
...Jangan lupa memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Suami Tari pun tidak ada. Karena ada pekerjaan di luar kota. Hanya ada dua asisten rumah tangga saja yang terlihat masih sibuk berberes. Bara memang sudah menunggu kesempatan ini untuk berbicara dengan kakak perempuannya itu.
"Sebelumnya Bara minta maaf jika ucapan Bara kelak menyinggung perasaan mbak."
"Ada apa, bicaralah aku ini kan mbak mu jadi jangan sungkan," jawab Tari.
"Begini, ini menyangkut masalah perusahaan."
"Bicara lah."
"Bagaimana pun, mbak juga punya hak yang sama sebagai seorang anak. Apa ada yang bisa mbak jelaskan ke Bara?" Tanya Bara dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan kakaknya.
Tari tertunduk sedih, tapi bukan karena ia tersinggung melainkan ada rasa bersalah di hatinya. Ia juga menyesal tidak memberitahukan dari awal tentang suaminya yang telah menggunakan uang perusahaan dalam jumlah besar selama ia menjalankan perusahaan peninggalan papanya tersebut.
"Perusahaan mas indra sedang mengalami kerugian yang sangat besar saat itu. Lalu ia meminjam uang dari perusahaan kita untuk menyelamatkan perusahaannya. Tapi setelah perusahaannya mulai bangkit, belakangan ini mbak baru tau kalau Mas Indra punya wanita lain di belakang mbak...," Tari tidak bisa membendung tangisnya yang selama ini ia tahan.
"Kenapa mbak simpan semua ini...?" Bara coba menenangkan Tari yang terisak dalam pelukan .
"Sebab itulah mbak mau kamu cepat-cepat pulang dan mengurus perusahaan. Karena jika mbak yang mengurus maka mas indra akan semena-mena menggunakan uang perusahaan kita." ucap Tari sesegukkan.
"Apa mama tau soal ini? "
"Gak. Mama gak boleh tau. Mbak gak mau penyakit jantung mama kambuh lagi. Dan kamu juga gak mau kan hal itu terjadi?"
"Bara juga gak mau itu terjadi. Mama adalah satu-satunya orangtua yang kita punya saat ini."
"Sekali lagi mbak minta maaf ya...?" Ucap Tari menyesal.
"Sudahlah, ini bukan kesalahan mbak."
"Mbak akan coba bicara nanti sama mas indra soal uang perusahaan yang dia pinjam."
"Sebaiknya jangan dulu, Bara masih punya beberapa rekan kerja yang bisa membantu untuk mengatasi masalah di perusahaan kita."
Sebenarnya ia hanya tidak ingin semakin memperburuk keadaan yang membuat kakaknya semakin tersakiti kelak. Ia punya cara sendiri untuk memberikan pelajaran pada iparnya.
"Mbak percaya sama kemampuan kamu, kamu pasti bisa membuat semuanya kembali seperti semula," ucap Tari mengusap bahu adiknya.
__ADS_1
"Kalau begitu Bara pulang dulu, jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan mbak demi Alina. Kalau ada apa-apa hubungi Bara ya."
"Iya, makasih ya adek mbak yang ganteng," Tari menepuk pelan pipi Bara, pemilik pipi yang dulu gembul dan menggemaskan itu kini menjadi pria tampan dan bisa di andalkan olehnya.
Bara mengurangi kecepatan mobil nya karena jalan yang lumayan padat dan sedikit kemacetan. Ini sudah biasa terjadi apa lagi di akhir pekan.
Tanpa sengaja matanya menangkap seseorang yang keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah restoran.
Tante Raisa!?
Raisa tidak sendiri ada seseorang berjalan di sampingnya.Herman.
Bara membelokan mobilnya memutar arah agar bisa mencapai tempat tersebut. Ia memarkirkan mobilnya lalu masuk ke restoran itu dan memilih tempat duduk cukup aman namun masih bisa memantau pembicaraan Raisa dan Herman tanpa menyadari keberadaannya disitu.
Bara segera memesan segelas minuman dingin untuk membasahi tenggorokan nya yang sudah terasa kering. Apa lagi saat ini ia harus menyaksikan pemandangan yang begitu menyakitkan baginya.
