Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 29


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗 ...


Semua keperluan di hari pernikahan pun sudah siap. Tapi itu semua membuat Bara semakin tampak gelisah. Ia teringat dulu Raisa pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menikah kecuali jika pengantin pria yang membuatkan kue pengantin untuknya. Rupanya Bara benar-benar menanggapi serius ucapan Raisa waktu itu.


Sudah beberapa hari ini ia datang ke toko dengan niat ingin belajar membuat kue, dan ini adalah kesekian kalinya ia gagal merias kue tersebut.


"Udah lah kalo emang gak bisa, kamu udah rusakin beberapa kue lho," ujar Raisa yang menatap lelah pada Bara.


"Tapi aku tetap ingin belajar supaya kamu senang dan kamu mau menikah sama aku."


"Tapi kan tanggal pernikahan kita udah di tentukan, apa kamu mau aku mengundurnya supaya kamu bisa punya lebih banyak waktu lagi untuk belajar membuat kue itu?"


"Jadi gimana dengan syaratnya? Apa kita tetap menikah meski tanpa kue pengantin?" Tanya Bara seraya menghampiri Raisa yang duduk di kursinya.


"Kamu boleh membuatnya setelah kita menikah," jawab Raisa tersenyum.


"Kita juga akan membuat adek untuk Ricky?" Ucap Bara sambil membalas senyum Raisa.


"Jangan berfikir terlalu jauh, aku sudah lapar, ayo kita makan!" Ajak Raisa sambil memukulkan tasnya ke bahu Bara. "Dasar bocah!" Ucapnya sambil melangkah keluar ruangan.


Kamu lihat aja nanti, kamu tidak akan berani menyebutku seperti itu lagi setelah mengetahui bagaimana sebenarnya orang yang kamu sebut bocah ini!


...-----***-----...


Hari yang di nanti pun sudah tiba, acara pernikahan yang di adakan di salah satu hotel mewah milik keluarga PRANAJA itu pun berlangsung meriah dan terbilang sangat lancar. Tidak ada satu pun yang menyangka kalau yang bersanding disana adalah pasangan beda usia yang sangat berjarak.


Sebenarnya Raisa hanya menginginkan pernikahan yang sederhana saja, tapi ia juga harus memahami bahwa ini adalah pernikahan pertama untuk Bara jadi ia juga harus menghormati semua keputusan yang di ambil oleh keluarga Bara.


Raisa sudah lebih dulu pergi ke kamar hotel tempat ia dan Bara akan menghabiskan malam pengantinnya, sementara Bara masih sibuk berbincang dengan beberapa rekannya.


Usai berbincang Bara bergegas ingin menyusul Raisa ke kamar mereka, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti oleh sosok tiga makhluk yang sangat khas dalam kehidupannya.


"Tunggu dulu..., buru-buru amat," ujar Dimas yang langsung menahan langkah Bara.


"Loe pada belum pulang?" Tanya Bara kesal sambil menatapi ketiganya.


"Gue bentar lagi balik, gue cuma mastiin keadaan loe aja." jawab Dimas lalu merangkul Bara seraya berbisik. "Loe udah siap mendarat, kan?"


"Gak usah ngajarin gue loe!" Sahut Bara.

__ADS_1


"Bagus dong kalo gitu, jadi Ricky bisa cepat punya adek. Iya gak Rick?" Dimas tersenyum jahil sambil melangkah pergi meninggalkan ketiga temannya.


"Loe kenapa gak pulang!?" Tanya Bara Pada Adit yang masih setia berdiri di sana.


"Anak tiri loe ngajak gue nginep!" Jawab Adit sambil berbalik ingin pergi, lalu ia kembali berbalik menghampiri Bara. "Loe gak lupa kan sama honor gue?" Tanya nya sambil berbisik.


"Iya iya gue inget! Buruan loe pergi, ajak Ricky sekalian!" Jawab Bara sekaligus memerintah.


"Sabar mas bro, jangan ngegas mulu..., santai," Adit menepuk bahu Bara lalu ia pun pergi bersama Ricky.


Bara melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamar di mana Raisa sudah menunggunya disana.


Saat tiba di kamar ia melemparkan pandangannya ke setiap sudut kamar mencari keberadaan Raisa. "Mungkin dia sedang mandi," ucapnya ketika mendengar suara gemercik air di kamar mandi. Ia kemudian membuka jasnya dan bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponsel sekedar mengusir rasa tidak sabarnya saat menunggu Raisa keluar dari kamar mandi.


Beberapa saat Raisa pun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lagi-lagi Bara terpana dengan sosok ibu dari sahabatnya yang kini sudah menjadi istrinya.


"Dari pada bengong mending kamu mandi," ucap Raisa yang sedang berdiri di depan cermin.


