
...Jangan lupa jejak untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Bara akhirnya menyudahi permainannya setelah mereka sama-sama mencapai puncaknya. Raisa pun sepertinya sudah sangat kelelahan, ia merasa perutnya terasa agak mual akibat pertempuran maha dahsyat selama hampir semalam. Dan di tambah beberapa level di pagi itu.
Setelah merasa cukup untuk menyegarkan dirinya, ia pun keluar menemui Bara yang tengah duduk di sofa.
Bara bahkan terlihat sangat santai dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru saja telah bekerja keras selama hampir semalaman.
"Sayang, gimana kalo sampe Ricky liat ini?" Tanya Raisa seraya memperlihatkan warna kulitnya yang kemerahan.
Bara menggeser duduknya mendekati Raisa yang tampak sewot. "Sayang..., Ricky itu udah dewasa, kamu gak usah mikir yang berlebihan, kalau pun dia liat paling tidak dia tau kita telah berusaha keras untuk memberikan dia adik."
Raisa tidak merespon samasekali. Karena setiap ucapan Bara tidak memberikan solusi apa pun untuknya.
"Ya sudah, lain kali kita buat di bagian yang lain saja."
Raisa tidak bergeming, dan masih membuang pandangannya karena ia merasa benar-benar kesal dengan ulah Bara yang tidak menanggapi serius ucapannya.
Setelah mandi dan mengenakan pakaiannya, Bara menemui Raisa di dapur. "Kamu lagi ngapain sayang?" Tanya nya.
"Bikin sarapan, tapi seadanya aja, menyesuaikan dengan bahan-bahan yang ada di sini," jawab Raisa.
"Apa sebaiknya kita pesan saja?"
"Nggak perlu, ini sudah cukup," Raisa menata sarapan di meja. "Kamu mau aku buatin kopi?" Tanya Raisa pada Bara yang sudah duduk menghadapi meja makan.
"Apa kamu suka kopi?" Tanya Bara kembali.
"Aku emang nggak suka kopi. Tapi aku bisa buatin untuk kamu."
"Nggak, aku juga gak suka kopi," ujar Bara. "Ayo kita sarapan."
Raisa pun duduk dan menikmati sarapan paginya. Setelah usai sarapan mereka pun bersiap pulang ke rumah.
"Ini kamu pake dulu," Bara memberikan jas nya pada Raisa.
"Untuk apa?"
Tanpa menjawab, Bara pun memasangkan jas itu ke punggung Raisa lalu menaikkan kerah jas tersebut. Tidak lupa Bara melepaskan penjepit rambut yang di gunakan Raisa agar rambut itu tergerai dan menutupi bagian lehernya.
"Aku sudah terlatih untuk berpikir dengan cepat, dalam situasi dan kondisi apa pun."
Beberapa saat menempuh perjalanan mereka pun sampai. Raisa merapikan keadaannya sekali lagi, memastikan agar semua tato model terbarunya tidak terlihat oleh siapa pun.
Saat turun dari mobil pandangannya mengarah pada tukang jamu yang kebetulan lewat. Meski agak ragu, ia memanggil tukang jamu tersebut. Sementara Bara menghampiri Dimas yang kebetulan bertandang hari itu.
"Mbak nya mau jamu apa?" Tanya tukang jamu seraya meletakkan tempat jamunya di bangku yang ada di ujung teras.
__ADS_1
"Ada jamu apa aja ya?" Tanya Raisa kembali.
"Ada jamu singset, ada sari rapet...."
Bla bla bla, tukang jamu menjelaskan dari semua fungsi jamu yang di jualnya.
Raisa sempat bergidik mendengar fungsi jamu dengan kategori kedua barusan. "Mm..., selain yang di sebutin tadi ada lagi gak?" Tanya Raisa.
"Sayang...,kamu koq masih disini? Bukan nya kamu harus istirahat?" Bara merangkul mesra pinggang Raisa yang tengah mengobrol dengan tukang jamu.
"Aku... aku mau...," Raisa tertahan karena sangat malu. Bara masih juga berani bertingkah meski di sana ada orang lain.
"Oo, saya ada jamu yang mbak maksud!" Ucap mbak tukang jamu. Setelah meracik jamu tersebut ia pun menyerahkan nya pada Raisa. "Saya juga ada jamu khusus pria. Biar makin joss!" Tambahnya lagi😅
"Nggak, gak perlu. Ini udah cukup!" Raisa meminum habis jamu yang di pegangnya tadi. Setelah membayar harga jamu ia buru-buru menarik lengan Bara agar masuk ke dalam rumah.
"Gue masuk dulu!" Pamit Bara pada Dimas yang juga sedang mengobrol dengan Ricky dan juga Adit.
