
MENCINTAI OM ASISTEN 39
Bab 39 Aku sibuk Om!
Setelah perbincangan antara Bela dan Brenda di kampus sore itu, keduanya tak lagi pernah bertemu. Brenda perlahan menjaga jarak dengan Om asisten yang biasanya sangat manja kini Ia mulai berubah. Ia sadar dengan semu kata kata Bela, dirinya memang terlalu kekanakan selama ini. Ia ingin menjadi dewasa, wanita dewasa yang bisa mengerti dan mengikhlaskan jika memang Han memilih cinta masa lalu nya dari pada hubungan masa depannya bersama Brenda.
Ya, harus dari jauh jaruh hari Brenda bersiap. Menyiapkan hati itu bukan perkara mudah. Tidak seperti membalikkan telapak tangan.
Malam ini Han mengajak Brenda makan ice cream di café. Namun seperti dua kali ajakan sebelumnya, Brenda menolak dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah yang mulai menumpuk.
Bagaimana tidak, pikiran gadis itu masih kalut dengan berbagai kecurigaan ini dan itu. Mulai dari pesan suara malam itu, sampai dengan perbincangannya bersama Bela di kampus, sewaktu Han pergi ke Bandung beberapa hari lalu.
Han merasa ada yang tak beres, Ia memilih tetap datang menjemput meski Brenda sudah menolak nya berkali kali. Laki laki rupawan itu tiba tepat jam enam sore.
__ADS_1
“Sore Pak, Bu, apa Brenda nya ada?”
“Brenda nya seharian di kamar terus Han, beberapa hari ini, sebenarnya apa ada yang terjadi antara kalian?”
“Justru itu Bu, Brenda seperti sedang menghindari saya, saya juga khawatir, makanya mala mini saya mau mengajak Brenda keluar. Tapi Brenda sudah menolak ajakan saya terus menerus.”
“Coba Ma, di tengokin dulu anak gadisnya ke kamar, papa mau bicara dulu sama Han sebentar.”
Mama Brenda menurut pada sang suami untuk memanggilkan Brenda di kamar. Gadis muda yang sebenarnya sudah risau sejak tadi mendengar kedatangan sang pujaan hati itu pun langsung membuka pintu pada ketukan pertama sang mama.
“Ma, aku udah bilang aku lagi mau fokus belajar aja, aku mau kerjain tugas aku yang numpuk.” Namun beda mulut beda hati. Sesekali Brenda meninggikan leher nya mencuri pandang kea rah luar mencari sosok yang sebenarnya di rindukannya. Bagaimana tidak, sudah tiga hari ini Brenda memaksa sang papa untuk diantar jemput dengan sopir kantor.
“Katanya gak mau ketemu, tapi ngeliat keluar terus. Orangnya lagi ngobrol sama papa di ruang kerja.”
__ADS_1
“Ssst Mama, entar kedengeran.”
“Ya makanya kalau kangen ya bilang kangen entar di serobot orang loh.”
“Itu aja udah di serobot orang Ma.”
“Terus kamu pasrah aja, calon suami kamu di serobot wanita lain?”
“Aku pikir percuma pertahanin orang yang gak fokus sama kita Ma.”
“Siapa yang gak fokus sama kamu sih? Saya hubungin kamu dari kemarin tapi gak pernah di angkat kan? Saya jemput di kampus kamu juga nolak.” Tiba tiba Han sudah berada di ambang pintu dengan tangan melipat dada dan senyum mengembang.
Sang Mama langsung pergi meninggalkan pasangan yang sebentar lagi melepas rindu akibat berhari hari saling menghindar.
__ADS_1
“Sorry Om, aku lagi sibuk, aku mau kerjain tugas yang numpuk.”
“Saya tunggu.” Brenda hendak menutup pintu kamarnya namun Han langsung mencegah dan bersikeras membiarkan pintu tetap membuka lebar, agar Ia dapat menyaksikan kegiatan apa yang sebenarnya di lakukan Brenda.