MENCINTAI "OM" ASISTEN

MENCINTAI "OM" ASISTEN
MENCINTAI OM ASISTEN 29


__ADS_3

MENCINTAI OM ASISTEN 29


Bab 29 Aku ingin mabuk


Tak terasa perbincangan ibu dan anak itu mengantarkan mereka ke petang hari. Matahari mulai mencari tempat persembunyiannya dan tak lagi menampakkan cahayanya.


“Oh iya Ma, aku ada janji ketemuan sama Om asisten, aku mau makan diluar. Aku mau coba untuk mengenal Om lebih dekat.”


Pembicaraan mereka selesai sampai disitu. Tak ada lagi perdebatan. Mama nya kini menyerah pada keputusan suami dan putri nya. Membiarkan putri nya sendiri yang menilai mana yang terbaik untuk diri nya.


Brenda keluar dari kamarnya dengan dres merah yang memberikan kesan anggun. Membiarkan rambutnya tergerai indah dan memoles wajahnya tipis agar terlihat natural.


 



Menunggu lima belas menit sampai bosan, akhirnya gadis itu menyerah. Ia berbohong pada sang mama untuk naik taxi karena Han terjebak macet. Beruntung papa nya lembur dan belum sampai di rumah ketika Ia berangkat.


Jam delapan malam, Han baru tiba di rumah Brenda. Laki laki tampan itu menampakkan rasa bersalahnya karena hampir tak menepati janji bertemu dengan Brenda. Ia tahu betul pasti Brenda akan ngambek atau bahkan bisa mengomel. Setidaknya walau terlambat lebih baik dari pada tidak datang sama sekali.


“Malam Pak, Bu, apa Brenda ada?”


“Loh Han, tadi kata Brenda kamu terjebak macet dan Brenda disuruh naik taxi takut kemalaman.” Jawab Mama Brenda.


“Ini sebenarnya ada apa, kemana lagi anak itu?” Papa mulai cemas.

__ADS_1


“Maaf tadi saya ada halangan Pak, jadi terlambat menjemput Brenda. Saya akan cari Brenda pak.”


“Iya iya, cepat kamu temukan anak saya ya. Jangan sampai terjadi apa apa sama Brenda.” Kata Papa Brenda.


“Tuhkan pa, belum apa apa aja Han udah berani ingkar janji. Laki laki begini papa jodohin ke putri kita. Mau jadi apa pernikahan mereka nanti Pa?” Mama Brenda terus saja mengumpat kesal pada calon menantu nya.


Sementara papa Brenda sibuk menghubungi anak gadis nya yang tak kunjung menjawab panggilannya.


“Kebiasaan deh Brenda, tidak jawab telepon. Pasti ponsel nya di silent lagi.”


“Pa, gimana kalau terjadi sesuatu sama Brenda Pa, Mama jadi takut deh.”


“Anak itu sudah berkali kali berani bohong sama kita Ma. Papa akan kasih pelajaran sama dia.”


“Pa, sabar dulu jangan terbawa emosi. Ini kan salah nya Han tidak menepati janjinya.”


“Coba Papa hubungin Han siapa tahu dia udah ketemu sama Brenda.”


“Iya Ma, Han juga belum jawab nih.”


Tak lama kemudian, Han memberi kabar bahwa Ia sudah menemukan jejak lokasi terakhir tempat yang di datangi oleh Brenda, dari GPS pada ponsel Brenda. Beruntung Han sudah menghubungkan GPS ponsel Brenda dengan ponsel nya sendiri.


Di sebuah klub malam.


Brenda datang sendirian dan tanpa tujuan. Ia duduk di depan meja bartender.  Gadis itu masih termangu dengan gelas yang di suguhkan oleh sang bartender.

__ADS_1


“Minum aja. Kenapa di liatin doang sih?”


“Mas Tio?”


“Hai Brenda.”


“Mas Tio apa kabar?”


“Gue baik, elu sendiri gimana?”


“Baik Mas, tapi aku kangen pemotretan.”


“Tumben kesini.”


“Iya aku lagi suntuk banget Mas. Kata nya kalau kita mabuk kita bisa lupain sejenak penat kita. Aku ingin mabuk.”


Pikirannya yang sejak tadi terpaku pada Han dan Bela kembali berputar putar.


Kata kata Bela siang tadi terus saja menghantui Brenda. Bisa saja Bela ingin mencegah Han untuk menemui dirinya.


“Emang kamu udah pernah mabuk?”


“Boro boro Mas, aku kan anak baik baik, aku belum pernah nyentuh minuman ginian sebelumnya. Kecuali waktu itu aku minum pas Cindy ulang tahun Dua bulan lalu.”


“Oh I see. Terus sekarang kesini ngapain kalau gak coba minum? Kalau cuma orange juice di rumah aja.” Tio meledek Brenda dan kemudian tertawa seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong.

__ADS_1


“Mas Tio kesini sama siapa?”


Tanpa sadar Brenda mulai meneguk minuman yang di suguhkan oleh bartender di depannya. Dan tanpa terlihat jelas sang bartender mengedipkan mata seolah memberi kode pada Tio.


__ADS_2