"Raisa, kita sudah sama-sama dewasa dan aku juga tidak ingin berbasa-basi lagi denganmu. APA KAMU MAU MENIKAH DENGANKU?" Herman menatap lekat pada Raisa.
Degg...!
Meskipun tidak terlalu jelas, tapi Bara tau bahwa Raisa sedang di lamar oleh pria yang ada di hadapannya itu. Bara menenggak habis minumannya yang baru di sajikan pelayan, lalu memesan lagi.
Bukannya ia tidak ingin memulai lembaran baru dalam hidup nya, namun tekad nya saat ini adalah ia ingin melihat Ricky menjadi pria yang mandiri dan bertanggung jawab. Karena jika ia menikah kemungkinan perhatiannya akan terbagi.
"Aku tau, kamu bisa membicarakan ini dulu ke Ricky, dia juga berhak tau."
Ia tentu mengerti apa yang ada dalam pikiran Raisa. "Kamu jangan khawatir, aku akan menganggap dia sebagai anak ku juga," ucap Herman meyakinkan.
"Bukan itu masalahnya, tapi saat ini aku belum memikirkan ke arah sana," Raisa pun mencoba memberi pengertian kepada sahabat nya itu.
"Aku tidak memaksa mu untuk menjawab sekarang. Tapi aku hanya ingin kamu tau perasaan ku saja. Apa pun keputusanmu aku akan menerimanya, tapi aku juga tidak bisa berbohong kalau aku ingin mendengar keputusan yang membuatku merasa bahagia."
"Terimakasih, kamu selalu mengerti aku," ucap Raisa membalas Herman dengan senyumannya.
Raisa dan Herman dulu bersahabat sejak SMA, namun Raisa tidak pernah tau perasaan Herman yang sebenarnya. Sampai akhirnya Raisa harus menikah karena di jodohkan oleh orangtuanya.
Sampai lah pada saat ini akhirnya Herman bisa mengutarakan maksudnya, dan ia tidak ingin lagi menyia-nyia kan kesempatan yang ia miliki.
Di sudut lain ada mata yang mengawasi mereka dengan penuh kecemburuan.
__ADS_1
...-----***-----...
Sudah seminggu ini Bara sibuk dengan pekerjaannya. Jangankan untuk menghubungi para sahabatnya, makan pun ia hampir lupa.
Siang itu seperti biasa Nina akan nenawarkan kopi pada atasannya. Ia masuk keruangan Bara dengan secangkir kopi di tangannya lalu meletakkannya di meja kerja.
"Silahkan di minum dulu kopinya," ucapnya tersenyum manis.
"Terimakasih, aku akan meminumnya nanti." ucap Bara tanpa menoleh.
Ia tau akhir-akhir ini atasan nya sangat sibuk dengan masalah yang ada di perusahaan. Terkadang untuk makan pun harus di ingatkan. Jadi kali ini ia berinisiatif untuk mengajak atasannya makan siang bersama.
"Pak, ini kan sudah waktunya jam istirahat, sebaiknya bapak makan siang saja dulu. Apa perlu saya pesankan?"
"Terimakasih. Tapi saya belum lapar," jawab Bara masih memfokuskan perhatiannya pada pekerjaannya.
"Tapi kesehatan bapak, kan lebih penting."
Entah karena terlalu banyak beban di pikirannya atau suasana hatinya yang kurang baik. Bara tiba-tiba membentak sekretarisnya.
"NONA KANINA! Jika pekerjaanmu di sini sudah selesai tolong segera tinggalkan ruangan ini!!"
"Ba --- baik," ucapnya terbata karena kaget mendengar suara Bara yang menggema di ruangan itu. Ia pun segera pergi menuju ruangan nya.
"S*al! Kenapa aku harus memarahinya!" Umpat Bara menyesali perbuatan nya. Ia pun pergi menuju ruangan Nina dan meminta maaf.
"Maaf, seharusnya aku tidak melampiaskan kemarahan ku padamu."
"Tidak masalah, saya mengerti," ucapnya sedikit menunduk karena belum berani memandang pada atasannya tersebut.
"Bersiap lah, sebentar lagi kita ada pertemuan dengan klien di restoran XX, sekalian makan siang."
"Baik pak," akhirnya Nina bisa sedikit tersenyum lega.
..._ 👍...
..._ ❤...
..._ 🎁Bila berkenan😚...
__ADS_1