Bara pun tersadar lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, tapi sebelum itu ia kembali menghampiri dan menarik pinggang kecil milik Raisa dengan satu tangannya. "Persiapkan dirimu...," bisiknya.


"Buruan mandi, kamu tuh bau keringat tau gak!?" Balas Raisa demi menutupi kegugupannya akibat hembusan nafas hangat Bara yang menyapu kulitnya.


Bara pun segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya karena ia sendiri merasa badannya sudah terasa sangat lengket. Setelah menyelesaikan ritual mandinya ia pun keluar masih dengan berbalutkan handuk di pinggangnya.


"Siapa?" Tanya nya berbasa-basi seraya memeluk Raisa dari belakang.


"Aku hanya memastikan keadaan Ricky, takutnya dia lupa makan, sejak kecil ia punya masalah dengan kesehatan," jawab Raisa sambil melepaskan lengan Bara yang melingkar di pinggangnya. "Pakai bajumu," perintah Raisa.


"Kenapa harus pakai baju? Bukankah kamu sudah janji aku boleh tidak sopan jika kita sudah menikah? Ayo penuhi janjimu," ucap Bara yang mulai melepaskan simpul handuknya.


"Bara! Kamu jangan seperti anak kecil begini, cepat pakai bajumu!" Printah Raisa lagi.


"Sekarang aku ini suamimu, jangan panggil aku seperti itu lagi, panggil aku sayang," pinta Bara.


"Kamu nggak mau di panggil Mas?"


"Nggak, itu gak keren, aku mau di panggil sayang," jawab Bara sambil membelai rambut istrinya.


"Tapi aku juga sering memanggil Ricky dengan sebutan itu, gimana kalo Ricky nanti salah faham?" Raisa mencoba menahan tawanya saat menyaksikan perubahan di wajah Bara.

__ADS_1


Bara menatap tajam, ia sadar Raisa sedang ingin mengerjainya. Ia meraih pinggang kecil itu lagi tanpa basa-basi ia segera me****t bibir tipis yang sedang mengejeknya itu.


Raisa terkejut, ia sempat meletakkan tangannya di dada bidang milik Bara dan ingin menolak namun ia sadar bahwa pria tersebut sudah sah sebagai suaminya.


"Apa bocah ini sudah layak di sebut sebagai suami?" Bisik Bara setelah ia mengakhiri ciuman mendadaknya. Raisa dengan segera membuang pandangannya. Ia tidak tau harus berkata apa, untungnya ada yang mengetuk pintu jadi Raisa mempunyai alasan untuk pergi dari hadapan Bara.


Raisa membukakan pintu dan mempersilahkan masuk pada pelayan hotel yang telah membawakan makan malam untuk mereka.


"Makan lah dulu, kamu pasti lapar," ucap Raisa saat pelayan tersebut sudah pergi.


"Ayo," jawab Bara sambil duduk menghadapi hidangan makan malam tersebut dan ia pun sudah memakai kaos dan celana pendeknya. "Setelah ini aku boleh mendapatkan hidangan yang lain?" Bara melirik ke arah Raisa dengan senyuman menggodanya.


Raisa tidak membalas, ia mengacuhkan tatapan itu dan mencoba fokus dengan makan malamnya.


"Jangan lupa gosok gigimu sebelum tidur," perintah Raisa saat mereka sudah selesai.


Bara tersenyum senang dan langsung menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan perintah tersebut. Tidak lama ia keluar dari kamar mandi, dan giliran Raisa yang pergi ke kamar mandi. Beberapa saat Raisa pun kembali, sebelum pergi ke tempat tidur tidak lupa ia memakai perawatan malamnya. Bara dengan setia menunggu sambil memandangi kegiatan istrinya.


Bara tersenyum bahagia saat melihat Raisa menuju tempat tidur dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan lagi ia langsung memulai aksinya.


"Bara, kamu ---"


"Kamu lupa harus memanggil aku apa? Atau harus ku ingat kan lagi?" Ancam Bara sambil berbisik di telinga Raisa.


"Sayang...,kendalikan dirimu...," balas Raisa juga berbisik.


"Sekarang aku berhak atas dirimu, tidak masalah jika aku kehilangan kendali," Bara mulai meraba kesana kemari dengan bebas karena merasa benar-benar berhak.


"Aku lagi dapet!" Ucap Raisa dengan cepat.


"Apa!?"


"Aku lagi menstruasi...," Raisa memperjelas ucapannya. "Maaf,"


Bara menarik nafas berat lalu mengusap kasar wajahnya, malam ini ia harus menahan sesuatu yang terlanjur bergejolak.


"Ya udah, kita tidur aja," ucap Bara seraya mengecup puncak kepala Raisa.


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁 Bila berkenan😚...


__ADS_2