"Mbak, emang ada jual jamu apaan!?" Tanya Dimas pada tukang jamu yang masih mengemasi botol-botol jamunya.
"Ya banyak mas. Bla bla bla...," tukang jamu kembali menjelaskan.
"Kalo saya minum jamu khusus pria yang mbak bilang tadi, emang beneran bikin joss yah?" Tanya Dimas lagi.
"Ya di buktiin sendiri sama mas nya."
"Sari rapet itu jamu khusus wanita aja mas, biar makin rapet!"
"Beneran mbak!? Buktinya mana!?"
"Ya di coba sama istrinya lah mas...."
"Tapi saya belum punya istri mbak. Gimana dong!?"
"Ya mas nya nikah dulu toh," jawab tukang jamu sambil berdecak.
"Mbak, sebaiknya gak usah di ladenin, temen saya ini otaknya emang rada-rada angker! Ucap Adit menghentikan keisengan Dimas tersebut. "Hati-hati mbak, kalo ada yang gangguin lempar aja pake botol jamu!" Pesan Adit.
"Otak loe ngeres banget! Pake pengen di buktiin segala!" Ucap Adit ketika tukang jamu benar-benar sudah pergi.
Dimas pun tergelak menyadari keisengannya barusan.
"Parah loe!"
"Tapi beneran deh, mbak tukang jamu nya aduhai banget!" Timpal Dimas.
"Makanya loe buruan nyusul Bara, biar gak sembarang embat!" Sahut Adit.
__ADS_1
Sejak pulang dari apartemen, Raisa benar-benar tertidur hingga sore hari. Ia terbangun saat cacing caing di perutnya mulai berteriak.
Raisa memutar posisinya menghadap Bara yang juga tengah tertidur dengan posisi memeluknya dari belakang. Ia buru-buru mengambil posisi duduk, teringat kalau ia belum memasak apa pun setelah pulang dari apartemen.
"Sayang...."
Bara ikut terbangun karena gerakan spontan dari Raisa.
"Aku ketiduran! Padahal aku belum masak apa-apa, pasti Ricky belum makan juga!" Ucap Raisa panik.
"Kamu gak usah khawatir..., aku udah pesan makanan. Ricky juga udah makan. Dan dia lagi keluar bareng Adit," jelas Bara tersenyum tipis dengan mata yang masih setengah terpejam.
Raisa tertegun menatapi wajah suaminya yang tatap saja terlihat tampan tersebut. Ia kemudian kembali menjatuhkan tubuhnya di sisi Bara seraya memeluk. Bara membuka matanya sebentar, lalu kembali tersenyum dan membalas pelukan Raisa.
"Sayang...,kamu gak lagi pengen ngajak aku kan?" Tanya Bara.
"Apa?"
"Sepertinya jamu yang kamu minum tadi pagi, mulai menunjukkan reaksinya," ucap Bara dengan suara yang mulai terdengar aneh.
"Aku lapar!" Sahut Raisa cepat. Ia pun segera turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membasahi wajahnya, setelah itu ia pergi ke dapur untuk memeriksa bahan dapurnya.
Bara membuka matanya lebar-lebar lalu menyusul Raisa yang sudah lebih dulu meninggalkan nya.
"Sayang, ini kamu semua yang pesen makanan sebanyak ini!?"
"I iya, aku sengaja pesen banyak biar kamu gak repot-repot masak," jawab Bara. "Mungkin aja kamu masih capek, jadi kamu gak usah masak buat makan malam. Nanti makanannya tinggal di angetin aja sayang...."
Beruntung ia segera mendapat alasan yang masuk akal agar tidak di omeli.
Mereka pun akhirnya makan di piring yang sama karena Bara yang meminta.
"Sayang, nanti kalo Ricky udah dateng tolong suruh panggilin tukang urut yah!?" Pesan Raisa usai menyantap makan siangnya yang sudah kesorean.
"Buat apa? Aku baik-baik aja, dan aku gak perlu tukang urut. Aku di urut sama kamu aja udah cukup koq!" Sahut Bara seraya meletakkan gelasnya.
"Bukan buat kamu...! Tapi aku yang perlu!"
"Kamu keseleo?"
"Emang harus nunggu keseleo dulu baru manggil tukang urut!? Badan aku pegel-pegel semua..., jadi aku pengen di urut biar pegelnya ilang," jelas Raisa.
"Aku juga bisa jadi tukang urut dadakan."
"Nggak! Aku gak becanda yah! Selama aku di urut nanti kamu gak boleh masuk kamar!" Ancam Raisa sambil berlalu pergi ke kamarnya.
😂😂Gimana nih, kalian suka gak novel ini?
__ADS_1
Buktinya mana 😳🤣🙏