan kebiasaan nya seperti dulu, mencium pipi Han sebagai tanda perpisahan setelah menghabiskan waktu bersama.
“Saya rasa, kamu perlu membiasakan beberapa hal baru dalam hidupmu. Ketika kita bersama, mungkin itu hanyalah kebetulan atau memang kamu membutuhkan bantuan saya. Dan saya berharap tidak ada kejadian yang akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari, terutama untuk menjaga perasaan wanita dalam hidup saya saat ini.”
Penjelasan Han barusan terasa menampar tanpa jejak di relung hati Bela. Menyakitkan ya. Menyesal sudah terlambat. Wanita itu hanya masuk ke dalam rumah dengan mata berkaca kaca.
‘Maaf Bela, ini yang terbaik yang bisa saya lakukan. Saya hanya ingin menjaga perasaan Brenda. Hati saya kini berlabuh padanya. Anggap saja ini perjuangan cinta saya.’
__ADS_1
Han bermonolog dengan dirinya sendiri.